Rabu11262014

Last update12:00:00 AM

Back News Andalas “Makan Bajamba” Tradisi Idul Adha di Payolansek

“Makan Bajamba” Tradisi Idul Adha di Payolansek

PAYAKUMBUH - Masyarakat asli Kelurahan Payolansek Kanagarian Koto Nan Ampek Payakumbuh bersama warga pendatang masih tetap mempertahankan  tradisi atau  kegiatan “Makan  Bajamba” yang dilaksanakan seusai shalat Idul Adha. Sesuai tradisi, makan bajamba adalah makan bersama yang dilakukan dalam satu piring oleh 3 sampai 5 orang. Dalam aturan makan bajamba, jika makan sepiring berlima, makan makanan apapun yang ada di hadapan kita, wajib kita habiskan. Untuk menyuap nasi pun, ternyata ada tata cara tersendiri.

Nasi diambil sedikit, biasanya cukup untuk sesuap saja. Tambah sedikit lauk pauk, kemudian dimakan dengan cara memasukkan nasi yang ada di tangan ke mulut dengan posisi duduk sempurna. Yang perempuan bersimpuh, sedangkan yang laki-laki ‘baselo’.

Tujuan makan dengan cara seperti ini, agar nasi yang hendak masuk ke mulut, bila ada yang jatuh tidak kembali masuk ke piring. Jadi, yang lain tidak merasa jijik untuk memakan nasi tersebut secara bersama-sama, karena tak ada sisa di sana.
Namun kini makan bajamba sudah dimodernisasi menjadi makan bersama, di mana satu orang makan di satu piring.

Makan bajamba di Koto Nan Ampek diikuti sebagian pemuka adat, alim ulama, imam masjid  serta khatib yang diundang. Seperti terlihat dalam peringatan Hari Raya Idul Adha, Rabu (17/11). Imam shalat id H. Maharni dan khatib Drs. M. Nur tampak menikmati  “makan  bajamba”  di lantai satu Masjid Ichlas Payoalnsek.

Sekitar 15 kelompok “makan bajamba” dalam suasana akrab dan kekeluargaan menikmati hidangan, sambil berbagi cerita antara penduduk asli, perantau ataupun pendatang dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Barat ini.

Sebelum “makan bajamba”, khatib M. Nur  dalam khutbahnya usai shalat Idul Adha mengangkat kisah kurban yang dimulai Qabil dan Habil semasa Nabi Adam. Kala itu, Qabil memberikan  kurban berupa hasil pertanian yang tidak laku baginya apalagi bagi orang lain. Sementara Habil menyalurkan kurban berupa ternak yang bagus-bagus dan gemuk. Dari dua perihal itu, menurut M Nur, kurban yang dilakukan Habil inilah yang patut dicontoh.

Kisah qurban lainnya, dan tak asing bagi kita sekarang, yakni contoh pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim. Ibrahim yang rela menyembelih (mengurbankan) Ismail, justru mendapat penggantian dari Allah. Ismail pun diganti dengan  hewan ternak. Terakhir, khatib menceritakan kisah kurban Imam Qurtubi atau kurban untuk memberantas sifat-sifat binatang yang dimiliki manusia.

Ada 3  sifat manusia  yang harus diberantas yaitu sifat harimau, sifat anjing dan sifat tikus. Sifat harimau, tidak pandang bulu, semua dimakan, tidak peduli halal atau haram. Sifat anjing, selalu menjilat atau dijilat. Sedangkan sifat tikus, merusak atau menggigit dengan pelan-pelan dan dihembus-hembus, sehingga orang yang digigitnya tidak merasa sakit.    

Kegiatan shalat Idul Adha di Kota Payakumbuh dilaksanakan Selasa (16/11) dan Rabu (17/11). Dari pantauan Haluan, baik Selasa dan Rabu, suasana shalat Idul Adha berjalan aman, tertib, walau  diperingati pada hari yang berbeda. Sedang suasana silaturrahmi memang tidak seramai Idul Fitri, namun rombongan warga Kota Payakumbuh dan Limapuluh Kota cukup aktif bersilaturahmi. (hk/nit)

Share

Fokus

Ketika Harga BBM Tak Lagi Bersabat

Minggu, 23 November 2014
Ketika Harga BBM Tak Lagi Bersabat

TANJUNGPINANG (HK)-- Kebijakan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BB...

Jejak

Jalan Tanah Bekas Jepang

Senin, 15 April 2013
Jalan Tanah Bekas Jepang

Di sembulang ada sejumlah jejak bekas markas Jepang yang hingga kini masih bis...