Sabtu09232017

Last update05:00:00 AM

Back Natuna Mahasiswa IPB Temukan Kodok Khas Serasan

Mahasiswa IPB Temukan Kodok Khas Serasan

NATUNA (HK) - Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), Misbahul Munir berhasil menemukan kodok khas Serasan saat melakukan survey awal terhadap spesies kodok Serasan yang telah termaktub dalam literatur Belanda sejak ratusan tahun lalu. Survey ini dimulai sejak Sabtu lalu.
Ia melakukan survey dalam rangka penelitian tesis sarjana strata dua (S2)-nya di IPB. Namun dalam penelitiannya ini, ia tidak sendirian, melainkan juga didukung Lembaga llmu Pengetahuan dan Penelitian Indonesia (Lippi) dan organisasi biologi lainya serta kawannya Mr. Eto asal Jepang yang juga ahli biologi. Namun ahli biologi asal Jepang ini lebih sebagai touris di Serasan.

"Ya betul, mereka sudah survey sejak 3 hari yang lalu. Kami dari Komunitas Muda Natuna (Komuna) mendampingi mereka. Dan alhamdulillah kodoknya sudah berhasil ditemukan," kata salah Seorang Pengurus Komuna, Radian Patril Tedy di Serasan, Senin (11/9) melalui telepon.

Tedy mengatakan, keberadaan spesies kodok Serasan itu sebetulnya sudah ditemukan sejak tahun 1800-an lalu oleh penjajah Belanda. Hanya saja temuan itu baru sebatas temuan teoritis dan hanya dapat ditemukan dalam literatur.

Kini, species kodok yang bernama latin leptobrachella Serasanae itu benar-benar ditemukan secara faktual di lapangan. Specias kodok itu dinyatakan masih banyak dan hanya terdapat di Serasan. "Populasi kodok itu masih banyak di Serasan, cuma agak susah ditemukan karena bentuknya beda dengan kodok-kodok yang lain," sebut Tedy.

Ia menjelaskan, berdasarkan hasil temuan sementara, kodok terasebut berpostur kecil dengan ukuran paling besar sekitar ukuran ibu jari tangan orang dewasa. Warnanya menyerupai warna daun kering dicampur dengan warna hitam dan putih yang ada di bagian fisik tertentu.

Hewan itu juga diketahui lincah dan cenderung hidup di titik-titik mata air atau hulu sungai.

"Kita susah mendeteksi keberadaanya karena fisiknya yang kecil dan rupanya seperti daun kering serta lincah. Kalau kita mau cari, kita hanya bisa mengenalinya dari suaranya yang mirip suara jangkrik. Bahkan untuk sementara ini kita hanya bisa mendeteksinya lewat suaranya saja," terang Tedy.

Tim survey itu juga telah melakukan pencarian di Pulau-pulau lain sebagai komparasi dan sample, namun kodok-kodok di pulau- pulau lain seperti Pulau Bunguran tidak menunjukkan persamaan antara kodok leptobrachella Serasanae sebagaimana yang tertera pada leteratur belanda itu.

"Hanya kodok yang di Serasan yang dinyatakan sesuai dengan yang ada di literaturnya," ungkap Tedy. Tim Survey hingga saat ini masih melakukan pendalaman sesuai dengan kaedah-kaedah ilmu biologi.

Tedy berharap hewan kecil itu juga bisa menjadi salah satu ikon Natuna dan dapat dieksploitasi sebagai salah satu bagian dari tujuan wisata di Natuna. "Kita berharap ini jadi hewan langka yang diakui dunia. Mudah-mudahan keberadaanya juga bisa jadi segmen wisata Natuna," harapnya.

Kegiatan survey ini juga didukung penuh oleh pemuda setempat. Mereka juga turut berpatisipasi dalam upaya survey itu dengan berbagai fasilitasi. (fat)

Share