Sabtu11012014

Last update12:00:00 AM

Back News Batam Tony Menyerahkan Diri Didampingi 7 Pengacara

Tony Menyerahkan Diri Didampingi 7 Pengacara

Tony Menyerahkan Diri Didampingi 7 Pengacara

BATAM (HK)-- Setelah seminggu masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) polisi, akhirnya Tony Fernando Pakpahan, tersangka kasus bentrokan berdarah di  Planet Holiday Hotel, Batam menyerahkan diri ke Mapolresta Barelang, Senin (25/6) sekitar pukul 16.30 WIB.

Penyerahan diri Tony didampingi sejumlah pengurus Ikatan Keluarga Besar Sumatera Utara (Ikabsu) dan tujuh orang pengacara.

Ketujuh pengacara itu yakni Nico Nixon Situmorang (ketua tim penasehat hukum), Roy Wright, Manner Lubis, Rudi Sirait, Indra, Abdullah Cubing dan Aris Tarkus Mailite.  Sementara dari Ikabsu di antaranya, Nutrin Sihaloho, Rustam Efendi Bangun, Robert Tumanggor, Brigal, Ridwan Saragih, Ahadi Hutasohit dan Asrin Silitonga.

Rombongan Tony ini tiba di Mapolresta dan langsung melakukan pertemuan di lantai II dengan Kapolresta Barelang Kombes Pol Karyoto.

Ketua tim penasehat hukum (PH) Tony, Nico Nixon Situmorang mengatakan secara resmi kliennya telah menunjuk tujuh PH untuk mendampingi dirinya dalam kasus hukum yang sedang dihadapi.

"Saya bersama enam orang PH lainnya secara resmi akan mendampingi beliau (Tony) dalam kasus ini," ujar Nico di sela-sela pemeriksaan Toni di Mapolresta Barelang, Senin (25/6).

Lebih lanjut Nico menjelaskan, kehadiran kliennya  ke Mapolresta Barelang adalah semata-mata untuk memberikan penjelasan sedetail mungkin terkait peristiwa yang terjadi. Karena banyak sekali persepsi yang berkembang di media selama ini terkait Tony di antaranya penetapan sebagai tersangka dan juga sebagai DPO, padahal selama ini belum diperiksa.

Selaku tim PH yang ditunjuk, Nico beserta rekan-rekannya berharap agar proses pemeriksaan yang dilakukan oleh penyidik dilakukan secara netral, proporsional dan profesional. Untuk itulah, keberadaan mereka selaku PH dalam pemeriksaan kliennya sangat penting.

"Kami juga ingin memastikan agar pemeriksaan klien kami berjalan secara netral, proporsional dan profesional," ungkap Nico.

Disebutkannya, saat ini Tony belum mendapatkan surat penahanan dari pihak Polresta. Meski demikian jika nanti kliennya ditahan maka PH  akan pelajari lebih lanjut kasus dan pasal yang dijatuhkan sesuai hasil pemeriksaan" katanya.

Disinggung keberadaan Tony saat menjadi DPO, Nico mengatakan tidak tahu apakah di luar Batam atau masih di Kota Batam.

"Keberadaanya kami ketahui ketika kami dikonfirmasi siang tadi (kemarin) melalui Ikabsu dan dengan inisiatif saudara Tony sendiri ingin datang dan ingin menyelesaikan kasus tersebut," ujarnya.

Sementara itu, penasehat Ikabsu, Rustam Effendi Bangun mengatakan Ikabsu sudah memfasilitasi penyerahan diri Tony  secara suka rela ke Mapolresta Barelang. Untuk itu, ia meminta agar kiranya pihak penyidik dapat memberikan jaminan kepada Tony agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

"Kami sudah memfasilitasi penyerahan Tony ke penyidik Polresta Barelang. Kita minta agar beliau (Tony) benar-benar dilindungi sebagaimana janji Kapolresta Barelang kepada IKABSU dan Tony saat pertemuan," ujar Rustam.

Selain dirinya, kata Rustam, harapan agar Tony mendapatkan perlindungan dan juga perlakuan secara adil juga disuarakan oleh seluruh anggota Ikabsu. Ini sebagai upaya untuk memberikan kontrol terhadap penegakan hukum di Batam.

"Kita inginkan ada sikap profesional pihak kepolisian dalam penangan kasus ini. Jangan sampai jaminan yang diberikan justru dilanggar," katanya.

Senada dengan itu, Maruba Simbolon, mewakili Ikabsu mengatakan selama ini Tony sama sekali tidak bisa dihubungi dan sama sekali tidak diketahui keberadanya. Bahkan Tony sendiri mengaku tidak mengetahui kalau ia DPO dan tersangka kasus bentrokan di Plenet tersebut.

"Kami fasilitasi dan hanya membantu dan memberikan kemudahan kepada saudara Tony untuk menyelesaikan kasus tersebut" katanya.

