Sabtu11252017

Last update05:00:00 AM

Back Karimun Penataan Kawasan Kumuh di Karimun Dimulai

Penataan Kawasan Kumuh di Karimun Dimulai

KARIMUN (HK)-Wacana Pemkab Karimun menata pemukiman padat penduduk di Kelurahan Seilakam Barat seperti di Belakang Orari, Telaga Tujuh dan Kuda Laut, di Kelurahan Baran Timur, Kecamatan Meral sudah berjalan. Pengerjan itu dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR). "Beberapa daerah di Seilakam Barat seperti di Telaga Tujuh, Belakang Orari dan Kuda Laut menjadi sasaran penataan kawasan pemukiman yang termasuk program penataan kawasan kumuh untuk pembangunan sanitasinya," ungkap Bupati Karimun Aunur Rafiq saat ditemui di rumah dinasnya, kemarin.

Kata Rafiq, Satuan Kerja (Satker) dari Kementerian PUPR sudah turun untuk pembuatan jalan, drainase, mandi cuci kakus (MCK) di lokasi-lokasi prioritas yang masuk dalam penataan pemukiman perkotaan Kepri di Karimun. Payung hukumnya melalui peraturan Bupati yang sudah ditandatangani.

"Saat ini, Satker sudah turun ke lapangan. Penataan pun sudah dilakukan. Harapan dilakukan penataan ini agar kota tersebut layak untuk dihuni. Kenapa dipilih Kelurahan Seilakam Barat, karena disana penduduknya padat dan sanitasi, drainase dan MCK belum tertata dengan baik," tutur Rafiq.

Sebelumnya, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Karimun, Djunaidy. Menurut dia, kawasan Kolong bakal disulap menjadi daerah, pemukiman, jasa dan perdagangan. Bahkan, daerah yang padat penduduk tersebut bakal dijadikan kawasan komersil di Karimun.

Djunaidy mengatakan, rencana peruntukkan kawasan Kolong Bawah menjadi daerah wisata dan komersil sudah dipaparkan oleh konsultan melalui Rencana Pengembangan Kawasan Permukiman Prioritas (RPKPP) di ruang rapat Bappeda dengan menghadirkan pihak desa dan kelurahan terkait di Karimun.

"Kawasan Kolong Bawah merupakan kawasan padat penduduk. Mayoritas masyarakat banyak tinggal di pinggiran danau bekas galian pertambangan timah dengan mendirikan rumah panggung diatas danay. Dengan kondisi seperti ini, maka secara tidak langsung kawasan tersebut berubah menjadi kawasan kumuh," kata Djunaidy.

Bukan hanya daerah Kolong Bawah, kawasan danau bekas galian timah lain seperti Danau Sentani dan Danau Seibati juga dibahas dalam rapat pemanfaatan ruang tersebut. Danau Sentani bakal dijadikan sebagai kawasan pariwisata. Disana, lebih banyak dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau dan instalasi air bersih. Sementara, kawasan di Poros dan danau Seibati dijadikan sentra perkantoran.

"Kami tidak pernah memaksakan kawasan ini harus menjadi ini dan itu, namun kami hanya menjelaskan kriteria kalau kawasan ini cocoknya dijadikan perdagangan atau pariwisata. Hanya saja, untuk kawasan Kolong Bawah cara penanganannya menggunakan cara yang kuratif sementara kolong atau danau lainnya menggunakan cara yang preventif," jelasnya. (ham)

Share