Minggu11232014

Last update12:00:00 AM

Back Insert Mereka Tidak Akan Bisa Melaut Lagi

Mereka Tidak Akan Bisa Melaut Lagi

Saat menikmati kopi hitam pahit di sebuah tempat ngopi di Nagoya, saya mendapatkan pesan singkat di telepon seluler saya. Sms tersebut berbunyi ajakan hunting foto (berburu foto-red) landscape dan humas interest di Pantai Hidayah atau Pantai Stres. Langsung saja sms itu saya balas dengan menyatakan kesanggupan untuk bergabung dalam sesi hunting itu.

Sesuai dengan isi sms itu, maka saya tepat pukul 16:00, Sabtu itu saya menenteng tas khusus kamera di punggung. Lengkap dengan satu unit kamera DSLR, satu unit lensa lebas atau wide, tripod penyanggah kamera karena akan melakukan hunting foto landscape, dua filter GND yang khusus digunakan untuk membantu menciptakan foto indah pemandangan. Dua flash yang digunakan untuk memotret suasana perkampungan nelayan di Pantai Stres. Sepeda motor sayapun saya geber dari rumah menuju lokasi yang telah dijanjikan oleh teman-teman sesama pehobi foto.

Sepuluh menit berselang sayapun tiba di pantai yang berada tepat di samping pelabuhan laut khusus Harbour Bay, Jodoh itu. Saat tiba di sana, betapa terkejut saya melihat kondisi pantai yang seminggu sebelumnya saya datangi berubah drastis.

Pantai yang memiliki pasir putih walau tidak terlalu bersih itu kita sudah berdiri patok-patok yang tampaknya akan dibangun pagar beton. Saat saya  sandarkan sepeda motor di depan sebuah warung yang berada tepat di gerbang pantai yang juga terdapat pelabuhan rakyat itu, rombongan teman-teman sesama fotografer dengan wajah lesu menghampiri saya. "haduuuuuuuuuh....apa yang harus kita foto lagi? bibir pantai yang indah dulu itu, yang banyak terdapat jejeran batu karang itu hilang. Sudah ditutupin oleh pasir galian," ucap teman saya yang terlihat gontai duduk di kursi kayu warung kopi yang sebenarnya sangat sederhana itu.

Melihat wajah-wajah lesu kawan-kawan tersebut sayapun terbawa suasana, saya kemudian bergabung dengan mereka dan memandang kosong ke ujung bibir pantai yang sedang dipenuhi oleh alat berat untuk memasang pancang-pancang beton sekitar 10-15 meter dari bibir pantai. "hilang sudah lokasi spot hunting foto kita," sambut teman saya yang lainnya.

Kenapa orang-orang serakah itu, ujar seorang sahabat yang bisa dibilang ahli foto lanscape merusak keunikan dan keindahan komunitas kampung nelayan ini?. "Coba renungkan, jumlah warga yang bermukim di kampung ini bisa mencapai ratusan kepala keluarga. Dan di dalam komuni ini terdiri dari beragam suku, budaya dan tentu saja agama. Ketika kampung ini nantinya dibumi hanguskan tentu saja semuanya akan hilang, sirna oleh angkuhnya deru alat berat dan timbunan tanah reklamasi." jelasnya.

Iya, coba lihat di sana sambung seorang teman lagi yang melihat sebuah biduk yang baru pulang melaut menambatkan perahu mereka di pilar besi baja yang dipasak di garis pantai itu. "Lihat di sana, biasanya sampan itu dengan bebasnya berlayar hingga ke pasir dan menambatkannya tepat di tiang rumah mereka. Namun sekarang?...bapak itu terpaksa menambatkannya di pilar itu." katanya lagi.

Pantai Hidayah atau Pantai Stress ini adalah kampung nelayan yang dulunya juga warga yang tergusur oleh pembangunan pelabuhan harbour bay. Setelah tergusur beberapa tahun lalu, mereka pindah ke samping pelabuhan karena warga yang sebagian besar nelayan perantauan dari Sumatera Utara, NTT dan Melayu sendiri kebingungan harus pindah kemana. karena jika pindah ke darat, mereka   harus tidak melaut lagi. Padahal ke laut adalah satu-satunya keahlian mereka. Tentu saja ini akan menyebabkan mereka kehilangan mata pencaharian. Kini, saat mereka sedikit tenang bermukin di kawasan pantai stress itu, kembali bakalan digusur. Dan kini mereka akan semakin bimbang dan kebingungan, harus mencari nafkah dimana lagi. TUNDRA LAKSAMANA

Share