Kamis10192017

Last update05:00:00 AM

Back News Nasional

Kasus Suap Cetak Uang, Kredibilitas BI Dipertanyakan

JAKARTA-Anggota Komisi XI DPR Harry Azhar Azis mempertanyakan kinerja BI menyusul mencuatnya dugaan kasus suap yang dilakukan pejabat bank sentral.

MA Minta Putusan Soal KPC Jangan Dipolitisasi

JAKARTA -Majelis Hakim Mahkamah Agung (MA) yang memutuskan menolak Peninjauan Kembali (PK) kasus pajak  PT Kaltim Prima Coal (KPC)   membantah adanya indikasi politik dari keputusannya. “Hukum jangan dipolitikkan,” kata  Supandi, satu seorang anggota majelis hakim PK saat dihubungi Minggu (30/5).

Orang Baik Dirayu Pimpin KPK

Jakarta-Seleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan segera dimulai. Namun sampai saat ini Panitia Seleksi (Pansel) Calon Pimpinan KPK masih mendapatkan nama-nama yang dinilai kurang kredibel. Ketua Pansel yang juga Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Patrialis Akbar meminta kader terbaik bangsa untuk segera mendaftar sebagai pimpinan KPK.

Lumpur Lapindo Kuras Rp2,8 T

JAKARTA-Tragedi lumpur Lapindo Brantas sudah berlangsung empat tahun. Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) menyatakan sebanyak Rp2,8 triliun dari APBN yang sudah dikuras untuk menangani akibat lumpur tersebut.

Mantan Kapolres Ditangkap, Diduga Terlibat Demo Anarkis

AMBON-Mantan Kapolres Kepulauan Aru AKBP (Purn) Jordan Kubella ditangkap Polda Maluku karena diduga terlibat dalam penggerakan massa demonstrasi anarkis di kantor KPU setempat di Dobo pada 13 Mei lalu.

SBY Tegaskan Komitmen Dukung Kemerdekaan Palestina

Jakarta -- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan Indonesia tetap berkomitmen dan konsisten dalam mendukung perjuangan kemerdekaan negara Palestina. Indonesia, kata Presiden, siap menjadi fasilitator dalam pembicaraan dan negosiasi demi tercapainya kemerdekaan penuh Palestina.

Seleksi Calon Ketua KPK, Ada Calon Titipan Koruptor

JAKARTA — Seleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum dimulai. Namun Staf Khusus Presiden Bidang Hukum Denny Indrayana melempar bola panas tentang calon ketua KPK yang sudah mendaftar. Denny mendapat informasi ada calon pimpinan KPK titipan koruptor. Farhat Abbas, salah satu calon menantang Denny untuk membuktikan. 

Tujuh Hari Ainun Habibie Berpulang, Setiap Hari Habibie Datangi Makam Istri

JAKARTA—Mantan Presiden BJ Habibie benar-benar merasa kehilangan dan tidak ingin berpisah dengan istrinya Hasri Ainun Habibie. Sejak dikebumikan Selasa lalu, setiap hari Habibie menyambangi makam Ainun di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. Bahkan, Habibie kabarnya sudah memesan lokasi makam bagi dirinya persis di sebelah makam Ainun.

Kasus Mafia Pajak Gayus, Polri Selidiki Belasan Perusahaan

JAKARTA-Polri sedang menyelidiki belasan perusahaan terkait kasus mafia pajak yang melibatkan mantan pegawai Ditjen Pajak Gayus HP Tambunan. Belasan perusahaan itu di luar empat perusahan yang telah diselidiki beberapa waktu lalu. Empat perusahaan yang telah diselidiki adalah PT SAT, DAS, EC, dan ID.

Istri Gantikan Suami Jadi Bupati Bantul

JAKARTA- Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menetapkan pasangan Hj Sri Suryawidati-Sumarno Prs., sebagai pemenang pemilihan kepada daerah setempat.

Komisi IX DPR 'Usir' Menkes

JAKARTA-Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih diminta pergi oleh anggota Komisi IX DPR RI dalam Rapat Dengar Pendapat pada Kamis (27/5). Pasalnya, jawaban Endang dinilai tidak memuaskan para wakil rakyat tersebut.

Terbukti, BI Sarang Penyamun

JAKARTA-Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PDIP Eva Kusuma Sundari menyatakan banyaknya kasus korupsi di Bank Indonesia (BI) yang terungkap membuktikan bahwa bank sentral benar merupakan sarang penyamun. Terakhir, kasus dugaan korupsi di BI yang terungkap adalah suap pencetakan uang pecahan Rp 100.000.

Ahli Hukum Nilai Penangkapan Susno Tidak Sah

JAKARTA—Penangkapan terhadap mantan Kabareskrim Polri Komjen Susno Duadji terkait kasus dugaan korupsi senilai Rp500 juta dinilai tidak sah. Penangkapan terhadap Susno yang dilakukan oleh penyidik tim independen Mabes Polri dinilai tidak perlu.

