Senin12182017

Last update12:00:00 AM

Back Fokus Laporan Khusus Magnet Batam Sihir Pencaker

Magnet Batam Sihir Pencaker

 pencaker padati bursa kerjaBATAM (HK)-- KOTA Batam ternyata masih menjadi magnet bagi para pencari kerja. Apalagi pascalebaran, banyak warga Batam membawa sanak famili dari kampung untuk mengadu nasib di kota industri ini.

Berdasarkan data dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam.Pada tahun 2015 ini, angka pencari kerja (pencaker) meningkat dibandingkan tahun sebelumnya pada periode yang sama.

Dibandingkan pada Agustus tahun 2014 lalu, angka pencaker 1.975 orang. Agustus 2015 jumlahnya meningkat tajam, mencapai 4.982 pencaker. Jumlah pencaker terbanyak berada pada awal tahun, yakni pada bulan Januari sebanyak 2.409 orang dan Februari 2.573 orang

Dengan bertambahnya pendatang baru di awal tahun 2015, jumlah pencari kerja kembali membludak. Di Januari kemarin, terdata, 3.010 orang pencari kerja. Sedangkan, yang beruntung mendapatkan pekerjaan hanya 833 orang. Di Februari, jumlah pencari kerja menurun 1594 orang. Bulan Maret dan April angka pencari kerja kembali naik menjadi 2.162 orang dan 2.078 orang.

Kepala Seksi Informasi Pasar Kerja Disnaker Lisbet mengatakan, tidak semua pengangguran merupakan pencari kerja. Tapi setiap pencari kerja yang terdata di Disnaker, otomatis adalah pengangguran.

"Kalau ditanya angka pengangguran di Kota Batam, pastinya lebih tinggi dibanding pencari kerja," tuturnya.

Menurutnya, berdasarkan hasil survei yang dikeluarkan setiap akhir tahun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, angka pengangguran di Kota Batam setiap tahunnya juga meningkat.

Pada tahun 2012 pengangguran tercatat sebanyak 25.391 orang. Tahun 2013 menjadi 32.031 orang dan tahun 2014 kemarin kembali meningkat menjadi 35.735 orang.

Meningkatnya angka pengangguran kata Lisbet, dipengaruhi oleh banyak faktor. Diantaranya, pencari kerja tidak memiliki skill, yang akibatnya tidak mampunya bersaing di pasar kerja. Jika masyarakat Kota Batam tidak memiliki skill, bisa-bisa kita hanya menjadi penonton saat Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) berlansung.

Kedua, tingginya angka pendatang setiap waktu. Terlebih di awal tahun, kelulusan tingkat SMA dan usai lebaran idul fitri. Dan yang terakhir akibat banyaknya perusahaan yang hengkang ataupun tidak mampu bertahan.

Padahal selama tahun 2015, banyak perusahaan yang hengkang dan tutup di Batam. Terhitung dari Januari sampai bulan Mei saja sudah ada 11 perusahaan yang tutup dengan alasan tidak ada orderan ataupun Pailit.  Perusahaan itu adalah, PT Nakano S Batam, Hidro Jet Marine, ?PT Yee Woo Indonesia, PT Seamens Hearing Instrumen, PT Fujitek, PT Security Manajemen, PT Bintan Anugerah, PT Nidex Sank yo, PT Diva Sarana Metal, PT Jasa Prima Mandiri dan PT. Heat Exchanger Indonesia.

TPI Stabil

 pencari kerjaBerbeda dengan Batam,angka pencari kerja di Kota Tanjungpinang justru stabil, artinya tidak terjadi peningkatan yang signifika.

"Biasanya pasca lebaran pancaker meningkat, tapi di Tanjungpinang kondisi normal tidak ada peningkatan yang signifikan. Selain itu pengangguran juga tidak ada peningkatan, biasa-biasa saja," kata Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota Tanjungpinang Surjadi, Kamis (6/8).

Menurut Surjadi, hingga pertengahan tahun 2015 ini pencari kerja (pencaker) di Tanjungpinang mencapai 1.700 orang.

"Biasanya pasca lebaran pancaker meningkat, tapi di Tanjungpinang kondisi normal tidak ada peningkatan yang signifikan. Selain itu pengangguran juga tidak ada peningkatan, biasa-biasa saja," ungkap Surjadi saat dihubungi, Kamis (6/8).

Dijelaskan Surjadi, tidak seluruhnya yang terdaftar pencaker merupakan pengangguran di Tanjungpinang. Tapi mereka rata-rata memiliki pekerjaan, namun ada yang ingin beralih profesi dan ada yang ingin bekerja lebih baik lagi.

"Dari data yang kami himpun, hingga saat ini jumlah pengangguran di Tanjungpinang mencapai 1.700 orang. Angka itu tidak meningkat, karena Tanjungpinang belum manjadi kota tujuan pancaker. Selain itu, lapangan kerja di Tanjungpinang juga belum bertambah," ujar Suarjadi.

 sejumlah pekerjaKarakteristik Kota Tanjungpinang, berbeda dan bukan kota industri seperti Kota Batam yang manjadi primadona para pancaker. Di Tanjungpinang, lanjut Surjadi, kebanyakan sektor-sektor perusahaan yang menengah ke bawah.

"Di tempat kita ini kebanyakannya perusahaan di sektor menengah ke bawah. Hal itu, menjadikan Tanjungpinang bukan tujuan pancaker," ujar Surjadi.

Selain itu, ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya pengangguran. Di antaranya, kesenjangan atau jumlah pencari kerja yang lebih tinggi. Kemudian, belum terpenuhinya kompetensi tenaga kerja lokal yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dan terbatasnya lapangan kerja.

"Oleh sebab itu perlu dilakukan upaya di semua pihak, baik dari swasta, pemerintah daerah dan pengusaha untuk menekan angka pengangguran. Karena dalam menghadapi masyarakat ekonomi Asean (MEA) diperlukan peningkatan kwalitas sumber daya manusia yang bisa dihandalkan," ungkapnya lagi.

Disamping itu, Surjadi mengatakan Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungpinang dalam mengatasi pengangguran yakni memperluas kesempatan kerja, mendirikan industri, pabrik dan lainnya untuk mendorong usaha kecil serta mengundang investor asing dengan tujuan membuka lapangan kerja di Tanjungpinang.

"Untuk terwujudnya semua itu, diperlukan peningkatan kwalitas sumber daya manusia dengan meningkatkan mutu para tenaga kerja, memberi pelatihan untuk membekali, meningkatkan, mengembangakan kemampuan dan produktivitas kerja," tutup Surjadi.(cw94/cw53)

 

Share