Senin07282014

Last update12:00:00 AM

Back Ekonomi Bisnis Bisnis Pasir Darat Hidupkan Pengrajin Batako

Pasir Darat Hidupkan Pengrajin Batako

PASIR merupakan bahan baku utama pembuatan batako di samping semen. Namun, bila pemerintah menutup atau melarang penggalian pasir darat di Batam, ratusan pengrajin terancam kehilangan mata pencaharian, terutama di kawasan Batubesar, Nongsa.

"Pasir ini sumber penghidupan kami, jika saja ditutup sama saja membunuh penghidupan warga yang sebagian besar bergantung pada pasir di sini," ujar Rahmat (41) salah satu pengrajin batako ditemui di kawasan eksplorasi pasir Kampung Panglong, Batubesar, Kecamatan Nongsa akhir pekan kemarin.

Bagi pria berkulit legam itu, mengais rejeki sebagai pengrajin batako sudah sejak 17 tahun lalu dijalaninya. Bahkan untuk menghidupi keluarganya hanya mengandalkan keahliannya sebagai pencetak batako yang mengaku harus mencetak 400 sampai 700 batako setiap harinya. Tentu saja agar mencapai taget itu, para perajin harus banting tulang tak kenal lelah meski panas mentari membakar kulitnya.

"Ini sumber mata pencaharian, saya harus mencetak batako sebanyak itu dengan upah Rp210 perbatako. Jika tidak, tak cukup untuk nutup biaya sehari-hari," ujar pria yang hanya lulus SD ini. Di tengah panasnya terik mentari, ayah tiga anak itu tetap semangat mencetak batako melawan kerasnya kehidupan di kota berbentuk kalajengking ini. Dibantu dua rekannya Haryo (29) dan Ilham (33), terus mencetak adonan pasir dicampur semen demi memenuhi pesanan konsumen yang sudah menunggu untuk dipasarkan.

Panas pun tak dihiraukannya, meski sesekali mengusap keningnya yang kerap dicucuri keringat. Tempaan hidup dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga demi menghidupi anak-anaknya yang masih duduk di sebuah bangku sekolah dasar negeri di Batubesar. "Tak ada pilihan lain kecuali kerja sebagai pencetak batako. Maklum sata tak sekolah tinggi," ucapnya dengan logat melayu kental.  

Meski tidak seberapa besar penghasilan yang ia dapatkan, wajah pria paruh baya itu, kerap bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Biaya produksi akhir-akhir ini cukup tinggi, karena harga semen rata-rata Rp55 ribu persak. Katanya, belakangan ini untungnya tipis, kadang tak nutup biaya produksi yang dikeluarkan. "Hasil penjualan dengan biaya produksi tak seimbang, kadang rugi tapi itu kenyataan yang harus kami terima," ujarnya.

Untuk menyiasati biaya tersebut, dia mengaku terpaksa harus menaikan harga jual Rp200 perbatako, tapi terkadang konsumen juga tidak menerima. "Cuma ini yang saya bisa lakukan agar terus produksi, jika tidak pilihannya istirahat. Kalau bisa harga semen tidak naik lagi," harapnya. Rahmat juga menambahkan, untuk pendistribusiannya, biasanya pihak konsumen yang langsung datang ke lokasi. Konsumen biasanya toko bangunan, pemborong dan pengembang perumahan.

Sama halnya dengan Iwan, pengrajin batako di Kampung Jabi, Batubesar, dia kerap menerima komplen dari konsumen karena batako yang diproduksinya mudah pecah. Diakunya, terpaksa harus mengurangi semen sebagai pengikat pasir karena harga semen saat ini terus naik.

Katanya, konsumen selalu menginginkan harga murah tapi kualitas bagus. Dia sudah lakukan itu tapi tidak mampu menutupi biaya produksi. "Terpaksa saya naikan harga agar bisa terus produksi," katanya. Disinggung lagi soal rencana pemerintah akan menutup keran galian pasir darat, dengan nada pesimis pria berperawakan kurus itu agar mengurungkan rencana tersebut. "Pasir ini sumber penghidupan warga di sini, jangan lah sampai ditutup," pintanya.

Selain batako, matrial bangunan lainnya seperti bata merah dan silkon juga memasuki pasar kota ini, baik produksi lokal maupun didatangkan dari Jawa dan Sumatera. Tapi secara estimasi harganya jauh lebih mahal, bata merah dijual Rp480 perbuah dan Silkon Rp2,3 juta perpalet (isi 280 buah). Batako lokal menjadi alternatif karena harganya cukup terjangkau hanya Rp1.100 perbuah, juga persediaannya mudah didapatkan.

"Kebutuhan batako sangat besar sebagai penunjang pembangunan, lokal saja tak cukup makanya kita datangkan dari daerah lain," ujar Kokoh pemilik Toko Bangunan Mitra Anda di Komplek Air Mas, Batam Centre. Para pengrajin batako di kawasan Batubesar, Nongsa, berharap mendapat perhatian dari pemerintah agar terus berkarya, bagaimana pun keberadaan mereka memberikan kontribusi bagi pembangunan Kota Batam.

Bisa dibayangkan jika Pemko Batam menutup penambangan pasir darat, maka dampak sosial seperti penganguran dan masyarakat miskin akan semakin bertambah. Meskipun dari segi lingkungan, dampak buruk yang ditimbulkan sangat rawan. Namun semua itu kembali pada kebijakan pemerintah mencari solusinya, bagaimana masyarakat bisa menjaga kesinambungan perekonomian tapi lingkungan juga harus terjaga dan terlestarikan. (tito suwarno)

Share

Fokus

"AlQur'an Obat Segala Keresahan"

Kamis, 17 July 2014

Batam (HK) – "Allah SWT menurunkan obat bagi kegelisahan dan permasalahan manusi...

Jejak

Jalan Tanah Bekas Jepang

Senin, 15 April 2013
Jalan Tanah Bekas Jepang

Di sembulang ada sejumlah jejak bekas markas Jepang yang hingga kini masih bis...