Sabtu10212017

Last update05:00:00 AM

Back Batam Aset CV Prima Segera Disita

Aset CV Prima Segera Disita

PN Batam Antarkan Surat Pemberitahuan

BATAM (HK)- Pengadilan Negeri (PN) Batam segera menyita seluruh aset CV Prima Asia yang tersebar di Kota Batam, Rabu (11/10). Aset-aset yang akan disita tersebut berupa sejumlah rumah toko (ruko), hotel dan rumah tinggal.
Sita tersebut dilakukan sehubungan putusan Makamah Agung (MA) nomor 3007 yang sudah berkekuatan hukum tetap (inkrah). Hal itu setelah tim auditor independen melakukan audit terhadap seluruh aset CV Prima Asia yang nilainya mencapai miliaran.

Pihak CV Prima Asia memiliki waktu 70 hari untuk menanggapi surat penyitaan itu. Jika lewat 70 hari tidak ada tanggapan maka aset-aset tersebut dilelang dan hasilnya dibagi berdasarkan putusan MA.

"Tenggat waktu penyitaan ini selama 70 hari. Jika tak ada pembicaraan antara pihak penggugat, Taw Kining (Komisaris) dengan tergugat, Hoi Fat (Direktur), CV Prima Asia, maka semua aset akan dilelang oleh pengadilan. Lalu hasilnya akan dibagikan sesuai amar putusan MA yakni 40 persen untuk penggugat dan 60 persen untuk pihak tergugat," kata pihak pengadilan negeri Batam.

Pantauan Haluan Kepri, sebelum penyitaan dilakukan tim dari PN Batam berkoordinasi dengan RT dan RW setempat. Penyitaan pertama dilakukan terhadap 2 unit ruko tiga lantai di kawasan Centre Poin, kemudian Hotel Prima Asia di kawasan Nagoya 2000, tiga unit ruko di kawasan Penuin yang selama ini digunakan untuk massage Indo Thai, rumah dua unit di kawasan Penuin Blok J No 10-11, dua unit ruko di kawasan Nagoya Newtown no 6-7 yang selama ini digunakan untuk percetakan CV Prima.

Sebelumnya PN Batam memanggil dua petinggi CV Prima yang berseteru yakni Direktur CV Prima Patrick Pangestu alias Hoi Fat dan dan Komisaris Taw Kining (adik ipar).

Panggilan ini untuk mengklarifikasikan, perseteruan mereka yang sudah berlangsung sejak lama. Bahkan Taw Kining beberapa kali tersandung masalah akibat laporan yang dibuat oleh Patrick Pangestu bersama istrinya.

Alhasil setelah perseteruan tersebut, Taw Kuning dikalahkan di PN Batam, namun setelah ajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Pekanbaru Taw Kining dimenangkan. Tidak terima kalah kemudian Patrick ajukan kasasi yang kemudian permohonan kasasinya ditolak oleh Mahkamah Agung.

Atas hasil tersebut, maka Taw Kining berhak atas 40 persen dari penghasilan CV Prima. Dimana saat ini diketahui bahwa Taw Kining, adalah pemilik dari Hotel Prima Asia, IndoThai massage, ruko dan rumah 2 lantai di bilangan Penuin.

Dan atas putusan tersebutlah, PN Batam memanggil Patrick Pangestu untuk memberikan peringatan kepada Patrick Pangestu untuk menjalankan hasil putusan secara sukarela. Sehingga jika diberlakukan putusan, maka Taw Kining berhak 40 persen atas semua aset dan keuntungan dari CV Prima.

Direktur CV Prima Asia Hoi Fat alias Patrick Pangestu mengatakan, terkait apa yang akan dilakukan oleh pihak Pengadilan Negeri(PN) Kota Batam itu tidaklah benar. Sebab dia mengaku telah memenangkan perkara itu di Makamah Agung (MA), dan telah melakukan amar sesuai petunjuk putusan MA tersebut.

"MA telah menerima Kasasi yang kami ajukan, dan menang. Jadi, apa hal yang disampaikan pihak penggugat(Taw Kining) melalui Pengadilan Negeri Batam itu  tidak lah benar. Enak saja mau mengambil aset aset kami, mana bisa," ungkap Patrick.

Patrick mengakui, bahwa penggugat itu adalah adik iparnya, yang pernah join bisnis sejak nol di Batam. Namun, bukan berarti usaha yang dimiliki nya, yang hingga berkembang besar itu adalah juga milik Taw Kining.

"Waktu pertama membuka Cv Prima Asia ini, kami bermodalkan Rp100 jutaan. Untuk mengurus izin Cv saya(sebagai kakak ipar) meminjam nama Taw Kining dengan modal usaha awal saya Rp 60 juta, serta Rp40 dari Taw Kining. Tetapi kemudian pecah kongsi, malas, dan tidak mau bekerja lagi," ungkap Patrick.

Sekarang paparnya Direktur CV Prima Asia, ujuk-ujuk Taw Kining meminta aset sejumlah 40 persen setelah usaha kami berkembang pesat, ya mana bolehlah. "Kalau memang mau di sita, kami akan perjuangkan hingga tuntas dan hingga tetes darah pengabisan. Sebab kami tidak terima atas kesalahan pengadilan ini," pungkasnya.

Perkara tersebut terkait kepemilikan saham 40 persen yang dituntut Taw Kining dari CV Prima Asia. Dalam perkara itu, yang bersangkutan menjabat sebagai Komisaris. Dan dalam perkara tersebut, Taw Kining ini sebagai pihak temohon.

"Seperti dikutip dari situs resmi MA itu, perkara dengan Nomor Register 3007 K/PDT/2014, dengan pemohon Hoi Fat alias Patrick Pangestu dalam Amar Putusan dituliskan DITOLAK," tegas pihak pengadilan. (sfn)

Share