Minggu05282017

Last update05:00:00 AM

Back Batam Si Codet Minta Maaf , Pemerkosa 11 Gadis Cilik di Batam dan Bali

Si Codet Minta Maaf , Pemerkosa 11 Gadis Cilik di Batam dan Bali

DENPASAR-Tersangka pelaku pemerkosaan 11 gadis cilik di Batam dan Bali, Mochammad Davis Suharto alias Si Codet (30) menyampaikan permohonan maaf kepada para korban dan keluarganya. Ia mengaku siap dihukum mati atas perbuatan bejatnya itu.

Permintaan maaf itu disampaikan Si Codet secara terbuka melalui media massa saat akan diperiksa kondisi psikologisnya oleh Biro Psikologi Polda Bali di Denpasar, Bali, Senin (24/5). "Kepada korban, keluarga korban, saya mohon dari dalam hati nurani yang paling dalam, aku minta maaf," ujar Si Codet dengan berlinang air mata kepada wartawan di press room Polda Bali. "Saya mohon sekali untuk memaafkan saya, dan saya terima apapun hukuman yang saya terima," tambahnya.

Selama lebih dari sepekan dalam tahanan Polda Bali, Si Codet mengaku terus menyesali perbuatannya dan merasa sangat berdosa telah melakukan tindakan yang sangat keji. Ia kini baru sadar jika perbuatannya telah merusak masa depan para korbannya. Ia mengaku tega melakukan perbuatan bejat tersebut karena didorong bisikan dari makhluk gaib yang meminta 10 kesucian gadis yang belum ternoda.

"Saya merasa orang di dunia ini paling besar dosanya. Tiap hari saya berdoa apakah Tuhan akan mengampuni saya," katanya. "Di sel banyak teman-teman saya yang prihatin (dengan saya), tapi yang patut dikasihani adalah korban-korban kekejian saya," tambahnya.

Ia pun meminta kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), para pejabat maupun orang-orang yang mampu agar memperhatikan nasib para korbannya. "Saya mohon kepada Bapak Presiden dan pejabat negara dan seluruh rakyat Indonesia yang diberi harta kekayaan untuk terketuk pintu hatinya memberikan santunan kepada korban," ujarnya.

Si Codet menyatakan siap dihukum mati jika itu bisa membayar kesalahannya. "Saya akan menerima seikhlasnya, kalau ada yang menginginkan saya dieksekusi, kalau Tuhan mengampuni dosa saya dan keluarga korban memaafkan saya, saya akan menerimanya," katanya.

Anehnya, meski menyatakan siap dihukum mati tapi Si Codet mengaku takut saat banyak orang berkata akan memotong-motong kemaluannya. "Waktu pertama kali masuk (Poltabes Denpasar) (kemaluan) saya akan dipotong kecil-kecil dan dibuat sate codet," ujarnya. "Banyak sekali yang bilang," tambah dia saat ditanya mengenai siapa yang memberi ancaman itu.

Saat pertama kali Si Codet diperlihatkan kepada wartawan pada jumpa pers di Poltabes Denpasar, minggu lalu, sejumlah keluarga korban memang tampak emosi dan menebar ancaman kepadanya. Bahkan, ada yang hendak menghakimi sendiri. Namun, hal itu dicegah oleh sejumlah aparat Poltabes Denpasar.

Tes psikologi atau kepribadian yang dilakukan oleh Biro Psikologi Polda Bali terhadap Si Codet guna mengetahui bagaimana kepribadian tersangka sehingga tega berbuat hal keji kepada sejumlah gadis cilik. "Pemeriksaan ini untuk mengetahui kepribadian tersangka dan latar belakang terkait kesukaannya terhadap anak di bawah umur, kemudian dia memberi pelayanan (pijat) plus-plus kepada cowok," ujar Kepala Bidang Humas Polda Bali Kombes Gede Sugianyar Dwi Putra.

