Senin11202017

Last update05:00:00 AM

Back Batam Beraksi di Batam Dibekuk di Bintan

Beraksi di Batam Dibekuk di Bintan

ekspose hipnotisSepasan Pelaku Hipnotis Kuras Harta Korban Hingga Rp500jt

BATAM (HK) - Sepasang pelaku penipuan bermoduskan hipnotis, Yanto alias Huang, alias Ahui (44) bersama Agustini alias Ani (27), berhasil dibekuk jajaran Polsek Lubukbaja di Kabupaten Bintan. Pelaku beraksi di Batam dengan menguras korban hingga Rp500 juta, pada Minggu (3/9).

Penangkapan kedua pelaku asal Selat Panjang ini, setelah kepolisian menerima laporan dari korbanya bernama Tjahyati, yang mengalami kerugian berupa perhiasan emas, dan mata uang dolar Singapura dengan total nilai Rp350 juta.

Kapolresta Barelang, Kombes Pol Hengki Sik MH, didampingi Kapolsek Lubuk Baja Kompol M Chaidir Sik mengatakan, penangkapan kedua pelaku penipuan tersebut setelah dilakukan pengembangan atas laporan yang dibuat salah satu korbannya bernama Tjahyati, seorang warga keturunan Cina di daerah Winsor.

"Setelah Yanto alias Huang alias Ahui, dan Agustini alias Ani ini berhasil kami tangkap, ternyata korbannya itu bukan saudari Tjahyati saja. Tetapi masih ada korban lainnya di ada Batam, bahkan hingga korban yang tinggal di Jakarta," sebut Hengki ke awak media, Selasa (12/9), saat ekspos di Mapolresta Barelang.

Dijelaskan kejadian bermula pada awal Bulan September 2017 ini, ketika si korban sedang berjalan pagi di Kawasan Pasar Penuin, Nagoya. Kala itu salah satu pelaku (Ani), mendekati korban dan berpura-pura menanyakan apakah korban itu mengetahui tempat berobat Tradisional China (Shinse), untuk mengobati suaminya yang tengah sakit.

"Inilah modusnya. Pelaku Ani mendatangi korban berpura-bura untuk bertanya kepada korban, dimana tempat shinse atau tempat untuk mengobati suaminya. si korban mengaku tidak tahu. Tidak lama kemudian, pelaku lainnya, Lili (DPO) datang menghampiri korban dan pelaku, yang tengah pura-pura ngobrol dengan korban untuk menawarkan pengobatan melalui shinse," ungkap Hengki.

Dengan trik yang meyakinkan, papar Kapolresta, pelaku Lili ini langsung beraksi dengan mengatakan kalau korban (Tjahyati) juga kelihatan tidak sehat ataupun sedang sakit. "Sehingga Tjahyati ikut terpedaya," paparnya.

"Ini modus lagi, ke 2 pelaku ini pura-pura tidak saling kenal. Yang ceritanya itu, karena kebetulan serta saling mencari tempat pengobatan tradisional shinse," papar Kombes Hengki.

Dari perkenalan tersebut, imbuh Hengki, si korban mulai terpedaya. Kemudian pelaku Lili ini menanyakan apakah korban ada membawa kendaraan agar bisa pergi ke tempat pengobatan shinse tersebut, di tapekong.

"Korban menjawab tidak bawa kendaraan. Dengan mantap, pelaku Lili lansung menghubungi pelaku Yanto, agar datang menjemput pelaku Ani, Lili dan korban. Setelah tiba, di dalam mobil itu juga sudah ada pelaku lainnya bernama Akuang (DPO)," imbuh Hengki.

Nah, ujar Kapolresta, setelah Tcahyati masuk ke dalam mobil, barulah pelaku memperdaya korban dengan mengatakan bahwa harta yang dimilikinya harus dibersihkan. "Si pelaku Akuang ini, berperan sebagai suhu. Mereka ini keturunan Tionghoa, juga sama dengan korban. Kemudian korban disuruh mengambil hartanya agar disucikan," terang Hengki lagi.

Karena sudah terhipnotis, imbuhnya, kemudian para pelaku mengantar korban ke rumah, mengambil semua perhiasan emas dan uang simpanan korban agar dibawa ke klenteng, untuk disucikan.

"Saat itulah para pelaku itu beraksi, dengan mengambil emas dan uang yang disimpan korban dalam tas, serta menggantinya dengan satu kantong plastik warna hitam yang berisikan paku, dan jarum," ungkap Kapolresta Barelang.

Yang menukar emas korban dengan kantong plastik berisi paku dan jarum itu, adalah Akuang. "Setelah itu korban ditinggal kabur. Setelah itu barulah korban sadar bahwa ia telah diperdaya," imbuh Kapolresta lagi.

Kapolsek Lubukbaja Kompol M Chaidir menambahkan, berdasarkan informasi yang diterima oleh pihak kepolisian dan termasuk pengakuan kedua pelaku itu, penipuan bermoduskan hipnotis ini tidak hanya dilakukan di Batam, melainkan juga dilakukan di Pulau Jawa, dengan modus yang sama.

"Mereka ini merupakan sebuah jaringan penipuan bermoduskan hipnotis yang tidak saja beroperasi di Batam dan Jakarta. Akan tetapi juga beraksi di dearah lainnya," tambah Kompol M Chaidir.

Dari informasi yang sudah kita terima sementara, tukas Kapolsek, hingga saat ini diperkirakan dari 5 korban penipuan hipnotis, para pelaku sudah menguras harta korbannya hingga total kerugian mencapai Rp2 miliar. (vnr).

 

Share