Selasa09262017

Last update05:00:00 AM

Back Luar Negeri Dimakzulkan, Park Tetap Tinggal di Rumah Dinas

Dimakzulkan, Park Tetap Tinggal di Rumah Dinas

Seol (HK)- Mahkamah Konstitusi Korea Selatan memutuskan mensahkan pemakzulan Presiden Park Geun-hye karena terlibat skandal penyalahgunaan wewenang pada Jumat (10/3) ini.
Seperti dilansir Channel NewsAsia, seluruh anggota majelis yang terdiri atas delapan hakim di Mahkamah Konstitusi memutuskan pemakzulan dengan suara bulat. “Tidak ada pilihan selain pemakzulan," kata Lee Jung-mi, ketua majelis hakim, seperti dikutip The Washington Post.

"Presiden terbukti melanggar Konstitusi dan hukum Korea Selatan karena membiarkan temannya, Choi Soon-sil, terlibat dalam urusan pemerintahan,” ujar Lee menambahkan.

Pemilihan presiden akan diadakan dalam waktu 60 hari atau pada 9 Mei untuk memilih pengganti Park. Hingga terpilih presiden baru, Park tetap akan menyandang gelar presiden meski kekuasaannya telah dilucuti dan diserahkan kepada penjabat sementara.

Moon Jae-in, tokoh progresif Korea Selatan, diperkirakan akan menang mudah mengalahkan tokoh-tokoh dari partai konservatif Park. Park, 65 tahun, diberhentikan sementara oleh parlemen pada 9 Desember lalu atas sejumlah tuduhan, termasuk penyuapan dan penyalahgunaan kekuasaan.

Ia dituduh berkolusi dengan temannya, Choi Soon-sil, untuk menekan pengusaha besar memberi kontribusi miliaran won bagi dua yayasan Choi. Hal ini dinilai rakyat Korea Selatan sebagai bentuk pembiaran Park atas pengaruh Choi dalam mengendalikan urusan negara.

Park dan Choi telah secara konsisten membantah melakukan kesalahan. Menjelang keputusan pengadilan, puluhan ribu warga yang pro dan anti-Park turun ke jalan.

Kasus ini juga melibatkan perusahaan terbesar Korea Selatan, Samsung Group. Pewaris kerajaan bisnis Samsung dan empat eksekutif top lainnya didakwa atas beberapa tuduhan termasuk penyuapan dan penggelapan.

Park, putri diktator Korea Selatan yang didukung militer, menjadi presiden perempuan pertama Korea Selatan ketika terpilih pada 2012. Ia meraih suara tertinggi dibandingkan setiap kandidat Presiden Korea Selatan di era demokrasi.

Park Geun-hye merupakan presiden perempuan pertama Korea Selatan dan sekaligus presiden pertama Korea Selatan yang dipecat saat menjalankan tugas. Park dijerat skandal suap saat menjalani empat tahun dari lima tahun periode pemerintahannya.

Park yang berstatus lajang ini merupakan presiden ke-18 sejak Korea Selatan terbentuk sebagai negara Republik Korea. Ia memenangkan suara mayoritas dalam pemilihan presiden pada Desember tahun 2012.

Kemenangan Park didukung partai konservatif, Saenury.  Pada awal pemerintahan, Park dipandang sebagai ikon oleh para pendukungnya karena mereka terkenang pada ayahnya, mantan presiden Park Chung-hee, yang berprinsip keras dan dipuja sebagai pemimpin yang mempercepat industrialisasi di Korea Selatan.

Kehidupan sebagai presiden Korea Selatan bukan pengalaman baru bagi wanita lulusan sarjana teknik dari Universitas Sogang di Seoul. Sejak usia 11 tahun ia pindah ke Istana Biru atau Chong Wa Dae mengikuti ayahnya yang terpilih sebagai presiden. Upaya pembunuhan ayahnya tahun 1974 justru menewaskan ibunya.

Setelah kematian ibunya, Park yang saat itu berusia 22 tahun menjadi ibu negara Korea Selatan. Lima tahun kemudian, ayahnya terbunuh. Park kemudian meninggalkan Istana Biru setelah kematian ayahnya.

Setelah 18 tahun vakum, Park kembali ke dunia politik dengan bergabung ke Partai Nasional Besar, penerus partai berkuasa Partai Pembebasan Korea. Park terpilih sebagai anggota parlemen setahun kemudian. Di partai Nasional Besar, Park menjabat wakil ketua partai.

Park maju sebagai kandidat presiden Korea Selatan untuk pertama kali tahun 2007. Ia bertarung dengan Lee Myung-bak, pengusaha sukses Korea Selatan. Saenuri memilih Lee ketimbang Park untuk maju jadi presiden. Mayoritas warga Korea Utara ternyata memang memilih Lee.

Park kembali maju dalam pemilihan presiden Korea Selatan tahun 2012 dengan disokong partai Nasional Besar. Ia membawa isu pemberantasan korupsi dan nepotisme. Park, mengutip Global Times.cn, membangun citra dirinya bersih dari korupsi dan nepotisme. Lagipula ia diuntungkan dengan situasi dirinya yang lajang dan tanpa keluarga yang perlu diasuhnya.

Park juga mengusung isu rekonsiliasi nasional dengan Korea Utara. Namun ia bersumpah tidak mentoleransi setiap ancaman terhadap keamanan nasional. Bahkan ia mengatakan Korea Selatan harus hadir sebagai penghalang yang kuat bagi Korea Utara. Sebuah pernyataan yang saling kontradiktif.

Kampanye Park soal pemberantasan korupsi tampaknya yang paling menarik dukungan besar dari para pemilih, sehingga ia memenangkan pemilihan presiden dengan meraih kemenangan besar pada Desember 2012.

Empat tahun menjalankan pemerintahan, Park diguncang badai dengan terungkapnya skandal suap yang didalangi sahabat sekaligus guru spiritualnya, Choi Soon-sil pada Oktober tahun 2016. Choi merupakan anak dari guru spiritual Park Chun-hee. Choi dan Park sudah berteman sejak kecil.

Mega skandal suap Korea Selatan ini belakangan menyeret nama-nama besar di antaranya bos Samsung Grup yang diduga menyuap Park lewat Choi. Untuk pertama kali dalam sejarah Samsung selama 79 tahun, petinggi perusahaan itu ditahan sebagai tersangka suap.

Tak hanya bos Samsung, mega skandal ini menyeret beberapa menteri dan sejumlah politisi dan pengusaha Korea Selatan. Choi ditangkap dan ditahan atas tuduhan perancang suap. Kelompok oposisi di parlemen mendorong proses pemakzulan terhadap Park dan membuahkan hasil pada tanggal 9 Desember 2016. (tmp/dtc)

Share