Sabtu11292014

Last update12:00:00 AM

Back Batam 14 Warga Batam Menderita Kaki Gajah

14 Warga Batam Menderita Kaki Gajah

Walikota Batam Ahmad Dahlan meninjau pelaksanaan pemberian obat gratis Pencegahan filariasis di Kantor lurah tanjung sengkuang, Senin (11/1). Cecep / Haluan KepriPemko Bagikan Obat Secara Gratis

BATAM (HK)- Penderita penyakit kaki gajah di Batam jumlahnya bertambah menjadi 14 orang. Jumlah warga terserang penyakit filariasis ini bertambah 7 orang sejak Dinas Kesehatan Kota Batam merilis data pada Desember 2012 bahwa ditemukan ada 7 orang yang menderita penyakit tersebut.

Keseluruhan warga yang menderita kondisi kaki membengkak itu tersebar di beberapa kecamatan di Batam. Rinciannya, 10 orang di Kecamatan Galang, dan masing-masing satu orang di Kecamatan Bulang, Nongsa,  Batuampar dan Kecamatan Bengkong.

Diduga karena mewabahnya penyakit kaki gajah ini, Pemerintah Kota (Pemko ) Batam melalui Dinas Kesehatan mulai membagikan obat pencegah penyakit tersebut kepada warganya. Walikota Batam Ahmad Dahlan mencanangkan pemberian obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) yang dikombinasikan dengan Albenzol itu secara massal.

Senin (11/2) kemarin, walikota meninjau langsung pelaksanaan pemberian obat pencegah filariasis di Kantor Lurah Tanjung Sengkuang, Batuampar, Batam.  

"Kita targetkan 2020 Batam bebas penyakit kaki gajah," kata Dahlan kepada wartawan usai meninjau.

Katanya, pemberian obat tersebut harus dilakukan sekali setahun dalam kurun waktu 5-10 tahun. Ia berharap, warga Batam mau meminum obat yang diberikan, sehingga apa yang diharapkan dapat tercapai.

"Pengobatan ini akan berlangsung selama lima tahun berturut-turut. Kegiatan ini berkat kerja sama antara Kementerian Kesehatan dan Pemko Batam. Sebab, Kemenkes sudah ada kerja sama dengan badan-badan internasional. Jadi, mereka yang mensuplai obatnya, sementara Pemko Batamyang menyediakan anggaran dan operasionalnya," kata Dahlan.

Dahlan mengingatkan, bagi anak usia di bawah dua tahun, atau lansia di atas 75 tahun dan ibu menyusui, ibu hamil, kurang gizi, epilepsi (ayan), anak keterbelakangan mental dianjurkan tidak meminum obat tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam Chandra Rizal mengatakan pemberian virus kaki gajah secara cuma-cuma sudah dilakukan sejak  15 Januari alu dan terus dilakukan serentak di seluruh kecamatan di Kota Batam.

"Adapun efek samping dari obat tersebut, kata dia, ngantuk, mual dan pusing serta diare," katanya menjelaskan efek samping obat pencegah filariasis.

Menurut dia, obat yang diberikan itu merupakan bantuan dari pemerintah pusat sebanyak 21 ribu dus. Setiap dus berisi 30 tablet yang peruntukannya bagi 813 ribu masyarakat usia 2-70 tahun.

Pemberian obat tersebut melibatkan peran masyarakat dengan kader posyandu yang diawasi oleh puskesmas setempat. Masyarakat yang telah meminum obat akan memberikan laporan kepada para petugas.

Andi Muhadir, Direktur pengendalian penyakit menular Kementerian Kesehatan RI mengatakan pemberian obat DEC dan Albendazole dapat memutus rantai penularan filariasis. Jika tercapai 65 persen masyarakat Batam telah meminum obat tersebut dan pengobatan dilakukan sekali setahun selama 5 tahun.

Sekadar mengingatkan, penderita penyakit kaki gajah tidak saja terjangkit di Kota Batam. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Kabupaten Karimun. Di kabupaten ini setidaknya telah ditemukan ada tiga orang yang menderita penyakit tersebut. Mereka kesemuanya adalah warga Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Meral. Dokter yang menangani ketiga pasien kaki gajah itu menduga kuat jumlah penderita penyakit kaki gajah lebih dari itu.   

Setelah di Karimun, kabar serupa juga datang dari Kabupaten Lingga. Di kabupaten yang dulunya berdiri Kerajaan Lingga, itu sedikitnya telah ditemukan dua orang penderita penyakit kaki gajah. Keduanya adalah para janda atau nenek-nenek berusia 60 tahunan.   

Hasil konfirmasi yang telah dilakukan, di Karimun penyakit gajah sudah terdeteksi sejak tahun 2005 lalu. Di Lingga, sekitar 10 tahun yang lalu, atau sejak tahun 2002. Sedangkan di Kota Batam belum diperoleh informasi penyakit kaki gajah pertama kali ditemukan.

Penyakit kaki gajah terjadi disebabkan oleh cacing filaria. Penyakit ini dapat menular antara manusia ke manusia melalui berbagai jenis nyamuk. WHO sendiri mencanangkan program dunia bebas filariasis pada tahun 2020. Dengan ditemukannya 12 orang penderita penyakit kaki gajah, tidak berlebihan jika ada yang menyimpulkan bahwa  penyakit yang mendapat perhatian serius WHO ini telah mewabah di Provinsi Kepri. Ironinya, pemerintah terkesan cuek. Kurang peduli dengan warganya, si penderita penyakit tersebut. (jua/vnr)

 

Share