Presiden Pimpin Pemakaman Ibu Ainun di TMP Kalibata

Air Mata Habibie Tumpah di Pusara Istri

JAKARTA-Kesedihan yang begitu mendalam dirasakan oleh mantan Presiden Prof Dr Ing Bacharuddin Jusuf Habibie. Saat prosesi pemakaman istrinya, dr Hasri Ainun Besari Habibie, beberapa kali air mata mantan orang nomor satu di Indonesia itu jatuh mengalir karena tak kuasa menahan haru.


Habibie tampak setia mengikuti seluruh prosesi pemakaman istri yang dinikahinya pada 12 Mei 1962 itu. Saat tiba di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, Habibie tak pernah terlihat jauh dari peti yang berbalut Bendera Merah Putih itu. Ia juga ikut dalam mobil yang membawa jenazah dokter lulusan Universitas Indonesia itu dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta ke kediamannya di Jalan Patra Kuningan XIII, Jakarta Selatan, dan dari rumah duka ke TMP Kalibata. Dia terlihat tegar mendampingi jenazah istrinya dengan ditemani kedua putranya, Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Perlahan, ketegaran Habibie mulai memudar tatkala jenazah perempuan yang telah 48 tahun mendampinginya itu mulai diturunkan ke liang lahat. Tembakan salvo turut mengiringi penurunan jenazah ke liang lahat. Dengan mata berlinang, Habibie terlihat memberi hormat dengan mata yang tak pernah lepas menatap jenazah Ainun.

Dengan dipapah kedua putranya, Habibie kemudian menaburkan bunga di atas liang lahat sang istri. Tak lama acara tabur bunga ini dilanjutkan oleh kerabat keluarga dekat lainnya. Mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) itu hanya terduduk memandangi prosesi penguburan jenazah.

Usai jenazah dimakamkan, Habibie pun segera meletakkan karangan bunga di atas pusara makam. Seusai meletakkan karangan bunga, diusapnya nisan makam yang masih sangat baru bertuliskan Hasri Ainun Habibie binti Mohammad Besari. Tak lama, prosesi pemakaman pun usai, Habibie tampak kembali berusaha tegar. Dengan ramah dia menerima ucapan belasungkawa dari berbagai tokoh nasional.

Sosok Habibie memang tidak pernah terlepas dari peran Ainun Habibie di belakangnya. Pada saat sakitnya sejak Maret lalu di Munich, Jerman, Habibie tak pernah berhenti dan terus menunggui istrinya di rumah sakit. Hingga wafatnya, Habibie pun tetap setia mendampingi jenazah sang istri.

Kehidupan rumah tangga Habibie-Ainun memang sangat harmonis. Habibie dikenal sangat menyayangi istri yang sudah memberinya dua putra itu. Meskipun bermukim di Jerman selepas turun dari jabatan presiden, Habibie rela pulang ke Jakarta untuk sekedar menemani Ainun menonton film 'Ketika Cinta Bertasbih'. Habibie juga pernah mengundang kru sinetron 'Cinta Fitri' ke rumahnya di Jalan Patra Kuningan, Jakarta, karena Ainun sangat menyukai sinetron tersebut.

Tak kurang dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang memimpin langsung upacara pemakaman Ainun memuji kedahsyatan cinta Habibie-Ainun. Dia menyebut, kasih sayang dan dukungan Ainun telah berperan besar dalam tugas kenegaraan Habibie sebagai Presiden RI di kala terjadi gelombang krisis dan reformasi pada 1998.

Di mata SBY, Ainun merupakan seorang pejuang kemanusiaan yang tulus. "Kita telah kehilangan salah seorang tokoh wanita Indonesia terbaik, seorang Ibu Negara yang penuh kasih, pejuang kemanusiaan yang tulus, serta ibu dari sebuah keluarga panutan," kata SBY dengan mata berkaca-kaca. Tampaknya SBY menahan haru melihat Habibie yang menangis terisak saat menaburkan bunga ke liang lahat istri tercintanya.

Pujian atas keharmonisan rumah tangga Habibie-Ainun juga datang dari sejumlah tokoh lainnya, seperti mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan mantan Ketua MPR Amien Rais. Bahkan bukan hanya di dunia nyata, pujian juga berdatangan dari dunia maya. Para pengguna Twitter mengagumi kisah cinta Ainun-Habibie. "Bapak BJ Habibie jadi idaman para tweep's perempuan, karena beliau setia sama istrinya," tulis seorang tweep, sebutan bagi pengguna Twitter.

Duta Besar RI untuk Belanda yang juga adik kandung Habibie, Junus Effendy Habibie mengaku sangat tersentuh dengan kesetiaan kakaknya mendampingi istrinya ketika berjuang melawan sakitnya. "Bayangkan, dua bulan ini dia tidak pernah keluar rumah sakit," kata Yunus.

Diceritakan Junus, setibanya di Muenchen pada 24 Maret silam, Habibie langsung menemani Ainun di dalam ambulans yang membawanya ke rumah sakit. Ibu Ainun, katanya, menderita kanker usus besar. Sekitar 60 persen kankernya berhasil diangkat, tetapi 40 persen sisanya keburu menjalar ke bagian tubuh lainnya.

