Sabtu10212017

Last update05:00:00 AM

Back Ekonomi Bisnis Pasar & Bank Penurunan Suku Bunga Pacu Pertumbuhan Ekonomi

Penurunan Suku Bunga Pacu Pertumbuhan Ekonomi

JAKARTA (HK) - Keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan diharapkan bisa merembet ke terpacunya pertumbuhan ekonomi.
Dalam Rapat Dewan Gubernur, Bank Indonesia memutuskan untuk menurunkan 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7-day RR Rate) sebesar 25 bps dari 5,25 persen menjadi lima persen, dengan Suku bunga Deposit Facility (DF) turun 25 bps menjadi 4,25 persen, dan Lending Facility (LF) diturunkan sebesar 25 bps dari 6,00 persen menjadi sebesar 5,75 persen.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Suahasil Nazara menjelaskan, penurunan suku bunga acuan diharapkan bisa ditransmisikan ke penurunan suku bunga perbankan. Artinya, ada peluang besar pertumbuhan investasi yang ujungnya adalah pertumbuhan ekonomi.

Hanya saja, Suahasil menilai imbas langsung penurunan suku bunga acuan terhadap pertumbuhan ekonomi memang tidak bisa instan. Ia menyebut bahwa dampak dari kebijakan penurunan suku bunga memiliki bersifat jangka panjang yang hasilnya baru bisa dirasakan beberapa kuartal setelah penurunan.

"Biasanya perlu waktu. Kalau menurut teman-teman BI, dia mungkin ada bebrapa kuartal. Jadi penurunan yang Januari harusnya sudah mulai kita lihat sekarang. Yang jelas ini sejalan dengan target pemerintah untuk dorong pertumbuhan ekonomi," kata Suahasil, Kamis (22/9).

Sebelumnya pada 19 Agustus yang lalu, Bank Indonesia (BI) mereformulasi suku bunga kebijakannya menjadi BI 7 Day Repo Rate. Keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dilaksanakan Rabu dan Kamis ini akan menentukan perubahan tingkat suku bunga kebijakan yang dinilai mencerminkan pasar uang jangka pendek tersebut. Suku bunga kebijakan ini dinilai akan mempercepat transmisi kebijakan moneter ke perbankan.

terpisah, Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan keputusan BI menurunkan BI 7-Day Repo Rate menjadi 5,00 persen untuk mendorong pertumbuhan kredit.

"Kebijakan BI baik penurunan suku bunga maupun pelonggaran makroprudensial, termasuk penurunan GWM (giro wajib minimum), akan mendorong baik suplai dari kredit perbankan maupun sisi kenaikan permintaan kredit," kata Perry di Jakarta, Kamis.

Perry menilai yang menjadi kendala dalam pertumbuhan kredit perbankan ialah rasio kredit bermasalah atau NPL (non-performing loan) yang masih tinggi, yakni sebesar 3,2 persen (gross) atau 1,5 persen (nett) pada Juli 2016. Namun, Perry mengatakan dari sisi likuiditas dan ltv (loan to value) sudah ada pelonggaran.

Dia berpendapat kenaikan permintaan kredit didorong oleh tiga faktor. Pertama, pertumbuhan ekonomi. "Kalau memang pertumbuhan ekonominya naik akan mendorong permintaan kredit. Memang pertumbuhan ekonomi sudah naik, tapi tidak terlalu kuat sehingga permintaan kredit belum kuat," ujar Perry.

Kedua, permintaan kredit dipengaruhi oleh penurunan suku bunga seperti kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. "Salah satu pertimbangan kami menurunkan suku bunga hari ini untuk mendorong permintaan kredit. Kalau suku bunga itu kan seluruh komponen, seluruh aspek juga akan terpengaruh, termasuk juga ingin mendorong permintaan kredit," tutur Perry.

Sedangkan faktor ketiga yang belum terlalu kuat mendorong pertumbuhan kredit ialah kegiatan ekonomi sektor swasta. Perry mengatakan kegiatan ekonomi sektor swasta Indonesia sudah ada perbaikan terlihat dari beberapa indikator meskipun diakui belum terlalu kuat.

Pertumbuhan kredit Juli 2016 tercatat sebesar 7,7 persen (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 8,9 persen (yoy). Sementara itu pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pada Juli 2016 tercatat sebesar 5,9 persen (yoy), relatif stabil dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya.(rol/ant)

Share