Kamis10022014

Last update12:00:00 AM

Back Insert PSK Makin Menjamur di Batam (1)

PSK Makin Menjamur di Batam (1)

Semalam Suntuk Cari Pria Hidung Belang

Oleh: Afrizal dan Nando KT

BATAM-Malam sudah larut. Jarum jam telah menunjuk angka 01.00. Dewi (24) kembali memulas bibirnya dengan lipstik berharga murah. Tidak seperti biasanya, malam itu belum ada pelanggan yang menawar jasa Dewi. Sebelum pagi keburu tiba, Dewi berusaha keras menawarkan diri kepada semua pria yang mondar-mandir di hadapannya.
Dewi adalah seorang pekerja seks komersial (PSK) yang biasa menjajakan diri di sebuah diskotek ternama di bilangan Jodoh, Kota Batam. Hampir setiap malam sejak menginjakkan kaki di Batam sekitar dua bulan lalu, perempuan asal Jawa Timur ini mencari pelanggan di pelataran parkir diskotek itu. Terkadang, ketika memiliki uang untuk sekadar membeli minuman ringan, ia masuk ke dalam diskotek untuk mencari lelaki hidung belang. "Begitulah kebiasaan kami para wanita malam untuk menggaet lelaki yang ingin mengajak kencan," kata Dewi saat ditemui beberapa hari lalu.

Dewi menjelaskan, lelaki yang tertarik menggunakan jasanya biasanya tidak langsung membawanya ke penginapan untuk kencan. Mereka umumnya mengajak happy terlebih dahulu di dalam diskotek dengan minum bir. Saat itulah terjadi proses tawar-menawar harga untuk mendapat layanan seks. Jika cocok, baru berangkat ke penginapan. "Sebelum diboking, kebanyakan para tamu itu mengajak happy terlebih dahulu. Usai happy, apabila proses negosiasi harga tidak ada hambatan, baru kita melanjutkannya ke penginapan untuk kencan," katanya.

Sebagai pekerja seks yang mangkal di pinggir jalan, tarif Dewi tidak terlalu tinggi. Dengan uang Rp150 ribu, Dewi sudah bersedia memberikan layanan seks singkat (short time). "Kadang ada juga yang ngasih dua ratus ribu," ujarnya.

Selain PSK pinggir jalan seperti Dewi, di diskotek itu terdapat beberapa tingkatan PSK yang disesuaikan dengan tempat mereka beroperasi. Ada yang disebut PSK kelas hall, yakni mereka yang mencari mangsa di hall atau dalam gedung diskotek. Tarifnya lebih tinggi sekitar Rp50.000-Rp100.000 dari Dewi. Lalu ada PSK VIP, yaitu perempuan-perempuan wangi dan cantik yang memberikan layanan di kamar VIP. Tarifnya minimal Rp500 ribu untuk short time. "Kalau untuk menemani minum saja Rp50.000. Tapi kalau yang disediakan mami, tarif untuk menemani saja minimal Rp200 ribu," kata salah seorang pria yang biasa datang ke diskotek itu mencari hiburan.

Seperti kebanyakan PSK, Dewi mengaku terpaksa terjun ke dunia hitam. "Siapa sih yang ingin jadi pelacur," ujarnya.

Himpitan ekonomi, kata Dewi, yang memaksanya terjun menjadi PSK. Kecuali menjual diri, ia mengaku tidak tahu lagi harus  berbuat apa untuk menghidupi dirinya dan keluarga di kampung karena tidak memiliki keterampilan dan sekolah untuk melamar pekerjaan. "Tidak tahu mesti bagaimana lagi. Di kampung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sangat sulit. Hidup sebagai petani dan pedagang mustahil. Sekian tahun telah ditinggalkan suami. Berharap harta peninggalan orang tua seperti ladang dan sawah telah ludes dijual oleh keluarga. Jadi beginilah jalan satu-satunya harus ke Batam untuk mengais rezeki, meskipun dengan cara jual diri," tutur Dewi.

