Senin04232018

Last update05:00:00 AM

Back Andalas Basko Dulu Diminta Pulang Kampung

Basko Dulu Diminta Pulang Kampung

Membaca judul berita utama Haluan, Jumat kemarin,”Basko “Dihabisi” di Kampung Sendiri”, mengingatkan saya pada sekian puluh tahun silam, ketika saya menjadi notulen Gubernur Sumbar Hasan Basri Durin (Alm) di ruangan kerjanya. Suatu hari, Gubernur Hasan Basri Durin terlibat pembicaraan dengan pemilik Universitas Jaya Baya Jakarta yang orang Pariaman. Namanya saya sudah lupa. Di ruangan itu hanya ada tiga orang saja. Pak Gubernur Hasan Basri Durin, pemilik Universitas Jaya Baya tersebut dan saya sebagai tukang catat hasil pembicaraan dua tokoh yang saya lihat sangat akrab ini.

Dari sekian banyak pembicaraan, satu hal yang menarik untuk tulisan ini, ketika pak Hasan mengatakan bahwa sahabatnya ini orang sukses di rantau, orang kaya raya, tapi satu hanya kurangnya, orang malas pulang kampung. Hal ini diutarakan pak Hasan dengan nada bergurau penuh tawa dan canda. Sekali itu saya melihat pak Hasan berkelakar seceria itu. Biasanya beliau orang yang serius, sulit berkelakar apalagi tertawa-tawa. Begitu habis pembicaraan pak Hasan, temannya ini langsung menjawab, bahwa bukannya dia tak mau pulang, namun hidup di kampung ini dia yang tidak pandai. Dia takut kalau nanti setelah pulang pula orang kampung benci. “ Jan-jan bisuak, alah dakek pulo mangko ka jauah. (Jangan-jangan besok setelah dekat pula maka berjauhan),” jawabnya lagi-lagi sambil bergurau dan tertawa-tawa penuh akrab.

“Kawan lihat Basrizal Koto. Dia seorang anak muda sukses di rantau, yang kini mau pulang membangun kampungnya. Dia telah mengatakan siap menanamkan investasinya di sini (Sumbar). Pertama dulu memang sama juga pemikirannya dengan kawan. Tapi setelah saya yakinkan berkali-kali  bahwa saya memintanya agar mau membangun kampung, agar mau menanamkan investasi di tanah kelahirannya, dia toh mau. Tapi dia kan lain dari kawan. Dia anak muda yang keras, tapi sangat hormat pada orang tua. Rendah hati. Kawan kan tak seperti dia. Mungkin karena kawan menganggap Hasan hanya orang yang sehari-hari di kampung saja. Tak pantas ucapannya didengarkan. Apalah hanya artinya seorang Hasan. Malah kawan menyebut saya si hitam, kan? Masih ingat, kan?”, tutur pak Hasan lagi-lagi tertawa. Bapak ini lantas berdiri dan mendapuk bahu pak Hasan, dan pak Hasan mengambil gelas ingin menumpahkan air ke wajah sahabatnya ini dengan penuh canda ceria. Pokoknya ruangan pak  Gubernur waktu itu terasa ramai sekali. Saya hanya menumpang tertawa-tawa kecil saja.

Dari pertemuan antara dua tokoh ini, satu hal yang ingin saya kemukakan, Basrizal Koto atau Basko menanamkan investasinya di Kota Padang, bukan karena Basko merengek-rengek minta menanamkan investasinya, tetapi diajak, diminta dan diinginkan oleh Pemerintah Provinsi Sumbar.

Terlepas dari persoalan benar atau salah dalam pelaksanaan eksekusi oleh Pengadilan Negeri Padang atas permintaan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divre Sumbar yang memenangkan perkara dengan pihak Basko di MA, yang hendak saya kemukakan di sini, adalah lagi-lagi persoalan ketulusan hati Basko dulunya menanamkan modalnya di kampung tanah kelahirannya.

Kalaulah dulu Basko tidak mau pulang kampung dalam artian membawa uangnya, mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini. Apa salahnya dia menginvestasikan uangnya di daerah lain di Indonesia. Bahkan di luar negeri pun tentu  banyak sekali negara yang menampung dengan tangan terbuka jika Basko mau menanamkan investasinya. Kini dapat kita bayangkan, betapa tersayat-sayatnya hati seorang Basko ketika di kampung sendiri dia seperti dipermalukan. Padahal di rantau orang belum pernah dia mengalami hal seperti ini.