Karena kondisinya yang lemah, Ibu Ainun tidak dapat menjalani kemoterapi. Akhirnya, pada Sabtu sore pekan lalu, Ibu Ainun mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Ludwig-Maximilians-Universitat, Klinikum Gro'hadern, Jerman. Diceritakan Yunus, Ibu Ainun mengembuskan napas terakhir setelah Habibie mengikhlaskannya.

"Pada 24 Maret lalu, Pak Habibie mendarat di Muenchen, langsung berada di dalam ambulans. Kini, pada 24 Mei, tepat dua bulan sesudahnya, Pak Habibie membawa Ibu Ainun kembali ke Tanah Air dengan mobil jenazah," kata Yunus.

"Mereka berdua saling tergantung satu sama lain, cintanya besar sekali. Dia (Habibie) pernah berkata, 'Saya dilahirkan untuk Ainun dan Ainun dilahirkan untuk saya,'" kenang Yunus.

Putra bungsu Habibie-Ainun, Thareq Kemal Habibie mengakui keagungan cinta kedua orang tuanya. Kata Thareq, Habibie tidak keluar dari rumah sakit selama dua bulan karena telah berikrar kepada Ibu Ainun. "Bapak itu punya janji, ada ikrar. Kata Bapak, saya (Habibie) hanya akan keluar rumah sakit ini dengan Mama (Ainun), dan itu sudah Bapak katakan dari awal Ibu masuk rumah sakit. Makanya saya setuju kalau mereka ini dua sejoli," kata Thareq.

Thareq menceritakan kondisi ibunya yang terus menurun setiap menjalani operasi. Namun bagitu dia tidak merasa kecewa dengan pihak medik karena dianggap telah berusaha semaksimal mungkin. "Jadi selama di sana kondisi ibu terus menurun. Setiap habis operasi malah stuck. 5 minggu di rumah sakit Ibu menjalani operasi sebanyak 12 kali, dimana 4 minggu awal Ibu harus menjalani operasi sebanyak 2 kali sehari. Pada saat yang sama dokter bilang ibu harus direhabilitasi, bagaimana mungkin orang tua di usia 73 bisa direhabilitasi dengan kondisi lemah, dan tanpa jeda," kisahnya.

Dia menambahkan, saat suasana sangat sepi ketika menjelang perginya Ibu Ainun. Dia pun sangat mengerti bagaimana rasa kehilangan sang ayah yang di matanya kedua orang tuanya selalu bersama dalam setiap kesempatan. "Suasana saat itu sunyi, sepi, kita hanya bisa diam saat Ibu menghembuskan nafas terakhir. Saat itu yang ada di samping Ibu ada saya dan istri, Ilham dan istri serta Bapak pastinya, dan kita membimbing Ibu dalam sakaratul mautnya," katanya.

Sepeninggal Ibu Ainun, kata Thareq, ia dan kakaknya serta para cucu akan senantiasa menemani Habibie saat tidur untuk mengusir kesepian mantan Presiden itu. "Kami sudah buat rencana. Kami akan gantian di sini menjaga Bapak," katanya.

Cendana Tak Beri Ucapan Duka

Jenazah Ibu Ainun tiba di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (25/5) pukul 04.58 WIB dengan pesawat Garuda Indonesia jenis Boeing 737-800 yang khusus dikirim pemerintah ke Jerman untuk menjemput jenazah. Jenazah disambut Mensesneg Sudi Silalahi, mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, dan sejumlah pejabat serta duta besar negara sahabat.

Dari bandara, jenazah langsung dibawa ke rumah duka. Di sana, pelayat sudah banyak yang menunggu, termasuk sejumlah pejabat dan mantan pejabat negara. Presiden dan Wakil Presiden Boediono beserta istri masing-masing juga menyempatkan datang ke rumah duka untuk menyampaikan ucapan belasungkawa.

Setibanya di rumah duka, jenazah perempuan cantik kelahiran Semarang, 11 Agustus 1937 itu langsung disalatkan. Usai disalatkan, pelayat baru diberi kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir bagi jenazah. Sekitar pukul 10.50 WIB, jenazah lalu dibawa ke TMP Kalibata untuk dikebumikan secara kenegaraan.

Sementara itu, keluarga mendiang mantan Presiden Soeharto sama sekali tak tampak dalam prosesi pemakaman Ainun, baik saat di rumah duka maupun di TMP Kalibata. Putra Habibie, Thareq Ilham Habibie, mengaku pihaknya tak mempersoalkan ketiadaan kehadiran atau ucapan belasungkawa dari keluarga Cendana. "Oh, saya nggak tahu. Saya nggak kepikiran apa-apa. Boro-boro kepikiran hal kayak begitu," kata Thareq.

Hubungan Habibie dengan keluarga Cendana memang renggang semenjak Soeharto jatuh dari kursi kepresidenan pada Mei 1998. Namun, Habibie dan Ibu Ainun datang dari Jerman untuk menjenguk Soeharto saat kritis di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta pada 15 Januari 2008 lalu. (sm/dtc/kc)