Senin04212014

Last update12:00:00 AM

Back Menyanyah Harus Arif

Harus Arif

Suatu siang hape saya bergetar seperti biasanya. Sudah biasa... saat jam sibuk itu pasti selalu ada saja pesan singkat yang masuk ke telepon genggam saya. Mulai dari SMS dari teman sesama fotografer, klien yang akan menggunakan jasa saya, sms  penipuan dari minta pulsa, jual rumah, suruh transver uang ke rekening bank di penipu, hingga sms dari keluarga di kampung halaman.

Pesan singkat dari kampung yang selalu saya terima setiap tahun menjelang lebaran tiba. "Uda..,indak pulang rayo ko do? yang artinya "Abang, mudik ndak lebaran ini?". Lama saya amati sms dari adik bungsu saya itu, saya tutup lalu dibaca lagi.

Hemh...akhirnya saya beranikan diri untuk membalasnya,"Maaf Diak, mungkin Uda indak pulang liak hari rayoko doh," yang kalau diterjemahkan lagi bahasa Padang itu adalah begini, "Maaf Dik, mungkin lebaran tahun ini Uda ndak mudik lagi." balas saya.

Kemudian saya sambung lagi menulis pesan singkat itu memberikan alasan kenapa untuk tahun ini saya kembali tidak bisa mudik ke kampung halaman di Padang. "Tiket pasawat, maha bana Diak..indak talok Uda mambali untuak sakaluarga Uda doh. Kalo naik kapa lauik, indak tega Uda jo anak-anak doh,"

Artinya begini, "Tiket pesawat mahal sekali Dik, ndak sanggup Uda membelinya untuk sekeluarga. Kalo naik kapal laut, ndak tega Uda sama anak-anak,"

Mungkin sms saya ini ada kesamaan kejadian juga dengan sebagian pembaca koran ini. Walau tidak terlalu sama, pasti ada sedikit kemiripannya. Sebuah  kejadian yang kita alami setiap tahunnya, saat lebaran tiba. Pesan singkat yang sederhana namun sangat menggelitik hati.

Seharusnya pihak terkait yang mengurusi regulator moda transportasi udara, darat dan laut di negara ini lebih arif dan cermat. Seharusnya biaya tiket untuk mudik di setiap hari raya baik Islam maupun agama lainnya bisa mereka tekan semurah mungkin, demi kepentingan rakyat. Bukan menyerahkan begitu saja kepada pengelola transportasi menaikkan harga walau dengan dalih membatasinya dengan Tuslah, atau harga ambang batas.

Semestinya harga tiket disetiap hari raya seperti lebaran itu bisa murah. Karena pihak pengelola transportasi bisa mengeruk untung dari tingginya intensitas arus naik turunnya penumpang. Dari yang biasanya cuma melakukan sekali penerbangan ke jakarta misalnya. Pasti saat jelang lebaran ini akan meningkat intensitasnya menjadi lebih dari 2 kali dalam sehari. Nah dari meningkatnya jumlah penerbangan ini tentu saja pihak maskapai akan mengeruk keuntungan lebih. Dan ini tentu saja akan lebih arif dan menguntungkan semua pihak, daripada menaikkan harga tiket selangit tapi juga meningkatkan jadwal penerbangan. Masa para pengelola moda transportasi itu mengeruk keuntungan dari penderitaan orang lain?. Hemh....

Share