Kamis08212014

Last update12:00:00 AM

Back Insert Tradisi Bubur Asyura di Tanjung Uma

Tradisi Bubur Asyura di Tanjung Uma

Dalilah Harap (52) melayani warga Tanjunguma yang meminta bubur Asyura buatanya secara gratis, Senin (6/8). TUNDRA/HALUAN KEPRIDisaat bulan puasa datang, berbagai makanan dan tradisi Melayu muncul kepermukaan. Begitu juga dengan makanan khas yang satu ini, Bubur Asyura atau dikenal juga dengan bubur lambuk.

Bubur Asyura bagi masyarakat melayu terkenal dengan cita rasanya, disamping itu keberadaannya ditengah hidangan berbuka puasa, menjadi tanda berbagi kecerian diantara sesama warga, bahkan keberadaan bubur Asyura sangat identik dengan nuansa bulan Ramadhan.

Bubur yang terbuat dari beras, santan cair, santan kental, garam, daun salam, ikan bilis, serta wortel tersebut, konon ceritanya, lahirnya nama bubur tersebut berawal dari peritiwa 10 Muharram yang erat kaitannya dengan Hari Asyura.

Berawal dari angka 10 tersebut, maka dalam membuat ramuan bubur Asyura, campuran ramuan hendaklah terdiri daripada 10 jenis bahan makanan, jangan dikurang dan jangan dilebih. Jika tidak, ia tidak dinamakan bubur Asyura.

Disamping itu Bubur Asyura dalam masyarakat Melayu bertitik tolak dari dua sandaran, Cerita Bahtera Nabi Nuh a.s, menceritakan bahwa, ketika bahtera Nabi Nuh a.s. berlabuh di bukit Juudi pada Hari Asyura’, maka berkatalah ia pada umatnya :

“kumpulkan apa yang kamu miliki daripada makanan yang ada”. Maka, dibawalah satu genggam kacang poi dan satu genggam kacang Adas serta  tepung sehingga menjadi tujuh bagian biji-bijian yang dimasak. Maka idsebutkan berkatalah Nabi Nuh A.S :

“Masaklah sekeliannya kerana kamu sudah mendapat kesenangan sekarang, dan berbagilah dengan sesama," sehingga diyakini titah atau perkataan nabi nuh AS ini menjadi pijakan bagi masyarakat untuk selalu menjaga tradisi memasak bubur Asyura setiap bulan puasa datang.

Adalah, Dalilah Harap (52), warga Tanjung Uma, Batam, yang sampai saat ini masih menjaga tradisi memasak bubur Asyura. Ramadan menjadi bulan yang berbeda bagi dia dan keluarganya. Setiap hari dirinya yang juga dibantu para kerabat memasak sekitar 10kg beras untuk membuat bubur Asyura.

Baginya, selain menjaga tradisi, memasak bubur Asyura juga merupakan jalan untuk berbagi dengan sesama. Sebelum matahari bersinar terik, wanita paruh baya tersebut mulai mengaduk seluruh bahan yang diperlukan untuk memasak bubur Asyura. perlahan-lahan bahan yang diperlukan diaduk menjadi satu. Untuk menciptakan dan memelihara cita rasa yang nikmat, Dalilah berusaha melengkapi seluruh bumbu yang diperlukan.

Dibutuhkan waktu selama empat jam untuk menghasilkan bubur Asyura dengan kualitas masak yang sempurna. Ketika Zuhur menjelang, Dalilah telah merampungkan aktifitasnya. Selanjutnya bubur tersebut siap untuk dibagikan kepada sejumlah warga.

Selepas sholat Azhar, antrian panjang warga dipelataran salah satu mesjid di Tanjung Uma, bukan pemandangan yang luar biasa. Dengan membawa tempat penganan seadanya, para warga yang didominasi oleh kaum ibu dan anak-anak, berusaha untuk mendapatkan pembagian bubur Asyura.

Teriakan kaum ibu serta diselingi suara pekikan anak-anak yang minta diprioritaskan mendapatkan bubur Asyura, menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang menyaksikannya. Nuansa kebersamaan dan rasa kekeluargaan semakin kental terasa. Sehingga pada akhirnya pembagian bubur akan berakhir seiring dengan telah habisnya pasokan bubur.

Dalam setiap pembagian bubur Asyura, sangat jarang warga yang tidak kebagian, karena sebelum memulai aktifitas memasak, terlebih dahulu diperkirakan kebutuhan para warga, sehingga pasokan yang dimasak telah disesuaikan dengan kebutuhan warga.

Bagi Dalilah, ada suatu kebanggan yang tidak terkira, ketika apa yang dilakukannya mendatangkan manfaat bagi orang lain, diakuinya, banyak pelajaran dan pesan yang tersimpan dari tradisi memasak bubur Asyura, selain rasa kebersamaan, juga membuat Ramadhan, menjadi bulan yang sangat dinanti-nantikan oleh seluruh warga.

Tidak itu saja, bubur yang setiap harinya menghabiskan anggaran sebesar Rp350.000 tersebut dan berasal dari sumbangan para warga, tidak jarang juga dinikmati oleh selain umat Islam. bahkan para warga Tiong hoa yang ikut antri untuk mendapatkan semangkok bubur Asyura, bukan pemandangan yang aneh. Semuanya akan diberi kesempatan untuk menikmati bubur tersebut.

Ketika lantunan ayat Alquran, pertanda waktu berbuka segera datang, Dalilah, segera bergegas meninggalkan mesjid tempat dia menjalankan aktifitas keseharian. Wanita yang sudah belasan tahun tinggal di kampung Tanjung Uma tersebut segera bergegas pulang untuk mempersiapkan segala sesuatu menyosong berbuka puasa datang. *** (cw/62)

Share