Kamis10192017

Last update05:00:00 AM

Back Fokus Laporan Khusus Musim Hujan, Waspada Banjir

Musim Hujan, Waspada Banjir

 banjir batuajiBATAM (HK)-- MUSIM kemarau yang melanda sebagian besar wilayah di Indonesia justru tidak terjadi di Provinsi Kepri. Dalam sepekan terakhir, hujan malah turun dengan intensitas cukup besar yang mengakibatkan terjadinya banjir di sejumlah daerah baik di Batam maupun Tanjungpinang.
MUSIM hujan sepertinya mulai terjadi di wilayah Kepri khususnya Batam dan Tanjungpinang. Dalam pekan ini, hujan deras setiap pagi dan siang mengguyur Kota Batam. Kondisi ini mengakibatkan sejumlah titik wilayah permukiman di Batam terendam banjir.

Kendati tidak ada laporan korban, namun pemukiman warga dengan jalanan terputus akibat melimpahnya air. Kendaraan pun banyak yang mogok.

Akibat banjir, sejumlah anak sekolah dan pekerja pabrik terpaksa pulang kembali ke rumah karena kendaraan yang ditumpangi mereka mogok.

Banjir paling parah terlihat di wilayah Batuaji dan Sagulung. Banjir memisahkan badan jalan dan memutuskan arus lalu lintas. Ini terlihat di lokasi langganan banjir di Tembesi, jalan menuju Sekupang depan Perumahan Permata Hijau, serta jalan menuju Perumahan Marina Raya, Marina.

Titik lokasi banjir ini cukup parah dengan genangan air mencapai setengah meter. Akibatnya, kendaraan tak bisa lewat dan menimbulkan kemacetan.

Kemacetan juga terlihat di Jalan R Suprapto atau tepatnya di depan Masjid AL-Amin, Kelurahan Tembesi, Kecamatan Sagulung.

Pantauan di lokasi, banjir setinggi lutut orang dewasa itu membuat pengendara roda dua harus berbalik arah. Beberapa pengendara yang nekat menerobos banjir tersebut terpaksa harus mendorong kendaraannya karena mogok di pertengahan banjir.

"Mogok, Bang, motor saya karena terobos banjir itu. Kalau hujan, ya selalu kebanjiran di sini," kata Rusli, pengendara yang nekat menerobos banjir.

 jalan di batam centreAkibat banjir itu juga membuat jalan jalur kiri dari arah Batam Center menujuh Batuaji rusak parah terkikis air. "Jalanan juga mulai terkikis banjir. Kalau nggak diperbaiki, makin parah jalan itu. Bisa-bisa celaka pengendaranya," imbuhnya.

Rusli menambahkan, bukan hanya sepeda motor miliknya saja yang mogok. Belasan sepeda motor lainnya juga ikut mogok lantaran mencoba menerobos banjir tersebut.

"Mungkin buru-buru mau kerja, jadi orang-orang ini terobos banjir. Makanya, motor pada mogok semua," katanya.

Begitupun dengan Ayu, pengendara lainnya. Dia pun kecewa terhadap kinerja pemerintah yang sampai saat ini tidak terealisasi terkait pembenahan drainase di sekitar lokasi banjir tersebut.

"Banjir terusnya, Bang. Berita pun kita baca terus. Tapi tak ada respon dari pemerintah untuk perbaiki selokan itu. Kalau kayak gini, ya banjir teruslah. Jalan di pinggir ini juga sudah mulai rusak terkikis banjir itu. Bahaya ini, Bang," keluh Ayu.

"Secepatnyalah diperbaiki. Kita-kita juga yang repot kalau kayak gini," harapnya.

Hal yang sama juga terlihat di kawasan perumahan Tiban, di Kecamatan Sekupang, Batam. Selain itu, Bengkong, dan Sei Jodoh tidak luput dari banjir.

Menanggapi banjir musiman ini, anggota DPRD Kota Batam, Yudhi Kurnain, berpendapat banjir diakibatkan karena jeleknya sistem saluran air. Padahal, kata dia, dana yang dikeluarkan untuk pembangunan saluran air di daerah ini mencapai puluhan miliar rupiah.

"Pemkot Batam harus berkaca. Kalau begini terus daerah ini akan tenggelam. Dana pembuatan saluran air itu besar, puluhan miliar rupiah. Tapi, kerjanya tidak ada yang beres," kata Yudhi.

Langganan Banjir

 jalan pemuda saat diguyur hujan deras Tidak hanya Batam, hujan lebat juga mengguyur Kota Tanjungpinang. Kondisi ini kembali membuat sejumlah kawasan di Kota Gurindam ini kembali menjadi sasaran banjir.

Pantauan di lapangan, sejumlah titik yang masih menjadi langganan banjir yakni, di Jalan Rawasari KM 5 Bawah, simpang Jalan Anggrek Merah, Jalan Pemuda termasuk kawasan Suka Berenang dan di Jalan DI Panjaitan KM 11.

