Kamis10192017

Last update05:00:00 AM

Back Luar Negeri Dunia Simpati untuk Korban Las Vegas

Dunia Simpati untuk Korban Las Vegas

AMERIKA (HK)- Sejumlah pemimpin negara mengungkapkan belasungkawa terhadap para korban penembakan massal di Las Vegas, Amerika Serikat yang dilakukan Stephen Paddock, pensiunan akuntan yang berusia 64 tahun tersebut. Sejauh ini korban yang tewas sudah mencapai 59 orang dan melukai lebih dari 500 lainnya.
Meski kasus penembakan brutal ke kerumunan lebih dari 22 ribu penonton konser  Route 91 Harvest Festival di dekat Kasino Mandalay Bay, Las Vegas, Minggu (1/10) malam sekitar pukul 22.00 waktu setempat atau Senin (2/10) waktu Indonesia itu cukup membuat dunia internasional prihatin. Sebab kasus ini dianggap menjadi yang terparah dalam sejarah modern AS.

"Rasa belasungkawa dan doa rakyat Inggris bersama korban dan petugas darurat yang merespons serangan mengerikan di Las Vegas," ucap Perdana Menteri Inggris Theresa May, Senin (2/10), melalui akun Twitter pribadinya.

Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson, juga menganggap kejadian itu sebagai peristiwa mengerikan. London pun, tuturnya, masih berkoordinasi dengan otoritas AS mengenai kemungkinan adanya warga Inggris yang menjadi korban dalam insiden itu.

Sementara itu, diberitakan Washington Post, di Paris, Perancis, lampu menara Eiffel dipadamkan sebagai tanda berkabung bagi para keluarga dan korban penembakan Las Vegas.

Langkah ini juga dilakukan sebagai ungkapan belasungkawa terhadap dua korban teror penusukan di stasiun kereta di Marseille yang terjadi pada Minggu malam. Presiden Emmanuel Macron pun ikut mengekspresikan simpatinya bagi warga Amerika terutama para korban tragedi di Las Vegas.

"Rasa emosional bagi rekan-rekan kami di Amerika yang harus menderita akibat kekerasan di zaman ini beberapa jam lalu di Las Vegas," kicau Macron melalui Twitter-nya. Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev turut mengungkapkan rasa duka cita melalui akun Facebooknya. "Saya terkejut dengan tragedi yang terjadi di Las Vegas," katanya.

"Kejahatan itu menyerang di tengah kekerasan dan rasa sinisme. Rusia ikut bersedih dengan mereka yang kehilangan keluarga dan teman. Simpati dan duka kami bagi keluarga korban dan mereka yang terluka," kata Medvedev.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto juga tak ketinggalan menyampaikan rasa duka cita dan dukungan negaranya terhadap para korban dan warga Amerika.

Di Asia, Presiden RI, Joko Widodo dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan turut menyatakan rasa belasungkawa terhadap para korban.

Jokowi bahkan mengutuk insiden yang dianggapnya sebagai "aksi terorisme" meski sampai saat ini otoritas AS tidak mendapat bukti keterlibatan kelompok teroris dalam peristiwa itu. "Kami mengutuk aksi terorisme seperti itu. Kami menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya," ujar Jokowi di Cibubur, Selasa (3/10).

Serupa dengan Jokowi, Erdogan mengatakan, "Saya mengecam keras aksi teror di Las Vegas. Saya berharap serangan seperti ini tidak akan lagi terjadi di masa depan. Atas nama warga Turki, saya ucapkan belasungkawa kepada keluarga korban dan seluruh warga Amerika".

Seperti diberitakan, Stepehn Paddock melepas tembakan ke kerumunan lebih dari 22 ribu penonton konser  Route 91 Harvest Festival dari kamar hotelnya di lantai 32 Hotel Mandalay Bay.

Kepolisian setempat kemudian mendobrak masuk ke dalam kamar hotel yang ditempati pelaku. Namun tiba di sana, pelaku ditemukan dalam kondisi sudah tewas bunuh diri. Polisi juga mengamankan puluhan senjata api di dalam kamar hotel yang ditempati pelaku tersebut.

Gila

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Stephen Paddock, pelaku penembakan di festival musik di Las Vegas, sebagai orang yang sakit dan gila. "Dia adalah seorang pria yang sakit. Seorang pria gila, dengan banyak problem," ujar Trump kepada para jurnalis seraya meninggalkan Washington DC menuju Puerto Rico, mengutip AFP.

"Kita sedang berurusan dengan seseorang yang sangat, sangat sakit," katanya.

Stephen Paddock, seorang pensiunan akuntan yang berusia 64 tahun, teridentifikasi sebagai pelaku penembakan yang secara membabi buta mengarahkan pelurunya ke arah kerumuman festival musik country. Aksinya ini merenggut 59 nyawa dan melukai lebih dari 500 orang.

Para penyelidik mencoba untuk mencari tahu motif penembakan massal dengan korban terbanyak di sepanjang sejarah Amerika Serikat ini. Namun, sejauh ini mereka belum mampu mendapatkan alasan Paddock menembakkan senjata apinya ke arah kerumunan besar itu dari kamar hotel di lantai 32 Mandalay Bay Resort and Casino. Sebab setelah menjalankan aksinya, Paddock membunuh dirinya sendiri.

Saat menggeledah kamar hotel tempat Paddock menjalankan aksinya, polisi menemukan 23 senjata api, termasuk senjata otomatis. Tak hanya itu, polisi juga mendapatkan lebih banyak senjata api, amunisi dan bahan peledak di kediaman Paddock, di Mesquite, Nevada.

Paddock membeli rumah itu pada 2015 lalu. Ia tinggal di kediamannya itu bersama Marilou Danley, kekasihnya yang berasal dari Filipina dan berkebangsaan Australia. Wanita berusia 62 tahun itu dilaporkan tengah berada di luar Filipina dan tidak menjawab telepon dari berbagai pihak. (cnn/dtc/net)

Share