Sabtu11252017

Last update05:00:00 AM

Back Karimun Ekonomi Karimun Turun Drastis

Ekonomi Karimun Turun Drastis

KARIMUN (HK)- Sejak pertengahan 2016 hingga akhir 2017 ini pertumbuhan ekonomi Karimun benar-benar turun drastis. Beberapa sektor usaha di Karimun mengalami kelesuan, mulai dari properti, perhotelan, restoran dan rumah makan, automotif hingga perbankan. Hanya perkapalan (shipyard) yang masih produksi.   "Semua sektor ekonomi di Karimun lesu. Mulai dari properti, automotif, perbankan hingga usaha perkapalan. Para pengusaha di Karimun belum bisa mengembangkan jaringan usaha dengan kondisi saat ini. Dengan mampu bertahan saja, saya rasa sudah sangat cukup," ungkap Ketua Asosiasi Pengusaha Karimun, Alex Ng, Minggu (12/11).

Ia belum bisa memprediksi ekonomi Karimun bisa pulih lagi. Namun dia hanya berharap, pemerintah pusat maupun daerah bisa mengubah sistem regulasi dengan mempermudah perizinan tanpa harus melewati birokrasi yang berbelit-belit. Jika itu sudah mulai berjalan, maka gairah ekonomi Karimun akan tumbuh kembai.

"Kalau pemerintah mampu merubah regulasi dan mempermudah perizinan, maka saya yakin lambat laun investor akan kembali berminat mengembangkan usaha. Jika usaha berkembang dan ekonomi kembali bergairah, maka para pelancong akan kembali datang. Tentu saja pertumbuhan ekonomi akan semakin baik lagi," jelasnya.

Pengamat ekonomi Karimun, Sujoko menambahkan, para pelaku usaha kecil, menengah hingga pengusaha besar di Karimun makin sulit mengembangkan usahanya. Krisis ekonomi itu makin parah sejak awal 2015. Para pengusaha yang diprediksi bisa bertahan hingga akhir 2016. Ternyata, malah makin terpuruk hingga akhir 2017 ini.

"Semua bidang usaha di Karimun bagai mati suri. Mulai dari usaha properti, automotif, perbankan hingga usaha perhotelan tak bisa mengembangkan usahanya. Para pengusaha hanya mampu bertahan hingga akhir 2017 ini. Kalau mereka berhasil melewati krisis ini, maka dia bisa selamat, jika tidak maka akan banyak pengusaha yang akan gulung tikar," tutur Sujoko.

Usaha di bidang properti misalnya, Sujoko menyebut, meski para pengembang banyak membangun perumahan disana-sini, bahkan ada yang sudah menawarkan subsidi, namun perumahan itu tidak dilirik oleh konsumen. Para konsumen bukannya tak berminat dengan perumahan, namun untuk menjangkau rumah itu masyarakat sangat mengalami kesulitan.

"Biasanya, ketika developer (pengembang) hendak membangun perumahan. Langsung diserbu oleh para konsumen. Begitu besar daya tariknya. Namun sekarang, meski pengembang sudah memasang spanduk adanya pembangunan perumahan, bahkan dengan subsidi sekalipun, masih belum menarik minat konsumen," ujar mantan anggota dewan Karimun dua periode ini.

Begitu juga di bidang perhotelan, tingkat hunian hotel semakin lama semakin turun. Hampir semua hotel di Karimun sepi pengunjung, Beberapa waktu lalu, hotel yang terikat kontrak kerjasama dengan perusahaan besar seperti PT Saipem Indonesia Karimun Branch (SIKB), sempat bertahan.

Namun, ketika perusahaan besar yang bergerak di bidang offshore produksi anjungan minyak lepas pantai asal Italia itu memberhentikan karyawannya hingga mencapai belasan ribu orang sepanjang 2017 ini. Hotel yang biasa terikat kontrak juga terpaksa menelan pil pahit. Ratusan karyawan yang menginap disana juga hengkang.

"Coba cari daerah di Indonesia ini yang menawarkan sewa kamar hotel yang cuma Rp50 ribu semalam, kalau bukan di Karimun. Walau harga sewa kamar hotel sudah murah seperti itu, tamu pun masih juga enggan untuk datang. Sementara, operasional tetap terus berjalan setiap hari," terangnya.

Dampak lain dari kemerosotan ekonomi, ungkap Sujoko, ditandai dengan menjamurnya kedai-kedai kopi di Karimun. Pasalnya, kedai kopi tak memerlukan modal besar. Makanya tak heran, para pelaku usaha yang tak mampu bertahan dengan terpaan badai ekonomi, terpaksa banting stir membuka kedai kopi.

"Perhatikan saja di sepanjang jalan Trikora maupun Jalan Nusantara ini, dulunya hanya dua kedai kopi saja. Sekarang coba hitung, hanya berjarak beberapa meter saja, sudah ditemukan 10 kedai kopi. Artinya apa, meski bisnis kedai kopi untungnya kecil, namun setidaknya bisa untuk bertahan," katanya lagi. (ham)

Share