Di kawasan ini terlihat sejumlah pengendara roda dua dan roda empat terpaksa memutar arah, karena takut kendaraannya mogok akibat terendam air yang rata-rata hampir setinggi lutut orang dewasa.

Seperti di kawasan Perumnas Seijang, terlihat warga yang rumahnya tergenang air, terpaksa harus basah-basahan untuk membuang air yang masuk ke teras depan rumahnya.

Di kawasan lain, sejumlah pengendara terpaksa memberhentikan kendaraannya, karena takut melintas digenangan air di Jalan DI Panjaitan KM 11 arah Tanjung Uban.

Salah seorang di antara sejumlah warga pengendara, bernama Andi mengatakan bahawa dirinya terpaksa harus memperlambat laju kendaraannya, karena takut terperangkap genangan air yang melintasi jalan tersebut saat hendak menuju kediamannya di Jalan Ganet.

Andi juga menilai, upaya Pemerintah Kota Tanjungpinang untuk mengurangi titik banjir di daerah tersebut masih lamban. Selain itu, kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan juga masih kurang, sehingga banyak saluran aliran air di parit menjadi tidak lancar.

"Kemungkinan terjadinya banjir ini karena drainese yang dibangun oleh pemerintah daerah masih kurang dalam dan tidak sesuai lagi dengan kondisi saat ini. Hal ini belum lagi, sumbatan sampah yang menumpuk di dalam parit," ucapnya.

Selain itu, kata warga, apabila nantinya Pemko Tanjungpinang mau membenahi drainese jangan hanya memperbesar, tetapi juga harus lebih direncanakan ke dalamnya, sesuai kondisi kawasan tersebut. Sehingga genangan air hujan bisa cepat meresap ke dalamnya.

"Jika paritnya cuma besar tapi sempit, sama saja membuang-buang anggaran negara, karena tidak akan mampu menampung air jika hujan turun seperti ini," ucap warga lainnya.

Sementara, prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Bakti, memastikan kondisi cuaca di Kota Tanjungpinang yang beberapa hari ini turun hujan diakibatkan fenomena yang ada di Kalimantan Timur (Kaltim) yaitu adanya sirkulasi udara tertutup di wilayah Kaltim yang mengakibatkan pertumbuhan awan cukup kuat.

Provinsi Kepri yang saat ini sudah memasuki angin selatan membuat fenomena ini melewati Kepri sehingga mengakibatkan uap air yang membuat curah pertumbuhan hujan untuk bulan ini masih rentan terjadi.

"Sebenarnya potensi sirkulasi tertutup ini hanya bertahan dua hingga tiga hari dan setelah itu hilang. Tapi ada kemungkinan tumbuh lagi dan itu yang membuat pertumbuhan awan kuat dan akan terus mempengaruhi wilayah Tanjungpinang," ucap Bakti, kemarin.

Selain itu, ia menghimbau kepada warga apabila terjadi curah hujan yang sangat lebat bisa mengakibatkan banjir di beberapa titik rawan banjir di Tanjungpinang.

"Kalau terjadi hujan lebat, warga dapat mewaspadai banjir untuk di kawasan yang langganan banjir," ungkap Bakti.

Bakti juga mengatakan Provinsi Kepri yang sudah memasuki angin selatan saat ini membuat Kepri tidak terlalu memiliki kecepatan angin yang tinggi. Akibatnya perkumpulan awan yang terbentuk tidak terpecah sehingga potensi hujan lebih rentan dengan kapasitas satu hingga dua jam.

Bakthi mengatakan adapun rata-rata perkiraan kecepatan angin berkisar antara 6-24 km per jam. Kondisi tersebut masih berada normal.

"Kecepatan angin tersebut agak menurun bila dibandingkan dengan kondisi kecepatan angin pada minggu sebelumnya sehingga pertumbuhan awan tidak terganggu yang mengakibatkan potensi hujan," ujarnya lagi.

Sementara untuk ketinggian gelombang ombak diperairan Anambas dan Natuna diperkirakan mencapai dua hingga dua setengah meter. Ketinggian ombak ini juga sebutnya masih dalam keadaan normal. Namun keadaan itu cukup berdampak kurang baik di laut, karena keadaan di atas dapat menimbulkan gelombang yang sangat besar dan tidak bisa diprediksi.

"Di laut bisa memperngaruhi gelombang laut. Tapi terkait besar dan kecilnya serta lama berlangsung dan titiknya tidak bisa diprediksi sama sekali, karena keadaan itu berlangsung tiba-tiba dan bersifat sesaat saja," ujarnya.

Dengan kondisi itu, Bakti mengimbau agar ketika terjadi hujan disertai angin kencang, warga dapat meninggalkan dulu kegiatannya di laut untuk sesaat sampai kondisi itu selesai.

"Ini cukup bahaya juga sih. Baiknya tinggalin dulu kerjaan di laut, toh keadan ini tidak lama kok," pungkasnya. ***

Share