Sabtu09202014

Last update12:00:00 AM

Back News Batam Harga Solar Non Subsidi Rp9.000/Liter

Harga Solar Non Subsidi Rp9.000/Liter

BATAM CENTRE - Rencana PT Pertamina Wilayah Kepulauan Riau dan Pemerintah Kepulauan Kepulauan Riau (Kepri) untuk menjual Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar non subsidi segera terealisasi. Dijadwalkan, Jumat (4/11), beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk menjual solar non subsidi akan diresmikan. Solar non subsidi itu akan dijual seharga Rp9.000 per liter.
"Harga pastinya saya belum tahu. Minyak solar tak disubsidi berkisar antara Rp8.500 hingga Rp9.000 /per liter," kata Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Energi Sumber Daya Mineral (Disperindag dan ESDM) Kota Batam, Ahmad Hijazi, Rabu (2/10) di ruangan kerjanya.

Kata Hijazi, SPBU yang telah dipastikan menjual solar non subsidi adalah SPBU di kawasan Baloi. Kemudian satu lagi SPBU yang telah mengusulkan untuk menjual solar non subsidi adalah SPBU nomor 14.29.47.27 Seitemiang. Namun pemerintah belum memutuskan. Akan ditinjau dulu, apakah layak atau tidak.

Sementara kendaraan yang diwajibkan membeli solar non subsidi terdiri terdiri dari dua jenis yakni angkutan darat dan laut yang bergerak di bidang industri. Untuk kendaraan darat yakni bermuatan di atas 10 ton, seperti truk pembawa hasil industri baja, mobil, motor, semen dan rokok. Selain itu truk yang membawa hasil pertambangan, seperti batu bara, tanah, pasir, besi, beuksit. Sedangkan truk pengangkut pembangkit listrik, proyek kontruksi, kehutanan, perkebunan, bukan usaha kecil dan konsumen lainnya, adalah bukan konsumen pengguna BBM bersubsidi (BBM PSO) dan harus menggunakan BBM non subsidi (BBM harga keekonomian).

Selanjutnya alat transportasi laut yang harus membeli solar non subsidi yakni kapal tanker, kapal barang, kapal pesiar dan kapal-kapal penunjang bukan usaha kecil, adalah bukan pengguna BBM bersubsidi dan harus menggunakan BBM non subsidi.

Disebutkannya, Jumat (28/10) Pemko Batam mengeluarkan edaran tertanggal 24 Oktober, yang melarang kendaraan penunjang industri dan proyek kontruksi, seperti trailer/prime mover truk as dua dan tiga, truk yang terdapat alat bongkar muat barang (crane), kendaraan pembawa semen (mixer truck), dump truck dan jenis kendaraan berat industri lain menggunakan BBM bersubsidi.

Surat edaran tersebut mengacu pada surat Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) No.613/7/Ka/BPH Migas/11/2010 tertanggal 29 November 2010 tentang Premium dan Minyak Solar Nonnsubsidi untuk Transportasi.

Dengan peraturan tersebut, kata Hijazi, bisa mengamankan persediaan kuota BBM bersubsidi hingga akhir 2011. Ada pun penghematan yang bisa dilakukan hingga dua bulan terakhir diperkirakan mencapai 2.000 ton per bulannya, dikali dua bulan jadi 4.000 ton.

Angka 2.000 ton perbulan itu adalah angka kebutuhan truk-truk industri dan kapal-kapal pengangkut muatan berat tiap bulannya. Angka tersebut berkisar 40 persen dari total kebutuhan solar untuk angkutan keseluruhannya di Kota Batam.

"Pemerintah tidak punya pilihan lain, jika pemerintah mengurangi jumlah subsidi atau menaikkan harga BBM belum tentu itu akan membuat penghematan  BBM akan tercapai. Saya berharap, semua pihak yang akan terkena dengan imbas pemberlakukan solar non subsidi dapat memaklumi kebijakan ini, katanya mengakhiri.(dfl)

Share

Fokus

Apakah Oknum Aparat Terlibat ?

Minggu, 07 September 2014
Apakah Oknum Aparat Terlibat ?

Pelangsir BBM di Batam

NONGSA(HK) -- Dugaan keterlibatan oknum polisi semakin ku...

Jejak

Jalan Tanah Bekas Jepang

Senin, 15 April 2013
Jalan Tanah Bekas Jepang

Di sembulang ada sejumlah jejak bekas markas Jepang yang hingga kini masih bis...