Rabu08272014

Last update12:00:00 AM

Back Cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (108)

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (108)

Jiwa Pengarang

Oleh karena kota Surabaya lebih dekat ke Mengkasar, dan disana penerbitan buku-buku masih sepi, maka bermaksudlah dia hendak pindah ke Surabaya, akan mengeluarkan buku-buku hikayat bikinan sendiri dengan modal sendiri, dikirim ke seluruh Indonesia

.Dengan kemauan yang tetap, dia bersama Muluk meninggalkan kota Jakarta, yang di kota itu dia telah mendapat modal paling besar, yaitu letter "Z" yang kelak akan dipergunakan mencoba nasib di kota Surabaya itu. Cita-citanya dengan buku-buku yang dikarangnya ialah menanamkan bibit persatuan rakyat dari segenap kepulauan tanah airnya, mempertinggi kecerdasan kaum perempuan, menghapuskan adat-adat yang telah lapuk, menegakkan kemajuan sepadan dengan bangsanya. Ceritanya amat menarik hati orang. Karena bilamana dia menggubah hikayat-hikayatnya, dinantinya dahulu waktu yang tenang dan sepi. Segenap kesedihan yang berlungguk-lungguk dalam hati sanubarinya sejak dia kecil, itulah yang ditumpahkannya ke dalam karangan-karangan dengan wajah yang sejelas-jelasnya.

Ingatan seorang ibu kapada anaknya, ratap tangis seorang anak atas kematian ibunya, karena ibunya sendiri memang tak ada lagi. Jikalau dia melukiskan cinta, sebenar-benar cintalah yang digambarkannya. Kekecewaan hatinya, keremukan pikiran, pikiran yang sedang buntu nasih seorang yang hidup sebatang kara, semuanya itu digambarkannya dalam karangannya, dengan wajah yang sejelas-jelasnya. Karena orang yang menangis tdak dapat menceritakan gelak orang yang tertawa; orang yang bergirang tak dapat melukiskan tangis orang yang bersedih. Pengarang dari kalangan bangsawan amat sukar menceritakan penghidupan Pak Tani di pondok yang buruk.
Tidak heran, kalau sekiranya karangannya mendapat penerimaan yang baik dari pembacanya.

Di dalam hal yang demikian, ada pula tabiat yang sangat mulia. Yaitu kasih sayang kepada fakir miskin, sangat iba kepada perempuan-perempuan tua yang meminta-minta di tepi jalan. Kalau sekiranya ada orang dagang anak Sumatera atau anak Mengkasar yang terlantar di kota Surabaya dan datang meminta tolong kepadanya, tidaklah mereka akan meninggalkan rumah itu dengan tangan kosong. ***

Share