Jika Dewi biasa mangkal di depan diskotek dan sekali-sekali masuk ke dalam untuk mencari tamu, Siska lain lagi. Ia biasanya semalam suntuk mencari pelanggan dengan berdiri di jalan depan BCA hingga Morning Bakery, Jodoh. Ia mengaku sudah sekitar dua tahun beroperasi di kawasan itu. "Hampir setiap malam aku dan puluhan cewek-cewek baik itu yang muda maupun yang paruh baya mangkal di emperan ruko di dekat Morning Bakery Jodoh menggoda lelaki yang melintasi kawasan itu untuk diajak kencan ke penginapan maupun di kosan aku," kata Siska tanpa malu-malu.

Kisah kelam Siska berpangkal dari persoalan keluarga. Biduk rumah tangga yang dibinanya dengan suami yang tinggal di Pulau Jawa kandas. Sekian tahun ia mengaku tidak pernah dinafkahi lagi oleh suaminya. "Untung dua anak aku telah terlebih dahulu dititip ke orangtua. Kalau tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi," tuturnya.

Pertama kali terjun menjadi PSK pinggir jalan di Jodoh, Siska mengaku canggung dan malu karena sebelumnya belum pernah menggeluti profesi itu. Tapi rasa canggung itu hilang dengan sendirinya seiring dengan bergulirnya waktu. Kini, ia tidak peduli dengan cibiran orang atas profesinya asalkan uang masuk. "Mau dikata apa. Untuk mencari kerjaan lain di Batam ini tidak gampang. Semua perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang berpendidikan, paling rendah SMA. Sedangkan saya tidak tamat SMP. Ya terpaksa pasrah menjalani nasib begini," ujarnya.

Menjadi PSK pinggir jalan di kawasan Jodoh, Siska dan rekan-rekannya bukannya tanpa masalah. Setiap malam mereka selalu dihantui rasa takut menjadi korban pemalakan para preman dan orang-orang tak bertanggung jawab lainnya. Tapi momok yang paling mereka takutkan adalah terkena razia Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan aparat kepolisian. "Yang paling kita takuti yakni saat ada razia dari tim gabungan Satpol PP dan aparat kepolisian. Kalau tim razia datang, kami sengsara. Tidak ada uang masuklah," katanya.

Meski demikian, Siska mengaku tidak tertarik pindah ke lokalisasi Sintai, Teluk Pandan, Tanjung Uncang. Menurutnya, lokalisasi itu tidak cocok dengan kehidupan bebasnya menjadi PSK di tengah kota seperti di kawasan Nagoya dan Jodoh. "Saya kira cewek-cewek di sini akan menolak jika pemerintah berencana memindahkan ke kompleks lokalisasi Sintai. Di sana memang aman dari gangguan dan razia. Tapi, dengan lokasi yang begitu jauh dari keramaian jelas saja tamu sedikit dan bisa membuat pikiran suntuk sehingga nantinya tidak bisa berbuat apa-apa. Biarlah kita dengan kondisi begini. Hidup dengan menyewa kamar-kamar di ruko kawasan ini," ujarnya.

Pusat Rehabilitasi Non-Panti Teluk Pandan atau lebih dikenal dengan lokalisasi Sintai sengaja didirikan Pemerintah Kota Batam beberapa tahun lalu untuk menghindari praktek prostitusi di tengah-tengah kota. Tapi, tujuan itu ibarat panggang jauh dari api karena faktanya bisnis prostitusi tetap marak di seantero Batam, termasuk di pusat kota Nagoya dan Jodoh.

Di Sintai sendiri, ada ribuan PSK yang beroperasi di sejumlah bar yang dibangun di lokasi itu. Hampir setiap malam kompleks pelacuran itu dipenuhi lelaki hidung belang, baik warga negara Indonesia maupun warga asing yang rata-rata bekerja di kawasan industri galangan kapal (shipyard) Tanjunguncang. Saking banyaknya pria hidung belang yang datang ke sana, beberapa waktu lalu anggota DPRD Kota Batam dari PKB Riki Syolihin sempat mengeluarkan usulan 'nyeleneh'. Ia mengusulkan untuk memungut retribusi sebesar 10 persen dari pengguna jasa PSK di lokalisasi itu. Tapi usulan itu kandas karena menuai reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk dari pemerintah pusat. **

Share