Yang jadi pertanyaan kita tentunya, adakah usaha Pemerintah Provinsi Sumbar dan Pemerintah Kota Padang sebagai pihak yang menerima pemasukan pajak dari usaha Basko ini menengahi sengketa antara PT KAI yang nota benenya adalah pemerintah atau BUMN dengan Basko yang adalah swasta murni? Bukan ada niat sedikitpun untuk mengecilkan, jika dihitung-hitung, mungkin jauh lebih banyak pemasukan keuangan ke Pemerintah dari Basko dibandingkan oleh PT KAI Divre Sumbar. Demikian pula tentang penyerapan tenaga kerja dalam upaya mengurangi pengangguran. Itu kalau persoalan ini ditengahi pihak Pemerintah Sumbar dan Pemerintah Kota Padang. Tapi kalau dilihat seratus persen dari kacamata hukum positif, tentu tidak akan mempedulikan itu sama sekali. Walaupun ada yang disebut hukum kepatutan. Yang jelas kalau di ranah hukum, yang ada hanyalah hitam dan putih. Kalah dan menang.

Kini, jika kita coba merenungkan, kerugian secara moral bagi seorang Basko jauh lebih besar dibandingkan kerugian materil. Sebab, ke manalah wajahnya akan dia sembunyikan, ketika teman-temannya di provinsi lain di Indonesia menanyakan, kok Basko seperti ini di kampung halamannya sendiri.

Jika kita runut sedikit ke belakang, Basko adalah seorang lelaki yang sangat suka bekerja keras, terlahir dari kedua orang tua yang sederhana, dan masa kecilnya hidup dalam keprihatinan. Dalam buku saya berjudul, ”Rahasia Bisnis Orang Padang” yang terbit tahun 2011, pada bab “Kisah Inspiratif Pengusaha Sukses Asal Padang”, satu di antara sekian banyak pengusaha yang saya tulis di sana, tentang Basrizal Koto, di samping Abdul Latif, Muhammad Arbie, Fahmi Idris, Rahimi Sutan dan yang lainnya.

Ketika buku ini telah memasuki masa edar sekitar tiga bulan di seluruh Indonesia, banyak sekali SMS, Facebook, Email dan telepon dari pembaca di seluruh Indonesia yang memuji dan merasa terkagum-kagum dengan pengusaha sukses Basko yang sampai kepada saya. Antara lain karena dia orang yang tahan banting, suksesnya berasal dari kemiskinan. Malah sampai pernah makan sekali sehari karena miskin.  Dari Papua, Jakarta, Kalimantan dan berbagai pelosok tanah air lainnya, berdatangan komentar tentang Basko kepada saya.

Dari seminar-seminar Basko sebagai pembicaranya dan dari beberapa kali perbincangan saya dengan Basko, seperti suatu kali saya berbincang hangat dengannya di salah satu restoran di Padang Panjang, memang modal utama Basko bukanlah karena orang tuanya kaya raya, bukan pula karena suntikan dana dari pihak pemerintah ketika dia masih miskin, tetapi karena kegesitannya, karena keuletannya dan karena keras hatinya bergulat dengan keadaan demi sebuah cita-cita masa depan lebih baik.

Melihat fenomena yang dialami Basko ini, teringat pula saya kepada pembicaraan Soerkani (Alm) dalam acara pisah sambut ketika dia mengakhiri masa jabatannya sebagai Wakil Gubernur Sumbar.
Dari sekian lama Soerkani berbicara, yang kadang-kadang wajahnya menengadah ke langit-langit ruangan Aula Kantor Gubernur Sumbar, satu hal yang tercatat di kepala saya adalah ketika Soerkani yang kurang lebih mengatakan bahwa dulu dia sudah senang di Medan sebagai Walikota. Dia di sana dihormati dan merasa sangat tersanjung di rantau orang. Tetapi ketika dia sedang enak-enaknya di Medan, tiba-tiba ada yang meminta agar dia mengabdikan diri di kampung halamannya Sumatera Barat. Saya lupa, entah Gubernur Harun Zein yang memintanya pulang atau yang lain. Namun kata Soerkani, setelah dia pulang kampung, dia merasa seperti tidak dipedulikan. Bahkan terkesan tidak disenangi, malah. Padahal dia pulang benar-benar karena sayang ke kampung tanah kelahirannya. Bukan untuk yang lain-lain. Tidak banyak pak Soerkani bicara tentang hal ini, tapi bagi saya sangat besar artinya. Apalagi bila dikaitkan dengan yang dialami Basko sekarang.

Namun kita tentu tidak menginginkan Basko patah arang terhadap kampung halamannya karena peristiwa ini. Sebab Sumbar sudah barang tentu sangat mengharapkan pak Basko tetap mau menanamkan investasinya di daerah ini. Setidaknya, karena membutuhkan pajak untuk membiayai pembangunan dalam upaya mensejahterakan rakyat. Di samping itu,  banyaknya penyerapan tenaga kerja di perusahaan Basko ini, tidak sedikit pula sumbangannya terhadap uyapa pengurangan pengangguran di daerah ini. Itu baru dilihat dari dua sisi saja. Belum lagi dari sisi lain. Bertahanlah pak Basko. Bertahanlah. Allah swt, pasti tahu. ***(Bustami Narda)

Share