Sabtu08302014

Last update12:00:00 AM

Back News Nasional Adik Kandung John Tebarkan Ancaman

Adik Kandung John Tebarkan Ancaman

JAKARTA-- Tito Refra, adik kandung sekaligus pengacara John Kei mengancam jika sesuatu terjadi pada kakaknya maka Jakarta akan gempar.


"Kami meminta tangung jawab, kita akan lapor ke Propam Polda, karena sikap penangkapan seperti itu, kalau sampai dia (John) ada apa-apa Jakarta gempar," tegas Tito saat ditemui di RS Polri, Kramat Jati, kemarin.

John Kei disergap di sebuah kamar hotel di Pulomas, Jakarta Timur, Jumat (17/2) malam lalu.  Ketua organisasi pemuda asal Pulau Kei, Maluku Tenggara, ini  diduga terlibat kasus pembunuhan bos PT Sanex Steel Indonesia, Tan Harry Tantono (45). Tan tewas pada 26 Januari 2012 lalu. Saat penangkapan John terpaksa ditembak karena berupaya melarikan diri.

John lalu menjalani operasi pengangkatan proyektil peluru yang tertanam di betis kaki kanan di bawah lututnya di IGD RS Polri Kramat Jati. Kini John dipindahkan ke ruang rawat tahanan yang dilengkapi terlaris besi di setiap pintu dan jendelanya.

Pantauan di lapangan John Kei keluar dengan kaki kanan sudah di gips berwarna oranye. John masih mengenakan baju yang sama, kaos biru yang dipakainya saat ditangkap.

Tito mengatakan abangnya tidak melawan saat ditangkap polisi. "Polisi main tembak saja," kata Tito.

Ia menceritakan, saat itu John Kei sedang berada di kamar 501 Hotel C'One Jakarta Timur. Tiba-tiba saja polisi masuk. "Siapa yang mau melawan jika ada di dalam kamar hotel?" kata Tito.

Tak berselang lama setelah polisi masuk, perwira polisi langsung berteriak. "Polisi itu memaki dengan kata-kata kotor," kata Tito. Setelah memaki, terdengarlah suara tembakan.
"Bukan, bukan berteriak jangan bergerak, tapi memaki," kata Tito.
Sampai dini hari tadi Tito mengaku belum mengetahui atas kasus apa abangnya ditangkap dan ditembak.

Sementara itu, hari ketiga setelah penangkapan John Kei oleh pihak kepolisian, keluarga belum diperkenankan bertemu. Tito Refra Kei, adik John Kei berang karena dilarang menemui kakaknya yang dirawat di ruang ICU RS Bhayangkara Polri, Jakarta, Minggu (19/2).

Istri John Kei, Yulianti Refra, yang datang bersama empat anaknya kembali kecewa tak bisa masuk ke ruangan ICU. Dengan tindakan keamanan yang melarang masuk, Yulianti geram, "So pasti saya terzalimi dengan ini. Kita dari keluarga ke sini tanpa bodyguard," katanya.

Jangankan masuk ruangan, satu tas jinjing berisi pakaian untuk John Kei yang dibawa keluarga tak bisa disampaikan. Tas itu kemudian dibawa kembali anggota keluarga.

Dikatakan Yulianti, John Kei bolehlah berwajah seram. Tapi di hatinya adalah pria yang baik. Selama 20 tahun tinggal di Bekasi, John Kei dekat sama warga. Sosialisasinya bagus. "Dan kita tidak pernah ada masalah. Bang John selalu membantu apa yang orang butuhkan," ceritanya.

Di tempat yang sama Feren, putri bungsu John Kei, merasa sedih karena tak dapat melihat kondisi ayahnya yang dirawat di RS Polri Kramat Jati. Feren menilai ayahnya memiliki kepribadian yang baik.

"Papa enggak galak kok. Papa itu suka anak kecil. Papa tuh lucu," kata Feren di RS Polri, Jakarta Timur, Minggu (19/2). Gadis muda ini bahkan juga mengungkapkan tak bisa melupakan candaan sang ayah.

Ditindak Tegas

Kapolresta Barelang, Kombes Karyoto mengatakan siapapun dia  atau sekelompok orang, jika melakukan pelanggaran hukum akan ditindak. Seperti halnya yang dilakukan oleh pihak kepolisian di Jakarta yang mengamankan John Key yang diduga telah terlibat aksi pembunuhan.

"Pribadi orang perorangan atau secara berkelompok jika melakukan pelanggaran hukum akan kita tindak," ujar Kapolres saat dimintai tanggapan terhadap aksi premanisme, Minggu (19/2).

