Kamis10192017

Last update05:00:00 AM

Back Fokus Laporan Khusus MOS Tanpa 'Dendam Sejarah'

MOS Tanpa 'Dendam Sejarah'

atribut mosBATAM (HK)-- TAHUN Ajaran Baru sekolah dimulai dengan kegiatanMasa Orientasi Siswa (MOS) bagi calon siswa baru.  Kendati di sejumlah sekolah di Indonesia kegiatan MOS dihantui praktik perpoloncoan namun di Batam MOS berlangsung aman tanpa adanya temuan tindakan kekerasan.
Sejak hari pertama sekolah dimulai, Senin (27/7), hampir semua sekolah melaksanakan MOS bagi peserta didik baru. Salah satunya, SMK Multistudi High School (MHS) Batam yang beralamat di Batuampar. Sekolah yang telah meluluskan VI angkatan ini memulai MOS pada hari Selasa (28/7) dan berakhir Kamis (30/7). Kegiatan MOS dipusatkan di lingkungan sekolah dan penutupan dilaksanakan di Pantai Melayu Barelang.

Selama tiga hari para calon siswa baru yang berjumlah lebih dari 200 orang melaksanakan MOS dengan gembira dan penuh akraban. Mereka tampak antusias melaksanakan kegiatan yang sudah disusun panitia seperti wawasan widyatamandala, pengenalan jurusan, organisasi sekolah, ekskul dan tata tertib sekolah. Bahkan, panitia juga mengundang pembicara dari luar seperti pihak Badan Narkotika Nasional Kota Batam, Kepolisian dan pihak Perbankan.

"Semua kegiatan bertujuan mendekatkan siswa dengan lingkungan sekolah agar mereka bisa segera beradaptasi. Dan kita juga memberikan pengetahuan umum melalui pembicara yang didatangkan dari luar. Kegiatan juga diwarnai dengan game-game dimana para siswa mendapatkan hadiah hiburan," jelas Leny Susanti,S.TP., selaku Koordinator Acara.

Mengenai atribut yang digunakan peserta MOS, menurut Leny panitia hanya menugaskan siswa membuat papan nama dari karton dan topi kreasi sendiri. Hal ini bertujuan menumbuhkan kreativitas siswa dan juga sebagai tanda pengenal agar sesama siswa saling mengetahui nama dan asal sekolah teman baru mereka.

"Pada hari terakhir MOS kami mengajak siswa berwisata ke Pantai Melayu dengan menyewa bus dan di sana mereka menunjukan bakat seni dan bermain game," imbuh guru matematika ini.

Sementara itu, SMA Kartini Batam juga menggelar MOS dengan kegiatan-kegiatan positif bahkan sekolah ini menutup kegiatan dengan pergelaran seni yang dilaksanakan di salah satu mal di Kota batam.

Kepala Disdik Kota Batam Drs H Muslim Bidin ketika diminta komentarnya tentang pelaksanaan MOS mengaku pihaknya telah mengawasi  kegiatan MOS di masing-masing sekolah dan menginstruksikan guru hingga kepala sekolah agar  memonitoring  kegiatan MOS.

siswa baruMenurut Muslim, MOS ini harus sesuai dengan tujuan sebagai pengenalan lingkungan sekolah kepada siswa baru.  Karena  bagian dari sosialisasi program-program yang dimiliki pihak sekolah agar peserta didik baru dapat mudah bemos mhsradaptasi dan mengetahui berbagai program yang dimiliki dan berlaku di sekolah, seperti kegiatan ektrakurikuler dan tata tertib sekolah. Disdik sendiri kata Muslim, tidak melarang adanya kegiatan MOS, melainkan mengimbau agar kegiatan ini dimanfaatkan dengan kegiatan yang bersifat mendidik.

"Apalagi  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) pak Anies Baswedan telah mengeluarkan surat edaran nomor 59389/MPK/PD/2015 untuk mencegah praktik perpeloncoan, pelecehan, dan kekerasan pada MOS peserta didik baru di sekolah. Dalam surat edaran itu MOS dilarang menggunakan kekrasan, melainkan harus mengenalkan program sekolah, lingkungan sekolah, cara belajar, dan penanaman konsep pengenalan diri, kegiatan kepramukaan dan kegiatan lainnya. Jadi tak boleh Kakak kelas atau seniornya  untuk mempermainkan atau melakukan tindak perpeloncoan, pelecehan, dan atau kekerasan terhadap adik kelas," jelas Muslim panjang lebar.

Selain itu lanjut Muslim, selama kegiatan MOS,  sekolah juga tidak boleh memungut biaya dan membebani orang tua/wali dalam bentuk apapun. Kepala sekolah juga harus mengetahui isi Permendikbud  Nomor 55 tahun 2014 tentang MOS kepada peserta didik baru di Sekolah, dan wajib menginformasikannya kepada para pelaksana di sekolah masing-masing. Sama halnya dalam surat edaran kata Muslim ditegaskan,  bahwa Disdik harus memastikan kepada kepala sekolah, wakil kepala sekolah, wali kelas, dan guru adalah pihak yang bertanggung jawab sepenuhnya atas penyiapan dan pelaksanaan kegiatan MOS. Jika tindak kekerasan, perpeloncoan maupun pelecehan tetap terjadi, maka Disdik dapat melakukan tindakan dan atau hukuman disiplin sesuai kewenangannya.

Selanjutnya dalam surat edaran juga Mendikbud mengimbau kepada masyarakat khususnya orang tua/wali peserta didik agar sama-sama memantau dan mengawasi pelaksanaan MOS. Orang tua/wali diminta melaporkan jika ada penyimpangan melalui laman: http://mopd.kemdikbud.go.id, atau melalui Disdik  setempat.

Komisioner Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto juga mengingatkan, tidak boleh ada muatan kekerasan dalam bentuk apa pun dalam kegiatan MOS.
Menurutnya, masih ada sekolah dan sebagian siswa yang berpandangan bahwa pendekatan kekerasan dalam MOS masih diperlukan dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah beban sejarah, sehingga diperlukan saat masuk sekolah.

Alasan lainnya adalah MOS menjadi momentum bagi kakak kelas untuk mengerjai siswa baru adik kelasnya. Selain itu, ada pula yang berpandangan bahwa pendekatan kekerasan diperlukan untuk membentuk mental siswa baru.

"Pandangan demikian tidak boleh terjadi. Kekerasan tidak bersenyawa dengan pendidikan, maka tidak boleh ada muatan kekerasan dalam bentuk apa pun dalam MOS," tuturnya.

Karena itu, KPAI meminta seluruh sekolah di Indonesia agar melaksanakan MOS tanpa ada muatan kekerasan, baik verbal, psikis, seksual maupun fisik.

Menurut Susanto, MOS harus dikembangkan dengan pendekatan dan metode yang membangkitkan karakter unggul siswa, bukan melemahkan potensi majemuk yang ada pada siswa. "MOS juga harus dipastikan aman dan nyaman bagi semua anak. Sekolah harus memastikan tidak ada kultur senioritas yang memicu kekerasan dalam pelaksanaan MOS," katanya.

Susanto mengatakan, sekolah harus bisa memastikan kegiatan MOS tidak ada "dendam sejarah" antara kakak kelas dengan adik kelas. Menurut dia, tidak sedikit kakak kelas yang memperlakukan adik kelas sebagaimana mereka diperlakukan saat masuk sekolah. ***

Share