Kamis04172014

Last update12:00:00 AM

Back Insert Hengki Suryawan, Anak Nelayan Miskin, Kini Punya 100 Kapal

Hengki Suryawan, Anak Nelayan Miskin, Kini Punya 100 Kapal

TANJUNGPINANG-Hengky Suryawan pengusaha sukses yang punya 100 kapal ini bukanlah berasal dari keluarga kaya. Ia terlahir dari keluarga Nelayan, pasangan Khek Yau Kim dan Tan Ai Kim di Desa Sungai Ungar, Kundur, Tanjung Balai Karimun 4 September 1949.
Ia merupakan anak ketujuh dari 14 saudara yang terdiri dari delapan laki-laki dan enam perempuan. Berada di tengah keluarga yang sangat besar masa kecilnya dilalui dengan penuh perjuangan. Dari kecil Henky sudah terbiasa melawan kerasnya kehidupan.

Sewaktu masih duduk dibangku sekolah dasar (SD) yang kala itu disebut dengan sekolah rakyat (SR), ia sudah terdidik untuk mencari uang walaupun itu hanya untuk membantu kehidupan orang tuanya.

"Udang dan ikan hasil tangkapan orang tua saya, sayalah yang menjualnya. Hasil tangkapan tersebut tidak saya jual ke pasar tapi saya jajakan dengan sepeda dari rumah ke rumah sehingga lebih mahal terjualnya," kenang Hengky saat wartawan koran ini bertandang di kediamannya di Jalan Wiratno nomor 28 Tanjungpinang, akhir pekan lalu.

Saat ini, kata Hengky kehidupannya memang telah sangat jauh berubah. Ia bukanlah anak nelayan miskin lagi. Ia telah memiliki kerajaan bisnis yang bahkan telah merambah ke beberapa negara. Ia telah memiliki 100 kapal yang terdiri dari berbagai jenis, seperti  kapal penumpang, kapal kargo dan juga jenis tugboat dengan tongkangnya yang digunakan untuk menopang 20-an perusahaan yang terhimpun dalam kerajaan bisnisnya.

Sedangkan berbagai bidang bisnis lain yang ditekuninya adalah, usaha galangan kapal, pom bensin, pertambangan, mall, hingga perhotelan. Semua bisnisnya sudah berjalan dalam satu sistem yang sangat sistematis, sehingga ia tak perlu repot untuk mengurus usahanya yang berinduk pada PT Bahtera Bestari Shipping (BBS).

Sedangkan PT BBS sendiri sebagai induk usahanya merupakan perusahaan pelayaran nasional dan galangan kapal. Kemudian juga PT Bintan Marina Shipyard, perusahaan galangan kapal yang beroperasi di Kampung Bulang, Tanjungpinang dan PT Bumi Citra Patra yang beroperasi di Batam.

Selanjutnya ada pula PT Pantai Pasir Putih, PT Bangka Pasir Mutiara, dan PT Pantai Pasir Kuning yang notabene merupakan perusahaan yang bergerak di bidang ekspor pasir. Di bidang perhotelan ada Hotel Laguna yang berdekatan dengan Bintan Mall juga berada di Kota Tanjungpinang, Ibukota Provinsi Kepri.

"Semua sudah tertata dalam satu sistem dengan memanfaatkan teknologi, jadi usaha saya bisa berjalan dengan sendirinya. Dan yakinlah dengan sistem yang bagus usaha kita takkan pernah tergantung pada individu tertentu. Jika bicara hebat, banyak kita lihat orang hebat dibanding saya yang hanya mengenyam pendidikan hingga kelas dua SMP," ujarnya.

Dikenal sebagai pengusaha top di Provinsi Kepri, Hengky memang jarang terekspos media. Tapi bukan berarti ia merasa takut asetnya diketahui publik. Karena baginya ketika usaha yang dilakukan legal dan sesuai dengan peraturan yang berlaku, membayar pajak bagi negara maka hal itu cenderung klise jika dikatakan takut.

"Apa yang mau saya cari dengan pupolaritas, mau jadi pejabatpun juga tak mungkin karena saya bukanlah orang sekolahan. Dari pada mencari popularitas, saya lebih suka menyibukkan diri di organisasi sosial, keagamaan, di samping bisnis dan bermain golf yang memang menjadi hobi saya. Terkait aset saya juga tak perlu takut bicara, silakan cek semua ril adanya, " ujar Hengky yang tercatat sebagai wajib pajak teladan dalam enam tahun terakhir di Kota Tanjungpinang.

