Sabtu12272014

Last update12:00:00 AM

Back Insert 9 Tahun Bekerja Tanpa Digaji

9 Tahun Bekerja Tanpa Digaji

Pegawai Dinsos Kota Batam memberi pengarahan kepada sejumlah TKI yang dideportasi dari Malaysia, Senin (2/7) di Shelter Dinsos di Sekupang. Taslimahudin.

Murfi, TKI yang Dideportasi

SEKUPANG (HK) - Banyak cerita pilu yang datang dari para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di negara Malaysia. Sayangnya, meski dianggap sebagai pahlawan devisa negara, namun nasib mereka acapkali tidak mendapat perlindungan memadai dari pemerintah Indonesia. Apatah lagi pemerintahan Malaysia.

Salah satunya, seperti yang dialami Murfi Mulandari, TKI asal salah satu kabupaten di Jawa Timur yang berangkat ke Malaysia, sembilan tahun silam. Perempuan yang cuma lulusan sekolah dasar ini harus menelan pil pahit. Selama sembilan tahun bekerja di negeri "Upin dan Ipin" itu, dia tak ada menerima bayaran seringgit pun.

Yang ada, perempuan yang gaya bicaranya lebih kental aksen Melayu-Malaysia-nya dibanding Jawa ini, malah kerap menerima perlakuan kasar. Dia mengaku sering disiksa oleh majikannya. Ditemui di Shelter Dinas Sosial (Dinsos) Kota Batam, Senin (2/7), Murfi menuturkan kisahnya.  

Pada awalnya, tak pernah terlintas sedikitpun dalam benak Murfi untuk merantau, apalagi sampai ke luar negeri. Namun, himpitan ekonomi yang mendera keluarganya, memaksa dia untuk berbuat lain. Tambah lagi, orangtuanya sedang sakit-sakitan.

Maka, berangkatlah di bersama 14 orang temannya ke Malaysia. Tak lama setelah Murfi menyelesaikan pendidikan di sekolah dasarnya.

"Umur saye waktu tu maseh keci' lagi. Saye berangkat tak ade bawak ape-ape. Kate nak dipekerjakan kat restoran-lah, tapi jadi pembantu dekat sane. Saye langsung tak dapat kabar keluarga saye," ujar Murfi yang mengaku saat ini berusia 21 tahun itu dengan logat Melayu.

Pengakuan Murfi, saat diberangkatkan, umurnya di dokumen dipalsukan oleh agen TKI di daerahnya.  Namun, ia mengaku sudah lupa dimana daerah tempat agen itu berada. Yang diingatnya, dia dibawa ke daerah dekat Blitar dan kemudian ke Batam lalu menyeberang ke Malaysia.

"Setau saye dekat Blitar, Tanjung sari. Tapi tak taulah kat mane pastinya. Name ayah saye Hidayat, nama ibu Mardiyah," katanya.

Mirisnya, Murfi juga mengaku sudah mulai lupa dengan wajah kedua orangtuanya. Dia cuma ingat, mereka satu keluarga ada empat bersaudara.

Di Malayisia, katanya, dia sudah beberapa kali pindah tempat kerja. Itu dilakukan lantaran dari satu majikan ke majikan lain, dia sering mendapat perlakuan kasar. Sejak tinggal dan bekerja selama sembilan tahun di negara itu, sudah beberapa kali dipindahkan tanpa digaji.

"Mulai dari Malaka, Selangor hingga Batu Pahat saye bekeje, karena dah tak tahan dan sering juge dipukul, jadi saye kabur. Saye dibantu boyfriend (kekasih) saye, Mohammad Fairul Bin Isa. Itulah saye tak dapat bawak ape-ape. Sekarang ini saye kosong, uang tak ade, pasport, KTP atau apapun juga," katanya.

Murfi sendiri, dideportasi dari Malaysia ke Indonesia bersama belasan TKI lainnya. Mereka dipulangkan melalui Batam. Dan saat ini sedang menunggu proses pemulangan ke daerah asal di Shelter Dinsos Kota Batam di Sekupang. Menurut Murfi, terakhir dia kabur dari rumah majikan saat bekerja di restoran. Dia dibantu oleh teman sesama TKI yang kemudian membawanya ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia.

Sementara itu, Febriana, pendamping TKI dari Kementerian Sosial (Kemensos) RI mengatakan, terkait permasalahan yang dialami Murfi, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial di Blitar, Jawa Timur. Itu untuk mencari tahu alamat keluarga Murfi.

"Kalau seperti sebelumnya, Kita bantu mencari alamatnya. Namun, tentu dengan berbagai koordinasi dengan pihak Dinsos. Karena mereka tentunya yang lebih tau," ujar Febriana.

Selain Murfi, lanjut Febriana, ada 12 perempuan ditambah satu bayi berusia 32 hari yang dideportasi dari Malaysia melalui pelabuhan Batam Centre. Mereka dipulangkan dengan berbagai permasalahan yang dialami. Mulai dari tidak tahan, kabur dari rumah majikan dan lain sebagainya.

"14 TKI ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Lampung, Sidoarjo, Tangerang, Karawang, Mojokerto, Probolinggo, Medan dan Atambua. Rencanannya, semua akan dipulangkan hari Rabu (4/7) melalui Jakarta. Hanya saja, ada satu orang yang akan diambil oleh pihak agen yang membenrangkatkan. Namun itu semua tergantung orangnya," jelas Febriana. (taslimahudin)

Share