Jumat11242017

Last update05:00:00 AM

Back Luar Negeri Korut Minta Bantu ASEAN

Korut Minta Bantu ASEAN

Semenanjung Korea Memanas

Manila (HK)- Korea Utara untuk pertama kalinya melayangkan surat ke ASEAN terkait dengan memanasnya situasi di Semenanjung Korea yang kini diambang perang. Korea Utara mengatakan situasi panas di sana akibat ulah Amerika Serikat. Surat ini muncul menjelang Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Filipina, Sabtu (29/4).
Surat yang ditulis Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong-ho itu bertanggal 23 Maret 2017 dan diunggah AFP pada Kamis, 27 April 2017. Sepuluh negara anggota ASEAN diminta bantuan untuk berperan aktif menjaga perdamaian dan keamanan di Semenanjung Korea.

Menteri Ri Yong-ho menyebut pemicu memanasnya situasi di Semenanjung Korea adalah latihan militer antara pasukan Amerika Serikat dan Korea Selatan di perairan Semenanjung Korea. Korea Utara menganggap latihan militer yang dikomandoi Amerika Serikat itu sebagai tindakan provokatif.

Surat Ri Yong-ho ini dianggap sebagai langkah yang tidak biasa sekaligus pertama kalinya terjadi Korea Utara menulis surat meminta bantuan ke ASEAN untuk isu ini.

Padahal baru saja hubungan Korea Utara dengan Malaysia, anggota dan pendiri ASEAN, memburuk gara-gara kematian Kim Jong-nam, saudara tiri pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, di Bandara Internasional Kuala Lumpur 2 akibat diracun pada 13 Februari 2017.

"Fakta ini jelas bagi setiap orang, ketika mereka menempatkan peralatan senjata nuklir yang dapat mendorong Semenanjung Korea menjadi bencana nuklir hanya dalam hitungan detik..., makan tidak ada jalan bertahan dengan latihan-latihan seperti ini," ujar Ri dalam suratnya kepada ASEAN.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyerukan agar Amerika Serikat, Cina, Jepang, dan Korea Selatan bersabar dalam menyelesaikan masalah dengan Korea Utara. "Saya ingin mengingatkan setiap orang, jika perang nuklir terjadi di sini, itu bencana, akan menjadi lahan gersang," kata Presiden Duterte sebagai tuan rumah KTT ASEAN.

Seandainya AS Serang Korut

Walaupun Menteri Luar Negeri China, Wang Yi menggambarkan Amerika dan Korea Utara laksana dua kereta api yang meluncur semakin cepat dan siap untuk bertabrakan, namun hingga Kamis (26/4)  tak ada petunjuk AS hendak menyerang Korut.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menegaskan, ia tidak lagi menuruti kebijakan pendahulunya melakukan "kesabaran strategis" terhadap Korea Utara.

Sikap itu menunjukkan pemerintahannya siap mempertimbangkan kemungkinan tindakan militer untuk mencegah Korut mengembangkan peluru kendali antar benua, dengan hulu ledak nuklir yang dapat mencapai daratan Amerika.

Di tengah konfrontasi antara Amerika dengan Korut ini, tidak jelas apakah China akan menanggapinya dengan kekuatan jika Amerika melancarkan tindakan militer terhadap rezim Kim Jong-un yang tertutup itu.

Ralp Cossa, Presiden Pacific Forum CSIS di Honolulu mengatakan bahwa ia ragu China akan mengambil tindakan. "China tidak akan mau berperang membela sahabat yang tidak tahu berterima kasih," kata Cossa seperti dikutip dari VOA News, Jumat (27/4).

"Hal itu mengingat bahwa Korea Utara telah menghina dan merongrong kepentingan nasional China dalam beberapa tahun belakangan," imbuhnya.

Tetapi beberapa pengamat mengatakan, asalkan serangan Amerika terhadap Korut sesuai dengan kepentingan China, Beijing dapat menerima tindakan Amerika itu. Sementara di Washington DC, para anggota kedua majelis Kongres Amerika pada Kamis Rabu 26 April 2017 mendapat briefing luar biasa rahasia dari pemerintah.

Pada kesempatan itu mereka boleh bertanya pada tim Keamanan Nasional tentang "pilihan yang terbuka untuk menyingkirkan ancaman dari Korea Utara." Seorang pejabat senior menggambarkan ancaman yang ditimbulkan oleh rezim Kim Jong-un yang brutal dan tidak dapat diramalkan sebagai "sangat gawat".

Sebanyak 100 senator hadir di auditorium Gedung Eksekutif yang berdampingan dengan Gedung Putih mendengarkan briefing yang dipimpin oleh Menteri Pertahanan Jim Mattis, Menteri Luar Negeri Rex Tillerson, direktur badan intelijen nasional Dan Coats dan ketua Gabungan Kepala Staf Jenderal Joseph Dunford.

Dunia masih harap-harap cemas, menanti apakah Donald Trump akan mewujudkan janjinya menyerang Korea Utara. (tm/lp6)

Share