Rabu05242017

Last update05:00:00 AM

Back Karimun Musim Malung Rebutan Nelayan

Musim Malung Rebutan Nelayan

camat durai agung jati kusuma saat memeriksa jaring malungKARIMUN (HK)-Musim ikan malung kerap menjadi rebutan nelayan tradisional di Kabupaten Karimun. Musim ikan ini biasanya terjadi dua kali dalam setahun. Ketika musim ikan malung tiba, maka hampir semua nelayan berebut untuk menangkapnya. Ikan ini banyak dijumpai di perairan Pulau Rukau, Kecamatan Durai.

Ikan malung berbentuk panjang seperti belut, yang menjadi rebutan nelayan bukan karena dagingnya yang enak. Nelayan memburu ikan ini untuk mengambil limpa. Harga limpa ikan malung mencapai Rp400 ribu per kilogram. Limpa ikan ini biasanya digunakan untuk keperluan medis, yakni sebagai pengganti daging untuk saat menjahit luka pada manusia.

"Ikan malung memang menjadi rebutan nelayan. Ikan ini banyak ditemukan di perairan Pulau Rukau, Kecamatan Durai. Pada musim ikan ini tiba, maka nelayan berebut memasang utas malung di perairan itu. Akibatnya, sering terjadi bentrok antara nelayan," ungkap Camat Durai, Agung Jati Kusuma di Tanjungbalai Karimun, Kamis (18/5).

Kata Agung, bentrokan antar nelayan tradisional saat memperebutkan wilayah tangkapan ikan malung sering terjadi di Kecamatan Durai. Bentrokan itu antara nelayan Durai dengan nelayan kecamatan lain.  Bahkan, ada yang sampai membakar kapal nelayan. Kejadian itu tentu saja harus berujung kepada proses hukum.

Menurut dia, peristiwa terakhir terjadi pada 28 April 2017 sekitar pukul 13.15 WIB lalu di perairan Rukau, Desa Sanglar, Kecamatan Durai. Saat itu, sebanyak 50 orang nelayan asal Desa Semembang turun ke laut mengamankan 135 utas jaring ikan malung milik Roslan, nelayan asal Tanjungbalai Karimun. Untung saja tidak terjadi bentrokan fisik.

"Sebanyak 50 orang nelayan dari Desa Semembang, Kecamatan Durai turun ke laut menggunakan pompong sebanyak 5 unit. Mereka turun untuk mengamankan jaring malung milik Roslan, nelayan asal Tanjungbalai Karimun. Jumlah jaring yang diamankan itu sebanyak 135 utas. Jaring itu diamankan di Desa Semembang," tutur Agung.

Agung menyebut, untung saja persoalan itu cepat diketahui oleh seluruh perangkat desa hingga kecamatan, sehingga bentrokan antar nelayan bisa dihindari. Nelayan Desa Semembang hanya mengamankan jaring malung milik nelayan asal Tanjungbalai Karimun saja ke desa mereka.

Dijelaskan, harga jaring malung itu yang disita nelayan itu cukup mahal. Satu utas jaring biasanya dibeli dengan harga Rp1 juta lebih. Jaring yang diamankan saat itu sebanyak 135 utas. Untuk menghindari hal-hal yang diluar dugaan, maka pada 2 Mei dilakukan pertemuan dengan dua belah pihak di Desa Semembang yang dihadiri Polsek Moro, UPTD Dinas Kelautan dan Perikanan Durai.

"Dari hasil pertemuan dua belah pihak itu akhirnya disepakati, nelayan jaring ikan malung melakukann aktivitas operasionalnya dari Pulau Rukau ke arah timur sejauh 7 mil. Nelayan tradisional melakukan aktivitas penangkapan dari 7 mil ke arah Rukau. Adapun batas perairan untuk operasi akan dipasang tanda atau boya," pungkas Agung. (ham)

Share