Sabtu11012014

Last update12:00:00 AM

Back Batam RK Mobil Diduga Tipu Konsumen

RK Mobil Diduga Tipu Konsumen

Gadaikan BPKB, Mobil Dijual Lagi

Batam (HK)- Showroom mobil bekas  RK Mobil yang beralamat di Simpang Kuda, Sungai Panas, Batam, diduga telah meniipu ratusan konsumennya. Modusnya dengan memberikan fasilitas kredit mobil bunga ringan kepada konsumennya, kemudian BPKB yang ditahan digadaikan ke sejumlah leasing dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Setelah itu mobil nasabah dijual kembali.

Menurut informasi yang dihimpun di lapangan, mobil-mobil yang digadaikan itu mereknya bermacam-macam. Mulai dari Fortuner, CRV, Jazz, Wish, Camry, Harier, Innova, Avanza sampai Corona keluaran tahun 1997.

Sedangkan nilai kredit yang diperoleh dari  setiap mobil disesuaikan dengan harga jual mobil saat itu. Total kredit yang diperoleh pihak RK mobil diperkirakan mencapai Rp10 miliar lebih.

Lembaga keuangan yang digunakan pihak RK Mobil menggadaikan mobilnya, antara lain Indo Baru, LSI Manggala, BPR Dana Nusantara, BPR Kencana Artha, BPR Prima Artha, BPR Majesty dan lain-lain.

Setelah BPKB mobil tersebut digadaikan, pihak showroom kemudian menjualnya dengan harga standar, namun dengan fasilitas kredit bunga ringan. Calon konsumen cukup membayar uang muka 20-30 persen dari harga jual, mobil pun sudah bisa dibawa pulang. Jangka waktu kredit yang ditawarkan bervariasi, ada yang satu tahun, dua tahun, sampai lima tahun.

"Si pemilik showroom mendapatkan dua keuntungan. Pertama dari bank atau leasing, kemudian dari konsumen yang membeli mobil dengan fasilitas kredit bunga ringan," kata Ad, salah seorang konsumen RK Mobil, Selasa (18/12).

Ad baru tahu shoowroom tersebut bermasalah ketika hendak membayar cicilan kredit mobil Toyota yang dibelinya dengan cara tukar tambah di shoowrom tersebut. Saat itu, ia melihat  ruko yang selama ini digunakan RK Mobil untuk berkantor dalam keadaan tutup.

Kemudian, mobil-mobil milik RK Mobil yang selama ini diparkir di halaman ruko dalam keadaan disegel bank dan leasing. Dari informasi yang ia peroleh, pemilik RK Mobil Affandi diduga kabur setelah kedoknya terbongkar.

"Saya terhenyak ketika mendengar informasi itu. Tak percaya saya coba hubungi bos RK Mobil Pak Affandi, tapi ponselnya tidak aktif. Dari situ baru saya sadar kalau sudah tertipu," katanya.

Menurut dia, mobil yang kini digunakannya merupakan hasil tukar tambah Toyota Corola yang dulu dipakainya. Selain mobil, ia juga menyerahkan uang Rp10 juta kepada pihak RK Mobil, dengan tujuan untuk memperkecil utang. Sisanya sebanyak Rp100 juta, dikreditkan dengan tenor waktu lima tahun.  Saat itu, harga jual mobil tersebut Rp175 juta.

"Saat itu disepakati cicilan saya Rp2,5 juta sebulan. Dan sekarang sudah berjalan lima bulan. Jika ditotal uang yang sudah masuk ke RK Mobil mencapai Rp90 juta," sebut Ad.

Pan, konsumen lainnya mengaku tidak tahu di lembaga keuangan mana BPKB mobilnya digadaikan RK Mobil. Sebab, selama ini dalam pikirannya BKPB mobilnya hanya ada di RK Mobil.

"Kita tidak menyangka, kalau shoowroom sebesar itu akan menipu. Tapi apa pun alasanya, saya akan perjuangkan mobil saya ini, karena saya membelinya resmi di showroom bukan melalui perorangan. Itu kalau sewaktu-waktu pihak bank datang ingin menarik mobil saya," ucapnya.

Kini, mobil-mobil milik RK Mobil yang diparkir di halaman shoowroom disegel sejumlah perusahaan leasing dan BPR. Rencananya, mobil tersebut akan dibawa paksa oleh masing-masing leasing dan BPR. Sedangkan mobil yang masih berada di tangan konsumen akan dilacak setelah kreditnya dinyatakan menunggak.

Pantauan Haluan Kepri, puluhan orang tampak bolak-balik ke shoowroom yang beralamat di Simpang Kuda, Sungai Panas, Batam itu. Mereka ada yang dari leasing dan BPR, ada juga yang konsumen. Kasus tersebut kini sudah ditangani kepolisian.

Kabid Humas Polda Kepri Kombes Hartono yang dikonfirmasi tadi malam, meminta Haluan Kepri  menunggu sebentar setelah menanyakan perkembangan kasus tersebut ke penyidik yang menangani perkara itu.

"Tunggu ya, saya tanya penyidik yang menanganinya dulu. Nanti saya telepon balik," katanya.

Setelah menunggu beberapa menit, Haluan Kepri kembali menghubungi Hartono, namun yang bersangkutan tidak menjawab. (nvr/sfn)

Share