Selasa07252017

Last update05:00:00 AM

Back Batam Digusur, Warga Tanjunguma Pasrah

Digusur, Warga Tanjunguma Pasrah

tanjung umaBATAM (HK) - Penggusuran warga rumah liar (Ruli) di kawasan Kampung Bukit Timur, di Kelurahan Tanjunguma, yang dilakukan tim terpadu berjalan aman lancar dan terkendali, Kamis (18/5) pagi.

Ratusan warga yang menempati lahan, hanya bisa pasrah saat alat berat meratakan rumah mereka. Sebab warga sadar lahan tersebut bukan milik mereka. Lahan tersebut sudah dialihkan oleh pihak terkait ke pengembang.

Proses eksekusi lahan untuk pembangunan rusun, serta perusahaan tersebut berlansung dalam guyuran hujan, menggunakan beberapa unit alat berat dan dikawal oleh ratusan personel pengamanan yang terdiri dari Anggota Ditpam BP Batam Satpol PP, Polri dan TNI.

Sebelum tim bergerak, anggota Sabhara Polresta Barelang nampak melakukan pengumuman, agar warga mengosongkan lahan disampaikan melalui pengeras suara.

"Kepada seluruh warga RT 03, 04, dan 05, untuk segera meninggalkan rumah, karena alat berat berupa kobelco serta buldozer akan segera bergerak untuk meratakan lahan ini. Dari pada nantinya bapak ibu terkena reruntuhan material
maka kami menghimbau agar segera meninggalkan lahan," kata salah seorang polisi dengan alat pengeras suara tersebut.

Ketika eksekusi dilakukan, sebagian warga hanya terlihat bingung, dengan batas wilayah yang akan digusur. Bahkan, warga tidak mengetahui kalau rumahnya ikut diratakan dengan tanah.

"Hingga hari ini, kami belum dapat surat pemberitahuan atas penggusuran ini. Makanya, sebagian warga heran dan kebingungan. Sehingga, mereka hanya bisa pasrah serta terdiam maupun tidak mampu melawan para petugas itu," ungkap Ramlan, warga RT 04.

Kedatangan tim terpadu dengan sejumlah alat berat, untuk mengeksekusi lahan secara mendadak. Beberapa warga Bukit Timur mencoba melobi tim terpadu, agar warga diberikan tenggat waktu. Namun, hal tersebut sudah tidak memungkinkan lagi.

"Kami tidak akan melawan, lagian kami tahu ini bukan lahan kami. Kami hanya minta tenggat waktu sebelum dilakukan penggusuran ini, lantaran sebelumnya kami tidak dapat informasi," harap seorang ibu dengan memohon.

Kemudian, warga meminta kepada tim terpadu untuk menyediakan transportasi agar barang-barang mereka bisa diangkut ketempat lain. Setelah berkoordinasi akhirnya pihak perusaan menyetujuainya.

"Lobi lobi bukan menantang eksekusi yang dilakukan. Namun, warga meminta pihak perusahaan menyediakan angkutan untuk membawa barang mereka ke tempat baru," ungkap Andi, seorang anggota tim terpadu.

tanjung umaAdapun permintaan warga berikutnya kepada tim terpadu adalah, supaya polisi tidak bertindak brutal seperti langkah eksekusi lahan Tanjunguma sebelumnya. Apalagi dengan menggunakan gas air mata.

"Penggusuran ini jangan pakai gas air mata ya pak, disini banyak anak anak. Kasihan anak-anak kami kena gas air mata itu, bahkan hingga mereka tidak bisa bernafas," jelas seorang ibu yang sedang menggendong balitanya.

Namun, sebagian warga ada yang tak terima penggusuran yang mendadak itu, sehingga penertiban di Bukit Timur tersebut nyaris ricuh. Soalnya, warga panas dengan penertiban di bagian atas lahan (RT 3 serta RT 4), yang belum tuntas. Tetapi, kok tiba tiba saja masuk ke kawasan rumah warga (RT 5) yang berada di bagian bawah.

"Yang di atas dulu diselesaikan semua. Kenapa tiba-tiba mengarah ke bawah. Kami ini bukan binatang, kok enak saja kalian main gusur. Berundingpun tidak, surat pemberitahuan pun tidak ada," teriak satu diantara warga RT 5 menolak petugas tim terpadu untuk masuk ke kampung mereka tersebut.

Menurut warga, tidak ada pemberitahuan kepada mereka atas ada penertiban hari ini. Warga hanya mengetahui penertiban di kawasan pertama saja (RT 03 dan RT 04), itu pun belum selesai.

"Yang di RT 03 dan RT 04 saja belum selesai, kenapa mereka kemari. Nggak ada apa-apa, kok tiba-tiba saja mau meruntuhkan rumah kami," kata Sarbiah.

Kami pun kaget, ungkap warga lainnya, yang tiba-tiba melihat banyak petugas berpakaian lengkap datang untuk menggusur mereka. "Ini ada apa. Bahkan RT kami pun tidak tahu soal ini," ujar warga lainya.

Ibu yang berumur hampir 60 tahunan itu berharap penertiban di tempat mereka dapat dilaksanakan dilain waktu. Mengingat, banyaknya anak-anak warga yang tengah mengikuti ujian masuk sekolah. Ditambah lagi, segera memasuki Bulan Suci Ramadhan.

"Kalau mau menggusur, kami dikasih tau lah awal pak, jangan secara tiba tiba saja. Sebab, banyak anak-anak di sini yang mereka masih ujian. Sebentar lagi pun akan berpuasa. Kami ini masih manusia juga," ungkap Sarbiah, berharap. (vnr).

 

Share