Menurutnya, gerombolan orang atau premanisme, jika melakukan pelanggaran hukum tentu harus ditindak, karena pada intinya bukan orang atau kelompoknya yang ditindak, tetapi aksi melawan hukumnya.

"Pada intinya, bukan mengamankan kelompoknya, tetapi aksi melawan hukumnya yang harus diperangi," tegasnya.

Upaya pengamanan preman di Jakarta, kata Karyoto, sudah semestinya dilakukan karena sudah menghawatirkan masyarakat. Sementara jika melihat kondisi Batam, saat ini masih terkendali dan tidak ada sekelompok orang yang kerap mengganggu ketenangan masyarakat sebagaimana terjadi di Jakarta.

"Kita berharap segerombolan orang yang mengatasnamakan diri sebagai preman atau apalah bentuknya, tidak tumbuh di Batam, karena kondisi Batam sebagai kota industri harus menghindari gangguan sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab tersebut," kata Kapolres.

Sementara itu Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Profesor Muhammad Mustofa meminta polisi bersikap tegas dan tak boleh ragu menindak pembunuhan bos PT Sanex Steel, Ayung alias Tan Hari Tantono (50). Polisi harus menjadikan sikap tersebut sebagai pintu masuk dalam memberantas premanisme di Jakarta.

"Seharusnya begitu, tidak boleh ada keraguan bagi polisi dalam menghadapi premanisme," kata Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Profesor Muhammad Mustofa, kemarin.

Menurutnya, seharusnya polisi bisa melakukan pemberantasan preman berkedok organisasi jasa, hukum sejak mencuatnya beberapa kasus menonjol yang pernah menggemparkan Jakarta.

Dia mencontohkan kasus bentrokan di depan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan dan serangkaian aksi kekerasan yang dilakukan penagih hutang.

"Sebetulnya premanisme lebih mudah diatasi dibandingkan korupsi. Karena secara fisik, barang bukti lebih mudah dilihat dibandingkan korupsi," papar Mustofa.

Dari beragam literatur yang dibaca, premanisme muncul ketika sekelompok orang melakukan kriminalits biasa. Kemudian mereka berpikir untuk mengefisiensikan aksinya itu dengan melakukan bisnis barang dan jasa ilegal.

"Bila semula mereka meminta setoran keamanan per minggu atau bulanan, saat ini mereka melakukan penghalusan kriminalitas, enggak usah menggunakan cara-cara kekerasan dalam praktik yang dijalani," jelasnya.

Faktor lain yang mendorong munculnya preman, imbuh Mustofa, karena adanya rasa tidak percaya di dalam masyarakat terhadap penyelesaian hukum yang dianggap tidak adil.

"Jadinya masyarakat lebih percaya kepada kekuatan fisik dalam penyelesaian masalah, salah satunya menyewa preman dengan dibalut kegiatan dan organisasi yang legal," ujar Mustofa.

Dai menduga lambatnya respon aparat kepolisian dalam menumpas premanisme di Jakarta karena organisasi preman yang terorganisir selalu melibatkan aparat penegak hukum.

"Dalam literatur organized crime ada kongkalikong antara penegak hukum dan kelompok itu sendiri," katanya.

Siapa Jhon Kei? Dari sumber berbagai kalangan Jhon Kei adalah tokoh preman kelompok Ambon yang sudah melang melintang di dunia hitam di Jakarta. Jauh sebelum nama Hercules (tokoh preman Timor Timur) menjadi bahan pembicaraan di Jakarta, kelompok Ambon pimpinan Key lebih solit dan menjadi penagih utang yang disegani berbagai kalangan.

Kelompok John Kei

Polisi mengumpulkan kasus premanisme di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi untuk menjerat John Refra atau yang lebih dikenal John Kei (42).

Juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, mengungkapkan banyak kasus premanisme yang terkait dengan John Kei dan kelompoknya. "Laporannya tersebar di Polsek-Polsek," kata Rikwanto.

Sejauh ini polisi hanya menyebut John sebagai orang yang dituakan dalam komunitas informalnya. Komunitas itu disebut bergerak di bidang penagihan utang, pembebasan tanah, jasa penjagaan dan pengamanan tempat hiburan dan perkantoran, serta parkir.

Komunitas informal inilah yang jasanya digunakan oleh Tan Harry Tantono, yang ditemukan tewas dengan sejumlah luka tusuk di sebuah kamar hotel di Jakarta Pusat, untuk menagih utang.

Bekas Direktur Power Steel Mandiri itu diduga dibunuh karena tidak melunasi upah kerja para penagih tersebut sebesar Rp600 juta. “Pada waktu kejadian, John ada di tempat terjadinya pembunuhan,” kata Rikwanto.

