Kamis10022014

Last update12:00:00 AM

Back Insert Berbagi Minuman Kaleng Saat Lebaran

Berbagi Minuman Kaleng Saat Lebaran

Membagikan minuman kaleng jelang lebaran menjadi kebiasaan bagi masyarakat Batam. Beberapa pekerja sedang menurunkan minuman kaleng dari tokonya. NET Kebiasaan Ekonomis Jalin Silaturahmi

BATAM- Berbagi minuman kaleng menjelang lebaran sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Batam, bahkan Provinsi Kepri. Namun, kebiasaan ini bukanlah suatu tradisi di ranah Melayu.


Kebiasaan yang mem-booming sejak tahun 1970-an ini menurut Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri Abdul Razak merupakan kebiasaan baru sebagai bentuk perhatian terhadap masyarakat Muslim yang akan merayakan lebaran.

"Di Tanah Melayu, kebiasaan ini terbilang baru. Dulu, kami tidak mengenal istilah parcel, atau bingkisan menjelang lebaran. Dulu itu hanya ada saling berkunjung di saat lebaran, dan memberi bingkisan kepada sesepuh atau yang dituakan oleh anak-cucu, sanak-famili"ujar Abdul Razak.

Namun begitu, kebiasaan yang bisa dikatakan trend saat ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi sebagai tanda bahwa pemberi mengingat kenalan yang diberinya.

"Memberi minuman kaleng ini sebagai bentuk mempererat tali silaturahmi, dan bentuk menghargai bahwa yang diberi diingat oleh si pemberi. Tetapi ini bukan budaya atau tradisi, hanya kebiasaan saja," ujar Abdul Razak.

Ketua Kadin Kota Batam Nada Fasa Soraya mengatakan, kebiasaan membagikan minuman kaleng menurutnya merupakan sesuatu yang positif.

"Saya tidak tahu sejak kapan ada kebiasaan ini. Tetapi sejak keluarga saya di Batam tahun 1980 an, meskipun saya belum disini, kebiasaan ini sudah ada. Kebiasaan ini cukup positif sebagai pengganti parcel lebaran," ujar Nada.

Meski dirinya tidak mengetahui siapa yang memulai kebiasaan ini pertama kali, namun pemberian minuman kaleng menjelang lebaran kepada relasi atau kenalan tersebut merupakan suatu hal yang praktis.

"Banyak cara yang dilakukan orang untuk memberi, apakah bentuk sembako, parcel, minuman, mukena. Intinya yang saya tangkap sebagai sarana untuk memperarat tali silaturahmi," ujar Nada.

Rumbadi Dalle, wartawan senior di Batam yang juga ketua Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi (PWI Reformasi) menyebutkan kebiasaan memberi minuman kaleng sudah ada sejak lama.

"Tidak tahu pasti awal kebiasaan ini. Tetapi, sekitar tahun 1980 an, belum begitu banyak. Hanya orang-orang tertentu saja yang mendapatkannya. Orang dilingkungan pengusaha, atau dilingkungan pejabat,"ujar Rumbadi.

Minuman kaleng menurut Rumbadi menjadi pilihan karena praktis sekaligus sangat ekonomis. Sekarang, telah banyak perusahaan-perusahaan yang memberikan minuman kaleng kepada karyawannya yang melaksanakan Idul Fitri, bahkan Natal sebagai bingkisan atau parcel

"Dulu minuman kaleng satu kes di pasaran hanya Rp10.000-12.000 saja. Sekarang sudah beragam, bahkan ada yang di atas Rp100.000," ujar Rumbadi.

Minuman kaleng menjadi alternatif karena biasanya saat lebaran, banyak kenalan yang berkunjung. Dengan minuman kaleng akan lebih praktis dan lebih ekonomis.

Kebiasaan membagikan minuman kaleng menjadi pasar tersendiri bagi pedagang. Pedagang besar, bisa meraup untung berlipat dibandingkan hari biasanya. Hari biasanya minuman kaleng laku dibawah 100 kes, hari-hari menjelang lebaran bisa mencapai 1.000 kes.

Seperti yang dituturkan oleh Evi, pemilik toko Anggrek Baru di kawasan Nagoya Business Centre. Menurut Evi, memasuki minggu kedua Ramadhan, permintaan terhadap minuman kaleng sangat tinggi. Per hari bisa mencapai 1.000 kes.

"Dari tahun ke tahun permintaanya meningkat. Apalagi merek minuman semakin banyak juga," ujar Evi.

Harga minuman kaleng saat ini juga bervariasi, paling murah Rp42.000 per kes, dan paling mahal Rp99.000.

"Kita ambil untung kecil saja, tetapi perputarannya lumayan. Banyak yang ambil barang di sini pengusaha yang akan dibagikan ke karyawannya," terang Evi.(pti)

 

Share