Sebagai Saksi

Usai menyerahkan diri secara sukarela ke Mapolresta Barelang, Tony langsung menjalani pemeriksaan di ruang unit IV (Jatanras).  Meski sebelumnya disebut sebagai tersangka, namun Kasat Polresta Barelang Kompol Yos Guntur mengaku Tony diperiksa sebagai saksi, bukan tersangka.

"Sore (kemarin) ini juga saudara Tony kita periksa, dan statusnya sebagai saksi," ujar Yos Guntur, kemarin.

Pemeriksaan ini, lanjut Yos, dilakukan sesuai dengan prosedur dan kejadian dalam olah tempat kejadian perkara (TKP) peristiwa yang menewaskan satu korban jiwa ini.

"Pemeriksaan dilakukan sesuai dengan prosedur dan olah TKP-nya," lanjut Yos.

Disinggung tentang status tersangka lainya, Basri yang hingga saat ini belum ditahan pihak kepolisian, Yos menegaskan,  sampai saat ini Basri tetap wajib lapor.

"Basri hingga kini tetap wajib lapor," ujar Yos singkat sambil berlalu.

Pasukan TNI Ditarik

Seiring dengan situasi Kota Batam yang sudah aman dan kondusif pascainsiden bentrokan, TNI AD menarik kembali seluruh pasukan yang selama ini diterjunkan untuk pengamanan Kota Batam.

Satu SSK personil TNI AD dari Yonif 134 Tuah Sakti dan satu pleton dari Kodim 0136 Batam resmi ditarik kesatuan masing-masing sejak Sabtu (23/6) sesuai komando dari Korem 033 Wira Pratama Tanjungpinang.

Dandim 0136 Batam, Letkol Czi Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan hal itu kepada wartawan, Senin (25/6).

"Seiring dengan situasi keamanan yang kembali aman dan kondusif, maka sejak Sabtu lalu personil kita tarik ke satuan masing-masing sesuai dari komando atas," ujar Ahmad Rizal.

Rizal menambahkan, pihaknya tetap siaga jika nantinya pihak kepolisian meminta back-up bantuan personil apabila ada permasalahan lain yang muncul yang berhubungan dengan situasi keamanan di Batam.

"Kita dari TNI AD tetap bahu membahu dan membantu rekan-rekan dari kepolisian dalam pengamanan Kota Batam nantinya," lanjut Rizal.

Kedepan, lanjut Rizal, para personil terus mendapatkan pembekalan dari satuan masing-masing, seperti pelatihan pengamanan anti huru-hara dan berbagai pelatihan lainnya guna peningkatan kinerja personil TNI AD.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus bentrokan itu adalah masalah perdata atas lahan seluas 3,7 hektar di Batuampar yang dipersengketakan PT Hyundai Metal Indonesia (HMI) oleh kubu Tony Fernando (Manager Operasional dan Pemasaran PT HMI) dengan kubu PT Lord Way Accommodation Engineering (LWAE). Dua perusahaan ini telah saling gugat di Pengadilan Negeri Batam.

Namun pada 14 Juni lalu PN Batam memenangkan sebagian gugatan PT LWAE. Perusahaan ini akhirnya meminta kelompok Basri untuk menjaga keamanan lahan tersebut dengan menurunkan ratusan orang ke lokasi, sengketa lahan tersebut.

Tidak puas dengan aksi massa itu, kelompok PT HMI melakukan tindakan balasan dan mendatangi kelompok Basri di hotel tersebut. Entah bagaimana kelompok Tony  lalu melakukan perusakan hotel yang memang dijaga kelompok Basri.

Setelah melakukan penyerangan yang sangat cepat sekitar 15 menit ini, kelompok Tony melarikan diri dan dikejar kelompok Basri. Dalam aksi pengejaran ini menyebabkan, satu orang meninggal dunia dan 11 lainnya mengalami luka-luka. Seluruh korban dihantam dengan senjata tajam.

Dalam kasus ini polisi telah menetapkan 11 tersangka, satu di antaranya Tony. Sementara Basri, pimpinan kelompok lainnya masih berstatus terperiksa.  Kasus ini juga menyeret pemilik  Planet Holiday Hotel, Karto. Ia pun diperiksa polisi selama lebih kurang lima jam. Status Karto hingga kini masih sebagai saksi.
(cw42/ays/wan/btd)

Share

Fokus

13 Tahun Kota Otonom Tanjungpinang

Minggu, 19 October 2014
13 Tahun Kota Otonom Tanjungpinang

Masih Banyak Tugas yang Belum Tuntas

TANJUNGPINANG (HK) -- Tiga belas tahun sudah...

Jejak

Jalan Tanah Bekas Jepang

Senin, 15 April 2013
Jalan Tanah Bekas Jepang

Di sembulang ada sejumlah jejak bekas markas Jepang yang hingga kini masih bis...