Menurut Rikwanto, lima tersangka yang sudah lebih dulu ditahan dalam kasus itu mengatakan John sekamar dengan Tan Harry di hotel itu. Keterangan dikuatkan lagi dengan isi rekaman 13 kamera CCTV yang ada di hotel, mulai dari lobi, lift, hingga koridor atas, bahwa John Kei berada di tempat kejadian.

Dalam kasus itu saja John terancam jerat Pasal 340 subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 ayat 1 KUHP dan juncto Pasal 56 KUHP tentang pembunuhan berencana. “Hukuman yang dikenakan maksimal 20 tahun penjara,” kata Rikwanto.

Namun, hingga kemarin, proses pemeriksaan terhadap John Kei masih menunggu tindakan operasi di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Dalam operasi penyergapan berkekuatan 75 personel Jumat malam itu polisi memang menembak karena John sempat melawan.

Operasi pengangkatan proyektil peluru yang bersarang di betis kanan itu terhambat kondisi kesehatan John yang terungkap menderita penyakit gula darah. “Operasi pengambilan peluru tidak bisa dilakukan dengan kadar gula dalam darah setinggi itu,” kata Rikwanto.

Pemeriksaan berupa tes urine justru telah dilakukan terhadap teman perempuan John di kamar hotel, Alba Fuad. Artis era 1980-an itu terbukti menggunakan narkotik jenis sabu. Berkas pemeriksaan Alba bersama barang bukti bong isap kemudian dialihkan ke Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya. (cw/55/dtc/viv/kom)


Runtutan Peristiwa Kekekaras John Kei

Selama hampir beberapa tahun ke belakang, Angkatan Muda Kei (AMKei) terlibat dalam peristiwa kekerasan di Ibu Kota. Perselisihan melibatkan antargeng dan masalah bisnis. Berikut runtutan peristiwa yang dihimpun di lapangan

29 September 2010
Bentrokan antara kelompok Maluku (Kei) dan Flores (Thalib Makarim) ketika sidang kasus Blowfish di Jalan Ampera, di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Korban tewas dari kelompok Maluku adalah Frederik Philo Let Let, 29 tahun, Agustinus Tomas, 49, dan seorang sopir Kopaja, Syaifudin, 48.

12 April 2010
Koordinator keamanan Koperasi Bosar Jaya, Logo Vallenberg, dikeroyok kelompok Umar Kei. Penyebabnya sengketa warisan antarkeluarga pemilik koperasi.

4 April 2010
Bentrokan di klub Blowfish, Wisma Mulia, Jakarta, menewaskan dua orang dari kelompok Kei, M Sholeh dan Yoppie Ingrat Tubun. Klub Blowfish dijaga kelompok Flores Ende pimpinan Thalib Makarim.

11 Agustus 2008
John Kei, pemuda Ambon, ditangkap Densus Antiteror 88 Kepolisian Daerah Maluku di Desa Ohoijang, Kota Tual. Dia diduga kuat terlibat penganiayaan terhadap dua warga Tual, Charles Refra dan Remi Refra, yang menyebabkan jari kedua pemuda itu putus.

8 Juni 2005
Keributan antara kelompok Basri Sangaji dan John Kei saat sidang kasus pemukulan di Diskotek Stadium, Jakarta Barat. Kakak kandung John Kei, Walterus Refra Kei alias Semmy Kei, terbunuh di lahan parkir Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Tindakan ini merupakan balas dendam atas pembunuhan Basri Sangaji dan bentrokan di Diskotek Stadium.

1 Maret 2005
Ratusan orang bersenjata parang, panah, pedang, dan celurit berhadapan di Jalan Ampera, Jakarta Selatan, di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan ketika sidang pembunuhan Basri Sangaji.

12 Oktober 2004
Basri Sangaji tewas diserang sepuluh preman dari kelompok John Kei di kamar 301 Hotel Kebayoran Inn, Jakarta Selatan.

2 Maret 2004
Bentrokan antara kelompok Basri Sangaji dan John Kei di Diskotek Stadium di kawasan Taman Sari, Jakarta Barat. Saat itu kelompok Basri menjaga diskotek dan diserang puluhan orang Kei. Dua penjaga keamanan dari kelompok Basri tewas.











Share

Fokus

Enam Tahun Menjual Bendera

Minggu, 10 August 2014
 Enam Tahun Menjual Bendera

TANJUNGPINANG (HK) -  Ibarat jamur di musim hujan. Setiap mendekati momen hari k...

Jejak

Jalan Tanah Bekas Jepang

Senin, 15 April 2013
Jalan Tanah Bekas Jepang

Di sembulang ada sejumlah jejak bekas markas Jepang yang hingga kini masih bis...