Minggu05202018

Last update05:00:00 AM

Back Lingga Istana Damnah, Tapak yang Tersisa

Istana Damnah, Tapak yang Tersisa

LINGGA (HK) - Salah satu situs sejarah berharga peninggalan Kesultanan Riau Lingga adalah Istana Damnah. Istana ini menjadi satu-satunya bekas tapak kerajaan yang masih tersisa meski hanya berbentuk tangga muka, tiang-tiang dari sebagian tembok pagarnya yang terbuat dari beton.
Sekarang, puing istana ini terletak di dalam hutan belantara yang disebut Kampung Damnah. Istana ini didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi, Yang Dipertuan Muda (YDM) Riau X (1857-1899). Tujuan dibangunnya Istana Damnah adalah sebagai kediaman Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah II. Sebelumnya Sultan bermaustin di Istana Kota Baru.

Sedangkan Daik, hampir seratus tahun pernah menjadi pusat kerajaan Riau-Lingga dan kini menjadi ibukota Kabupaten Lingga. Saat ini Pemkab Lingga melakukan upaya pemugaran dan pelestarian berbagai peninggalan atau situs yang tersebar di berbagai titik di Lingga. Pemkab juga membangun replika Istana Damnah di lokasi persis di Kampung Damnah tersebut yang menyerupai bentuk aslinya.

Istana itu dibina sekitar 1860 semasa pemerintahan Sultan Sulaiman Badrul Alamshah. Menurut petugas Dinas Kebudayaan dan Pariswata Kabupaten Lingga (Agensi Kebudayaan dan Pelancongan Wilayah Lingga), Istana Damnah adalah satu dari tiga istana untuk urusan pemerintahan. Dua istana lainnya, Istana Kenanga dan Istana Kedaton.

Kata Damnah merupakan gabungan dari dua kata harian Melayu lama yaitu 'dam' bermaksud jauh dan 'nah' bermaksud betul. Jadi, nama Istana Damnah artinya istana yang jauh betul, sesuai dengan lokasi istana yang terletak 20 kilometer dari bandar utama di Daik.

Kompleks Istana Damnah luasnya 100 x 150 meter berbentuk segi empat memanjang ke belakang dan mempunyai dua bangunan utama. Bangunan depan adalah sebuah dewan terbuka yang digunakan sebagai upacara keramaian sementara bangunan belakang adalah bangunan istana utama.

Bangunan istana utama mempunyai lima balai utama yaitu Balai Rong Seri digunakan untuk perbincangan antara Sultan dan pembesar, Balai Titah yang digunakan untuk Sultan menerima diplomat asing dan rakyatnya.

Istana Damnah masih kukuh walaupun dibuat dari campuran tanah liat, pasir, kapur dan kuning telur. Namun penduduk setempat mengambil bahan material istana yang terdiri daripada bahan binaan 'hi-tech' ketika itu untuk rumah mereka. Hanya tapak, runtuhan tangga dan tiang istana yang tinggal, tetapi yang menarik, rumah-rumah lama di sini masih mempunyai sebagian dari bahan Istana Damnah.

Pada 2003 pemerintah membangun replika Istana Damnah di sebelah reruntuhan istana sebagai daya tarik wisata daerah Lingga dan sebagai usaha memelihara peninggalan sejarah Kesultanan Melayu Riau-Lingga. Replika itu tidak 100 persen menyerupai bentuk asli Istana Damnah.

Saat ini, Istana Damnah tengah direnovasi oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batu Sangkar. Namun, masyarakat  setempat sempat protes karena upaya pemugaran dianggap akan menghilangkan nilai sejarah situs istana itu. Kantor Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Lingga juga mengirimkan surat kepada BP3 karena pemugaran dinilai tidak sesuai Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya yang menyatakan bahwa keaslian situs cagar budaya tidak boleh dihilangkan. (lin/ber/hk)

Share