Di usianya yang menanjak 62 tahun, Hengky saat ini lebih banyak menghabiskan hari tuanya untuk urusan keagamaan. Sesuai dengan keyakinannya pada Agama Budha, ia juga dipercaya sebagai Ketua Walubi Provinsi Kepri. Ia kini juga banyak bermain bersama cucunya. Sedangkan operasional bisnisnya dijalankan empat anaknya yang terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan.

Diakui Hengky, untuk mencapai hasil seperti sekarang ini, berbagai tantangan telah ia lalui. ”Saya lahir dari keluarga susah, dan semua saya mulai dari nol sebagai nelayan,” ungkap Hengky sembari tersenyum mengenang masa muda yang penuh liku dan perjuangan. Usaha pelayaran ia geluti sejak usia 18 tahun, setelah sebelumnya pada masa konfrontasi dengan Malaysia sempat menjadi penyelundup senjata dari Singapura yang kemudian dipasok ke Angkatan Laut Indonesia.

"Itu saya lakukan tahun 1966-1967, yang mana dari belasan kawan waktu itu hanya saya yang tidak diakui sebagai veteran. Karena saya belum genap berusia 17 tahun. Bagi saya hal itu bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Bukankah saat itu saya bekerja demi membela negara yang saya cintai. Toh jika dibandingkan dengan bintang jasa yang diberikan bagi veteran tidaklah sebanding dengan apa yang telah kami lakukan dengan bertaruh nyawa dan main kucing-kucingan dengan AL Malaysia," kata Hengky.

Pada Tahun 1970, Hengky mulai merintis usaha perkapalan dengan menyewa sebuah kapal kayu untuk membawa sembako. Pada Tahun 1971 ketika berusia 22 tahun atau setahun setelah terjun di bidang pelayaran, Hengky berhasil membeli sebuah kapal kayu yang diberi nama Sepaham, berkapasitas 90 ton, yang dibelinya seharga Rp2,5 juta kala itu. Kapal itu digunakan untuk melayani angkutan barang dari Tanjungpinang-Tanjung Balai Karimun-Tanjung Batu-Jakarta.

"Pada tahun itu, hanya ada tiga kapal dengan kapasitas 90-100 ton yang masuk ke Tanjungpinang, ditambah kapal saya semua jadi empat kapal,” cerita Hengky.

Perusahaan pertama yang dimilikinya, lanjut Hengky adalah PT Takari Raya yang dibelinya pada tahun 1978 dari pemilik lama yang bernama Tua Tao. Nama Takari sendiri begitu melekat pada diri Hengky hingga saat ini, yang mana warga Tanjungpinang maupun Kepri lebih mengenal sosoknya sebagai Hengky Takari dibandingkan Hengky Suryawan yang merupakan nama aslinya.

Ia menilai perkembangan bisnis pelayaran hingga sekarang,masih sangat bagus. Permintaan kapal baru sangat tinggi, apalagi jika dibandingkan dengan wilayah Kepri yang 96 persennya terdiri dari lautan sehingga transportasi laut menjadi teramat penting. Selain itu, kebutuhan transportasi buat mengangkut pasir di Singapura amat besar.

Saat ini Singapura membutuhkan pasir untuk menimbun laut (kedalaman 28 meter) sebanyak 100 juta m3. Namun, yang bisa dipenuhi hanya 20 juta m3. Hal ini disebabkan hanya ada empat perusahaan yang ditunjuk untuk mengangkut 5 juta m3 per kapal. Hengky memperhitungkan, Singapura membutuhkan kapal tongkang 60 set (300 feet) untuk mengangkut pasir dalam waktu lima tahun ke depan tak hanya dari Indonesia, tapi juga dari Kamboja, Vietnam dan Filipina.

Sedangkan galangan kapal yang ada di Batam dan Tanjungpinang sudah penuh kapasitasnya untuk pengadaan kapal baru. Galangan kapal di dua tempat ini, lebih difokuskan untuk memproduksi kapal tongkang dan tug boat (kapal pandu). Total produksinya berkisar 10-15 set atau 20-30 kapal yang mana satu set terdiri dari dua kapal, yaitu tongkang dan tugboat.

Terkait iklim investasi saat ini, pengusaha kawakan yang sudah menjalani sejak  masa orde lama, orde baru, dan reformasi sedikit miris melihat kondisi saat ini. Ia menyoroti lemahnya penegakkan aturan dan kepastian hukum bagi pengusaha.

"Jujur saya katakan iklim investasi sebanarnya saat ini kurang bagus, dimana kepastian hukum terkait sebuah aturan begitu lemah dan sering merugikan pengusaha. Padahal yang dibutuhkan pengusaha sebelum menginvestasikan asetnya adalah hal ini, siapa yang berani berjudi dengan kondisi seperti ini," mirisnya.(darul)

Share