Kamis08282014

Last update12:00:00 AM

Back News Nasional Dai Sejuta Umat Tiada

Dai Sejuta Umat Tiada

JAKARTA-Kabar duka itu datang begitu tiba-tiba. KH Zainuddin MZ (60) yang pekan lalu masih datang berdakwah ke Tanjungpinang dalam rangka peringatan Isra' Mir'aj 1433 H, meninggal dunia, Selasa (5/7) pagi. Umat Islam kehilangan seorang dai cerdas dan amat komunikatif dalam berdakwah.
Zainuddin sempat dibawa istri dan anak-anak serta keluarganya ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta ketika tiba-tiba mengeluh sakit usai sarapan di rumahnya. Namun, ia sudah menghembuskan napas terakhirnya saat tiba di UGD RSPP pukul 09.20 WIB, tanpa sempat mendapatkan perawatan. "Ketika tim dokter dan perawat memeriksa pasien, ternyata tim tidak menemukan denyut jantung lagi," ujar Kepala Manajemen Bisnis RSPP Dr Syafik Ahmad.

Penyebab pasti kematian dai kondang dan kharismatik itu, kata Syafik, belum diketahui. Menurut dia, pemeriksaan penyebab kematian ini memerlukan waktu yang tak sebentar. "Namun, pihak keluarga sudah tahu penyakit yang sudah lama diderita almarhum," ujarnya.

Syafik mengatakan, setelah Zainuddin dipastikan meninggal dunia, jenazahnya kemudian dibawa ke kamar jenazah untuk dilakukan otopsi luar selama 45 menit. "Setelah itu jenazah dibawa pulang keluarga," katanya.

Anak kedua Zainuddin, Lutfi, mengatakan ayahnya meninggal akibat penyakit jantung. "Sakit jantung," kata Lutfi di rumah duka. Lutfi mengatakan, ayahnya memang memiliki masalah dengan jantung, darah tinggi dan kolesterol. Beberapa waktu lalu, Zainuddin juga sempat dirawat di rumah sakit.

Jenazah tiba di rumah duka sekitar pukul 10.30 WIB. Rumah di Jalan Gandaria 1 Gang Haom, Jakarta Selatan itu langsung dipenuhi pelayat. Sejumlah tokoh tampak datang melayat, antara lain Menteri Agama Suryadharma Ali yang juga Ketua Umum DPP PPP, raja dangdut Rhoma Irama, Ustad Jefri Al Buchori, penyanyi Hadad Alwi, Dirjen Bimas Islam Nazaruddin Umar, Ketua Umum PP Muhamadiyah Din Syamsudin, mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, sejumlah tokoh dan ulama, serta beberapa artis seperti Akri Patrio, Gunawan, dan Yenni Rachman.

Dari rumah duka, jenazah lalu dibawa ke Masjid Jami Fajrul Islam untuk dishalatkan. Ribuan pelayat menyesaki masjid itu untuk menshalatkan jenazah Zainuddin. Saking banyaknya pelayat, shalat jenazah pun dilakukan hingga beberapa tahap. Tahap pertama dipimpin oleh Rhoma Irama.

"Kami berdua mendirikan persatuan takmir masjid-masjid dan mushola di seluruh Indonesia atas keprihatinan munculnya aliran-aliran Islam yang saling mengkafirkan. Beliau mencita-citakan Ukhuwah Islamiyah. Almarhum menyerukan agar umat Islam tidak arogan dan saling toleransi. Kalau umat Islam bisa bersatu, saling menghargai perbedaan Insya Allah Indonesia bisa jaya," kata Rhoma sambil sesenggukan sebelum memimpin sholat.

Mantan murid Zainuddin, Ustad Jefri Al Buchori juga sempat mengucapkan rasa kehilangannya sebelum shalat jenazah tahap kedua dilaksanakan. "Kita kehilangan macan panggung. Semoga kuburnya menjadi taman surga," ujar Jefri yang hampir menangis.

Setelah dishalatkan, jenazah Zainuddin dikebumikan di belakang masjid tersebut atau persis di depan rumahnya sekitar pukul 15.30 WIB. Isak tangis mengiringi pemakaman Zainuddin MZ. Pelayat tidak kuasa membendung air mata melepas kepergian dai sejuta umat itu. Hingga tadi malam, pelayat masih mengalir ke makam Zainuddin.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan rasa duka citanya kepada keluarga dai terkemuka itu. "Bapak Presiden turut berduka cita atas meninggalnya KH Zainuddin MZ," ujar Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha di Kantor Presiden, Jakarta.

Ucapan duka cita juga datang dari Wakil Presiden Boediono. Di mata Boediono, almarhum adalah dai besar yang selalu mengajarkan Islam sebagai agama yang damai. "Zainuddin MZ adalah dai besar yang selalu mengajarkan Islam sebagai agama yang damai, teduh, dan toleran," tulis Boediono di akun twitternya, @Boediono. "Selamat jalan Pak Ustad," lanjut mantan Gubernur BI ini.

