Senin04232018

Last update05:00:00 AM

Back Batam Tarian Erotis di Engku Putri Batam

Tarian Erotis di Engku Putri Batam

penari erotisPolisi Tetapkan 5 Tersangka

BATAM (HK)- Aksi tarian erotis yang ditampilkan tiga wanita seksi dalam acara Pesta Rakyat oleh Ormas Penjaga Marwah Rudi (PMR) di Dataran Engku Putri, Batam Centre, Sabtu (14/4) lalu berbuntut panjang. Aparat kepolisian akhirnya menetapkan lima orang tersangka. Mereka adalah dua orang dari Ormas PMR berinisial, H dan A dan tiga lainnya merupakan panari erotis berinisial H, R dan N.

Kasat Reskrim Polresta Berelang, AKP Andri Kurniawan mengatakan, pihaknya telah memeriksa sejumlah panitia terkait dengan kegiatan tersebut. Dari hasil penyelidikan sementara, lima orang ditetapkan sebagai tersangka.

"Setelah kami lakukan pengembangan, kami telah menetapkan lima tersangka dalam kasus ini. Kelima tersangka itu, dua orang pengurus ormas PMR dan tiga lainnya merupakan penari," kata Andri, Senin (16/4).

Kedua tersangka dari Ormas PMR dijerat Undang-Undang pornografi karena telah menggelar tarian erotis di muka umum. Dua orang tersebut terancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.

"Sangkaan pasal Undang-Undang Pornografi yang di dalamnya juga terdapat pornoaksi. Ancaman maksimal 10 tahun penjara. Begitu juga dengan ketiga penari juga dijerat UU No 44 tahun 2014 tentang pornografi pasal 34 dengan ancaman 10 tahun penjara," ujarnya.

Kata Andri, penetapan kelima orang tersangka itu juga berdasarkan hasil gelar perkara. Dalam kasus ini, Andri berjanji pihaknya tetap mengusut kasus ini hingga tuntas. Disinggung kemungkinan ada tersangka baru, Andri mengaku tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka lagi. Namun demikian semua itu tergantung  dari perkembangan penyidikan kedepannya.

Seperti diberitakan sebelumnya, tarian erotis tersebut menjadi viral setelah videonya tersebar secara luas di media sosial. Dalam video berdurasi 41 detik itu terlihat tiga wanita seksi berpenampilan minim melenggak- lenggok. Mereka menari di sebuah mobil keluaran terbaru dengan mengumbar aurat. Tarian erotis itu diramu dalam acara 'Sexy Dancer Bike Wash'.  Pertunjukan tarian erotis itu merupakan rangkaian acara yang digelar dalam pesta rakyat oleh Ormas PMR.

Pegelaran tarian erotis itu juga menuai banyak kritikan. Selain MUI,  Ketua Forum Ulama Indonesia (FUI) Kota Batam, Didi Suryadi pun mengkritik karena kegiatan tersebut di tengah peringatan Isra Mir'aj.

Didi Suryadi menyampaikan akibat dari kejadian tersebut FUI merasa tertampar karena pada saat acara itu dilangsungkan juga berbarengan dengan sempena Isra' Mi'raj.

"Orang sedang peringatan Isra' Mi'raj malah ada perayaan ini. Saya kira kejadian ini mudah-mudahan menjadi pelajaran berharga terhadap kita, kami merasa dikangkangi karena dinilai tidak pernah membina umat, padahal setiap jumat kita dakwah," ujarnya.

Kedepannya, ia berharap setiap kegiatan yang dilakukan dapat dikomunikasikan kepada pemuka adat dan agama yang ada di Batam. Ketua MUI Kota Batam, KH Usman Ahmad juga meminta masyarakat untuk tidak mudah terpancing dan bertindak di luar hukum.

"Saya mengimbau seluruh komunitas di Batam dan Kepri, marwah negeri harus dihargai, di mana buma dipijak disitu langit di junjung. Kami semua di Batam memerlukan suasana kondusif, sama menjadi Batam, damai dan tentram," ujar KH Usman.

Ia pun meminta umat Islam memaafkan para panitia pesta rakyat yang menyuguhkan tarian erotis tersebut. Namun pihak MUI mempersilakan proses hukum tetap berjalan.

"Sudah ada permintaan maaf maka MUI mengimbau umat Islam untuk memaafkan. Namun demikian terkait konsekuensi yang bersifat pidana di luar dari konteks hari ini, proses hukum tidak dapat diganggu gugat," ujarnya di Mesjid Raya Batam Center, Ahad (15/4).