Sebelumnya, tersangka juga sudah menjalani serangkaian pemeriksaan kejiwaan di Rumah Sakit Bhayangkara Trijata Polda Bali. Namun, hasilnya sampai saat ini belum diketahui karena masih ada observasi lanjutan. "Setelah ini akan diobservasi di rumah sakit dan dia akan menginap selama tiga hari. Kalau psikologi dari sisi kepribadian, dari psikiater diperiksa kejiwaannya," tambah Sugianyar.

Si Codet diduga memperkosa lima bocah perempuan di Bali pada awal tahun 2010 serta enam gadis cilik di Batam pada pertengahan tahun 2009. Ia sempat menjadi buronan Polda Kepri dan dimasukkan dalam daftar pencarian orang (DPO) sebelum akhirnya berhasil ditangkap Polda Bali seminggu yang lalu di Jalan Raya Pantai Kuta, Denpasar.

Selain Polda Bali, Polda Kepri juga terus melakukan penyidikan terhadap Si Codet. Poltabes Barelang mengirim sejumlah penyidik untuk memeriksa tersangka di Denpasar.

Hasil penyidikan sementara, pelaku mengaku melakukan tindakan asusila tersebut karena mendapat bisikan agar mencari korban yang belum kotor. Pelaku menerjemahkan kata-kata 'yang belum kotor' tersebut sebagai wanita atau anak-anak yang belum pernah mendapatkan menstruasi atau haid. Karenanya, korban yang diperkosanya selama ini adalah anak-anak yang masih di bawah umur.

Tujuh Korban di Batam


Kasat Reskrim Poltabes Barelang Kompol Agus Yulianto mengatakan, berdasarkan pengakuan Si Codet kepada penyidik Poltabes Barelang, jumlah korbannya di Batam mencapai tujuh orang. Poltabes sendiri hingga kini baru menerima enam laporan dari orang tua korban. Keenam korban itu berdomisili di wilayah hukum Polsekta Bengkong, Polsekta Lubuk Baja dan Polsekta Batam Kota.

"Kita kirim anggota selama empat hari ke Bali dan baru pulang hari ini (kemarin) untuk mengkroscek laporan korban apakah benar dilakukan pelaku atau tidak. Dari enam laporan ternyata diakuinya semua. Bahkan ia mengaku telah tujuh kali telah melakukan cabul. Dengan pengakuan itu berarti pelakunya memang tunggal. Tadinya kalau hanya diakui sebagian berarti kita harus mencari pelaku lainnya, karena ada pelaku lainnya selain Dafis," ujar Agus Yulianto di Markas Poltabes Barelang, kemarin.

Berdasarkan pengakuan tersangka kepada penyidik, kata Agus, pemerkosaan berantai itu berlangsung dari bulan April hingga September 2009. "Pelaku beraksi di Kota Batam dari bulan April hingga September. April sebanyak satu korban, Agustus dua orang dan September empat orang. Rata-rata korbannya berumur antara 5-11 tahun," kata Agus.

Menurut Agus, modus yang digunakan pelaku untuk merayu korban umumnya adalah dengan membelikan es krim. Setelah bersedia, korban dibawa ke tempat sepi dan mencabulinya di sana. Seusai dicabuli, pelaku mengantar kembali korban hingga ke dekat rumahnya dan memberikan uang beberapa ribu rupiah.

Selama berada di Kota Batam, kata Agus, pelaku bekerja sebagai tukang pijat plus-plus. Dimana ia bisa melayani perempuan atau bahkan laki-laki yang ingin berkencan usai diurut. "Asal pelaku mendapatkan uang tambahan atas pekerjaannya tersebut," kata Agus.

Ia melarikan diri ke Bali karena takut ditangkap polisi yang telah disebar ke sekolah-sekolah saat itu. Namun di Bali, perbuatan bejat itu kembali dilakukan tersangka hingga sedikitnya lima kali. Pemerkosaan berantai Si Codet akhirnya berhasil dihentikan polisi setelah salah seorang korbannya di Bali yang telah berusia 11 tahun mengenali ciri-ciri motor yang digunakannya. (sm/kc/mi/dh)

Share