Zainuddin sempat menitipkan pesan buat SBY melalui mantan Ketua KPK Taufiqurrachman Ruki sekitar dua pekan lalu. Ruki sempat ngobrol dengan almarhum. Kiai kondang ini sempat menyampaikan ke Ruki, bahwa dia berharap jika jabatan presiden sudah selesai dan meninggalkan jabatan tersebut dengan khusnul khotimah (akhir yang baik). "Beliau minta itu disampaikan kepada Presiden," kata Ruki saat melayat di rumah duka.

Ruki menambahkan, almarhum Zainuddin dalam pesannya juga berharap ada langkah-langkah pembaharuan yang maksimal untuk kesejahteraan rakyat di negeri ini.

Dari Dakwah ke Politik

Zainuddin lahir di Jakarta 2 Maret 1951 dari pasangan Turmudzi dan Zainabun. Selain aktif di bidang keagamaan, dia juga terjun ke dunia politik. Alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini pernah aktif di PPP. Merasa tidak cocok dengan PPP, Zainuddin mendirikan PPP Reformasi bersama Zainal Maarif. Zainuddin pun menjadi ketua umumnya. Setelah itu, PPP Reformasi berubah menjadi PBR dan Zainuddin pun menjadi ketua umumnya untuk pertama kali.

Ketika friksi terjadi di PBR, Zainuddin kembali ke PPP atas tawaran Ketua Umum PPP Suryadharma Ali. Dalam sebuah wawancara, Zainuddin pernah berucap dirinya masuk ke PPP karena penasaran. "Karena saya penasaran mengapa partai berbasis Islam tidak memenangkan pemilu," ucap dia.

Bersama dengan Rhoma Irama, Zainuddin keliling daerah untuk mengakampanyekan PPP. Karena kerja keras Zainuddin juga, PPP meraih banyak dukungan masyarakat.

Udin, begitu dia disapa keluarganya, kala kecil suka naik ke atas meja untuk berpidato di depan tamu yang berkunjung ke rumah kakeknya. Tak heran ketika belajar di Madrasah Tsanawiyah hingga tamat Aliyah di Darul Ma'arif, Jakarta, ia belajar pidato dalam forum Ta'limul Muhadharah (belajar berpidato).

Udin yang beranjak dewasa pun akhirnya kerap mendapat permintaan ceramah. Namanya pun kian dikenal sebagai dai karena ceramah agamanya kerap diselipi banyolan. Apalagi tutur bahasanya begitu mudah dicerna.

Sebutan dai sejuta umat disandang dia lantaran puluhan ribu umat kerap datang dan menyimak ceramahnya. Saking banyaknya penggemar, kaset rekaman dakwahnya pun diproduksi dan mendapat respons positif dari publik. Tak hanya di kawasan Nusantara, kaset rekaman Zainuddin juga beredar di beberapa negara Asia. Tak hanya lewat kaset dan radio, Zainuddin pun kerap menyampaikan dakwah melalui televisi.

Sebagai dai, penggemar musik dangdut ini juga terkenal dengan kekhasan gaya ceramahnya yang sering menyebut kata 'betul'. "Betul apa betul," begitu biasanya Zainuddin berkomunikasi dengan jamaah kala berdakwah.

Selain sebagai dai dan politisi, Zainuddin juga dekat dengan kalangan selebriti. Bahkan, Zainuddin juga sering diterpa gosip miring terkait hubungannya dengan selebriti.

Terakhir, Zainuddin digugat oleh penyanyi dangdut, Aida Saskia. Aida mengklaim sempat menjalin hubungan asmara dengan Zainuddin. Aida bahkan menyebut telah diperkosa Zainuddin pada sembilan tahun silam. Kasus ini masih belum berakhir, meski sempat direncanakan untuk damai. Islah pernah dijadwalkan digelar di sebuah hotel, namun Zainuddin batal muncul.

Zainuddin meninggalkan 4 anak yakni Fikri Haikal MZ, Lutfi MZ, Kiki MZ, dan Zaki MZ. Dia juga meninggalkan istri bernama Hj Kholilah. Selamat jalan Pak Kiai! (tif/oke/ant/dtc)

Share

Fokus

Enam Tahun Menjual Bendera

Minggu, 10 August 2014
 Enam Tahun Menjual Bendera

TANJUNGPINANG (HK) -  Ibarat jamur di musim hujan. Setiap mendekati momen hari k...

Jejak

Jalan Tanah Bekas Jepang

Senin, 15 April 2013
Jalan Tanah Bekas Jepang

Di sembulang ada sejumlah jejak bekas markas Jepang yang hingga kini masih bis...