Sementara Ketua Ormas PMR, Aksa Halatu mengaku sebagai penanggung jawab acara, ia meminta maaf atas segala kekhilafannya kepada umat muslim di Batam. "Ini pukulan telak bagi saya, saya minta maaf yang sebesar-besarnya bagi umat Muslim di Kota Batam atas acara itu," ujarnya.

Disebutkannya, acara pesta rakyat itu merupakan gabungan PMR dengan komunitas motor NVLF dan agenda Sexy bike wash merupakan agenda dari NVLX. Agenda acara tersebut sekaligus acara pelantikan pengurus Penjaga Marwah Rudi (PMR). Pihaknya menyetujui agenda itu dapat dilakukan berdasarkan penjelasan dari pihak NVLF bahwa mereka tidak mendatangi penari yang berpakaian fulgar.

"Kami setuju karena yang kami tau penari-penarinya berpakaian sopan, tapi pada kenyataannya mereka berpakaian yang sangat vulgar. Agenda PMR itu hanya tiga yaitu senam zumba, pengobatan gratis, dan pelantikan pengurus PMR, di luar itu agenda NVLF, setelah pelantikan di lantai IV kantor Walikota Batam, saya turun ke bawah menuju lapangan dan ada penari-penari itu, saya masih manusia berdosa makanya sempat tergoda ikut menari dan setelah itu saya sadar dan mengambil selang menyiramkan para penonton agar pergi dari situ," katanya.

Sedangkan pihak komunitas NVLF yang diwakilkan oleh penasehat, Hendra Saputra juga menyampaikan maaf yang sebesar-besarnya masyarakat Batam. Ia mengakui  Sexy Bike Wash menjadi agenda kegiatan perayaan ulang tahun ketiga komunitas NVLF.

"Tapi kami tidak tahu kalau mereka akan tampil dengan pakaian seperti itu, itu diluar kendali kami, untuk itu kami mohon maaf sedalam-dalamnya," ujar Hendra.

Tak Tahu

Walikota Batam, Muhammad Rudi mengaku tidak mengetahui kegiatan tarian erotis di Dataran Engku Putri tersebut. Rudi mengaku agenda tersebut di luar agenda PMR. Agenda tersebut hanya berisi pelantikan pengurus PMR, Bakti Sosial dan Pesta Rakyat.

"Pelantikan betul ada di sini (Kantor Wali Kota Batam), tapi kegiatan tarian-tarian itu, kalau kami tahu tentu kami tidak izinkan, saya juga memang tidak tau kegiatan itu," ujar Rudi di Kantor Wali Kota Batam, Senin (16/4).

Selain menyesalkan tarian erotis itu, Rudi juga menyampaikan bahwa pada malam harinya juga banyak ditemukan plastik-plastik yang tidak boleh digunakan di tempat tersebut. Maka untuk kedepannya, setiap kegiatan yang akan dilaksanakan di Dataran Engku Putri, akan diseleksi secara ketat agar kejadian itu tidak terjadi lagi," ujarnya. Ia mengatakan kedepan agenda di Engku Putri akan diseleksi lebih ketat.

"Karena sekretariat di bawah Pak Sekda, bukan acara saja, mudah-mudahan diseleksilah sama Pak Sekda," katanya.

Untuk penggunaan nama Rudi pada ormas PMR, Rudi mengaku bahwa dirinya tidak masuk dalam ormas tersebut karena dalam akta pendirian organisasi tidak ada disebutkan nama Rudi. Dan setelah kejadian ini, ia sudah menyurati pihak PMR agar nama Rudi tidak boleh dipakai lagi.

"Nama Muhammad Rudi tidak boleh dipakai lagi, itu hak prerogatif saya, untuk membubarkan ormas itu bukan hak saya, biar menjadi ranah pengadilan,sebelumnya memang saya sudah ragu-ragu dengan adanya ormas ini, tapi karena masyarakat tentu kita coba lindungi," katanya.

Terkait laporan kepada kepolisian, Rudi mengatakan bukan dirinya yang melaporkan, namun dari Forum Pembauran Kebangsaan sudah lebih dulu dan lagi pula menurutnya ia tidak dirugikan. Dan pihak panitia pelaksana beserta Event Organizer (EO) yang menjadi pihak terlapor.

"Kalau saya lapor berarti nama saya dirugikan tentu tidak rugilah, apa ruginya sama saya, kan hanya isu berkembang aja, lagipula tidakpun ada yang melapor kepada pihak kepolisian, dari kepolisian dapat bertindak tanpa laporan karena itu menyangkut porno aksi," katanya. (put/sdm)

 

Share