Kamis10192017

Last update05:00:00 AM

Back Nasional Kantor Kemendagri Diserang Massa

Kantor Kemendagri Diserang Massa

pegawai depdagri15 Orang Terluka

Jakarta (HK)- Sejumlah komputer rusak dan kaca di gedung Kementerian Dalam Negeri pecah setelah massa unjuk rasa menyerang kantor itu, Rabu (11/10).

Bentrok terjadi akibat unjuk rasa di depan Kementerian, yang diduga terkait dengan pemilihan kepala daerah Tolikara. Akibatnya, kantor Kemendagri mengalami sejumlah kerusakan karena lemparan batu.

“Sementara ini kerugiannya adalah kantor rusak, kaca pecah, dan beberapa komputer rusak,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Nico Afinta kepada wartawan di Jakarta, Rabu (11/10).

Tim gabungan dari Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat dan Polda Metro Jaya langsung menyisir lokasi seusai bentrokan. Selain itu, polisi membawa beberapa barang bukti, seperti batu dan pecahan kaca.Nico meminta korban yang terkena lemparan batu massa unjuk rasa dalam bentrok di depan kantor Kementerian Dalam Negeri datang ke kantor polisi untuk melapor.

Enam orang pegawai Kemendagri mengalami luka-luka akibat bentrokan  tersebut. Diantaranya 1 komandan Pasukan Pengamanan Dalam, 1 petugas kebersihan, dan 4 staf Kementerian. Semua korban luka dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta Pusat, pukul 15.40 kemarin. Berdasarkan informasi sementara, 15 orang terluka akibat kericuhan tersebut.

15 Orang Diamankan

Polisi mengamankan 15 orang terkait kericuhan tersebut. Dari 15 orang itu ada satu orang yang kedapatan membawa senjata tajam. "Satu orang tertangkap tangan membawa pisau belati atas nama Yokiles Wanimbo," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, Rabu (11/10).

Argo menambahkan, 14 orang lainnya saat ini masih didata penyidik. Pihak kepolisian juga masih mencari orang-orang yang terlibat kericuhan tersebut. "(Ada) 14 orang lainnya masih didata dan diambil sidik jarinya. Mereka tergabung dalam LSM Barisan Merah Putih Provinsi Papua," kata Argo.

Argo menjelaskan, koordinator aksi unjuk rasa tersebut bernama Wati Kagoya. Dia adalah pendukung calon bupati Tolikara Jhon Tabo. Awalnya, massa yang berjumlah sekitar 30 orang menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Kemendagri sejak Rabu pagi. Mereka menuntut Mendagri mengesahkan John Tabo-Barnabas Weya.

Pada Rabu sore, sekitar pukul 15.00 WIB, Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum dan Dirjen Otonomi Daerah menerima massa. Namun, massa menolak. Mereka meminta langsung dipertemukan dengan Mendagri Tjahjo Kumolo. Padahal, saat itu Tjahjo tidak berada di kantor.

Di saat yang sama, sejumlah orang yang hendak diterima oleh Dirjen kembali lagi kepada massa yang berada di luar gedung Kemendagri sambil berteriak. Teriakan itu kemudian memprovokasi massa merangsek ke dalam gedung.

Sontak, massa masuk ke dalam area Kantor Kemendagri. Mereka membawa batu dan melemparkannya secara asal-asalan. "Ada empat mobil, satu bus, rusak. Kaca beberapa gedung pecah, lalu beberapa pot bunga pecah. Satu kamera wartawan juga rusak karena kena batu," ujar Dirjen Otda Sumarsono, usai kejadian.

Aksi onar massa yang mengaku sebagai pendukung John-Barnabas tersebut sempat mendapatkan perlawanan dari pegawai Kemendagri. Pegawai mengusir massa keluar dari area Kemendagri. Oleh sebab itu, sempat terjadi aksi saling serang antara massa dengan pegawai.

Aparat kepolisian diketahui tak berada di lokasi saat massa berbuat onar. Satu truk personel polisi baru tiba sekitar 15 menit setelah kejadian berakhir. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengatakan, kerusuhan tersebut dipicu oleh penolakan terhadap putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait sidang sengketa Pilkada Tolikara.

Hingga kini, pihak yang kalah dalam sengketa masih menolak putusan MK dan meminta Kementerian Dalam Negeri ( Kemendagri) tidak melantik pihak yang menang, yakni Bupati dan Wakil Bupati terpilih Usman Wanimbo-Dinus Wanimbo.

Namun, Tjahjo mengatakan, Kemendagri tidak bisa membatalkan putusan MK. Kemendagri tetap harus melantik pasangan calon yang menang dalam pemungutan suara ulang (PSU).

"Prinsipnya kan tidak bisa lama-lama ditangguhkan pelantikannya. Sudah ada keputusan pemenang oleh MK. Akan menganggu pemerintahan dan pelayanan masyarakat nanti. Kemendagri sudah dialog dengan Gubernur Papua, Kapolda, dan Kodam," kata Tjahjo dalam keterangan tertulis, Rabu (11/10).

Ia pun menyayangkan pihak yang kalah sudah mengerahkan massa yang kemudian berbuat anarkistis dan merusak kantor Kemendagri. Padahal, lanjut Tjahjo, ia sudah menerima pihak yang kalah dan menang untuk berdialog, sehingga tak ada yang dikesampingkan.

Saat ini, tutur Tjahjo, situasi di Kemendagri sudah kembali kondusif dan massa sudah diamankan.

"Saya sudah minta bantuan Polres Jakarta Pusat kalau massa masih nekat. Karena Kemendagri ring satu, dekat Istana, harus diamankan. Sekarang diperkuat Paspam, Satpol PP agar di malam hari jaga pagar kantor tanpa senjata. Saya minta jajaran Kemendagri jangan terpancing," ucap Tjahjo. (tmp/kcm)

 

Share