Rabu04232014

Last update12:00:00 AM

Back News Luar Negeri Parasut Pilot Sukhoi Diserahkan

Parasut Pilot Sukhoi Diserahkan

FDR Belum Ditemukan

JAKARTA (HK)-- Keberadaan parasut yang ditemukan anggota Kopassus di lokasi kecelakaan Pesawat Sukhoi Superjet 100  dan sempat jadi polemik akhirnya terjawab. Kopassus, Kamis (17/5) malam menyerahkan parasut yang diduga digunakan pilot pesawat Sukhoi, Alexander Yablontsev tersebut ke Posko Pengendali Operasi Tim SAR Gabungan, Kamis (17/5) malam.

Parasut ditemukan 100 meter, Minggu (13/5) lalu dari badan pesawat berwarna orange dan putih dengan bekas terbakar. Selain itu benda tersebut ada tali-tali, kanopi, dan harnest.

Pengendali Operasi Tim SAR Gabungan, Kolonel Infantri Anton Mukti Putranto mengatakan benda yang diserahkan kopassus itu mirip payung terjun.

"Karena saya pun pernah jadi penerjun, benda ini mirip payung terjun," kata Anton yang juga  Danrem 061 Surya Kencana
di Pos Pusat Evakuasi Balai Embrio Ternak Kementerian Pertanian, Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, kemarin.

Menurutnya benda tersebut setidaknya akan memberikan titik terang, kenapa kecelakaan kapal sukhoi tersebut bisa terjadi.

"Barang ini sangat berharga untuk dijadikan petunjuk," ujarnya.

Namun, ia tidak mengetahui bagaimana parasut tersebut berada di antara puing-puing pesawat dan siapa yang menggunakannya, ia juga tidak mau berandai-andai.

Sementara itu Staf Penerangan Kopassus, Mayor Ahmad Munir mengatakan  parasut ditemukan tujuh anggota Kopassus saat melakukan penyisiran mencari korban di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. Menurutnyaparasut ini sebagai bukti otentik kalau anggota Kopassus memang menemukan benda tersebut.

"Setelah diserahkan ke Danrem akan diteruskan ke KNKT, sebagai bukti kita memang benar menemukan parasut," tuturnya.

Sebelumnya sempat beredar spekulasi bahwa pilot pesawat naas tersebut kemungkinan berusaha menyelamatkan diri dengan menggunakan parasut sesaat sebelum pesawat menabrak Tebing Manik.

Namun, tim KNKT Rusia dalam konferensi pers Selasa lalu menyatakan bahwa pesawat tersebut memang dilengkapi parasut dan memastikan pesawat komesil tersebut tak dilengkapi kursi lontar seperti pesawat tempur. Hanya saja parasut tersebut untuk melindungi barang-barang logistik untuk keperluan jika sewaktu-waktu pesawat harus mendarat darurat.

Pengamat intelijen Marsekal Muda (purn) Prayitno Ramelan meyakini bahwa kesaksian anggota Kopassus Sertu Abdul Harris yang melaporkan temuan adanya jenazah pilot berparasut di tempat kejadian jatuhnya pesawat Sukhoi adalah benar. Prayitno meyakini keterangan anggota Kopassus itu pembuka penyelidikan selanjutnya.

"Salah satu syarat menjadi anggota Kopassus adalah sudah mengikuti Separkoad (Sekolah Para dan Komando TNI AD), artinya dia juga penerjun. Nah, di situlah asumsi saya mengatakan bahwa Haris faham dan bisa membedakan yang namanya parasut dengan perlengkapan terbang lainnya," kata Prayitno.

FDR Belum Ditemukan
==============
Mekipun black box (kotak hitam) Sukhoi Superjet (SSJ) 100 sudah ditemukan, namun bagian lain dalam kotak tersebut  yakni Flight Data Recorder (FDR) tidak ada.

FDR berfungsi merekam data-data pesawat selama dalam penerbangan, termasuk kecepatan, waktu terbang dan data penting lainnya.

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi memastikan kotak hitam yang diterima dari tim pencari belum lengkap. "Setelah diteliti, benda tersebut adalah VCR," kata di Helipad Pasir Pogor, Cijeruk, kemarin.

Tim SAR gabungan, lanjutnya, telah ditugaskan kembali untuk mencari FDR yang belum ditemukan. Dalam investigasinya nanti, KNKT akan dibantu tim Rusia untuk membedah isi FDR. " Ini sangat penting bagi upaya investigasi jatuhnya Suhkhoi," ungkapnya.

Seperti diketahui, tim evakuasi sudah menemukan black box SSJ 100 Rabu (15/9) pagi. Namun, bagian black box yakni FDR belum ditemukan. Bagian yang ditemukan baru Cockpit Voice Recoder (CVR) yang berfungsi merekam pembicaraan dalam kokpit selama dua jam terakhir.

Ketua Basarnas Marsekal Madya Daryatmo  belum bisa memastikan sampai kapan FDR itu akan ditemukan. "Kalau pertanyaan sampai kapan akan ditémukan tentu akan dilihat nanti," katanya.

Sementara itu, Kepala Tim Laboratorium KNKT, Budi Nugroho mengatakan, untuk menyelidiki penyebab kecelakaan jatuhya pesawat, isi black box harus lengkap. Karenanya CVR saja dianggap belum cukup.

Tim dari KNKT membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk membaca rekaman pembicaraan di cockpit pesawat Sukhoi naas tersebut. "CVR ini berisi rekaman suara cockpit yang berdurasi maksimal dua jam," cetusnya.

Budi memastikan, meski black box hangus namun perangkat memori elektronik CVR di dalamnya tidak akan rusak. Untuk membaca CVR, perangkat memori didalam black box akan dilepaskan dan datanya diunduh. Untuk itu Tim KNKT butuh penerjermah dari Rusia untuk membaca CVR.

"Karena ini menggunakan pesawat Sukhoi yang menggunakan bahasa mereka, kita butuh bantuan KNKT Rusia untuk menerjemahkannya. Nah yang bisa kita tangkap adalah komunikasi pilot dengan tower yang menggunakan bahasa Inggris," ujar Budi.  (dtc/viv/kom)

Share

Fokus

Dari Kerang hingga Kerajinan Kaca

Sabtu, 15 March 2014
Dari Kerang hingga Kerajinan Kaca

Cinderamata Tanjungpinang

TANJUNGPINANG(HK)-- Kota Tanjungpinang yang merupakan d...

Jejak

Jalan Tanah Bekas Jepang

Senin, 15 April 2013
Jalan Tanah Bekas Jepang

Di sembulang ada sejumlah jejak bekas markas Jepang yang hingga kini masih bis...