Sabtu11182017

Last update05:00:00 AM

Back Batam SPBU Simpang Jam Terancam Direlokasi

SPBU Simpang Jam Terancam Direlokasi

BATAM CENTRE- Keberadaan SPBU di Simpang Jam Baloi terancam direlokasi. Pasalnya, kawasan tersebut termasuk pembangunan jalur lambat dari Batuampar menuju Simpang Kabil. Relokasi bangunan tersebut sudah masuk dalam perencanaan dan pengkajian Otorita Batam (OB).     

Kasubbag Humas Otorita Batam (OB) Dendi Gustinandar menjelaskan, dalam membangun jalur lambat ada sebagian bangunan yang akan terkena dampak langsung pembangunan. "Relokasi bangunan penting, seperti SPBU baru dilakukan saat jalan jalur lambat akan difungsikan secara keseluruhan. Jadi, relokasi SPBU diperkirakan baru akan terjadi beberapa tahun ke depan," ujar Dendi di Kantor OB, Jumat (21/5).

Soal relokasi SPBU masih belum diputuskan OB. Menurut Dendi, untuk memindahkan bangunan dengan jumlah investasi yang besar itu tentunya tidak gampang dan mudah. OB perlu melakukan pengkajian dan memutuskan hal yang terbaik, agar relokasi seluruh bangunan atau pun SPBU tidak bermasalah di kemudian hari.

"Pemindahan bangunan tetap dilakukan, tapi dengan cara yang persuasif dan tidak merugikan pihak lain," katanya. Ia menjelaskan, pembangunan jalur lambat yang dipersiapkan dari Simpang Kabil-Simpang Jam ini merupakan tahapan dalam mengantisipasi rencana pembangunan jalan tol Batuampar-Mukakuning dan Mukakuning-Bandara Hang Nadim. Jalan jalur lambat ini selanjutnya akan dibangun hingga ke Batuampar.

Sementara jalan yang akan dijadikan jalan tol sendiri adalah jalan dua jalur yang ada sekarang. Jalan dua jalur yang digunakan sehari-hari itu tinggal dibangun ulang dengan standar dan kualitas jalan tol.

"Jalan tol siap beroperasi, jalan jalur lambat yang dipersiapkan juga siap untuk digunakan," tambah Dendi.Kepala Dinas Tata Kota Kota Batam Gintoyono mengungkapkan, rencana pengembangan infrastruktur modern, seperti jalan tol sekaligus penambahan jalan jalur lambat akan berdampak pada bangunan yang sudah ada.

"Ini menjadi masalah bagi Dinas Tata Kota untuk menertibkan bangunan. Selain itu, rumah warga yang terkena pelebaran jalan juga akan menjadi persoalan dalam menentukan kawasan tempat tinggal baru mereka," terang Gintoyono.(sm/rl)

Share