Senin09012014

Last update12:00:00 AM

Back News Nasional Istri Nazaruddin Ditangkap

Istri Nazaruddin Ditangkap

Buronan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kasus dugaan korupsi pengadaan listrik PLTS tahun 2008, Neneng Sri Wahyuni (kanan) dikawal petugas penyidik KPK saat tiba di Gedung Komisi Pemberantasan korupsi (KPK) di Jakarta , Rabu (13/6). Neneng merupakan buronan kasus PLTS di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. KPK menemukan kerugian negara sekitar Rp3,8 miliar terkait dengan proyek tersebut. ANTARANeneng Bermalam di Batam

JAKARTA--Tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Neneng Sri Wahyuni ditangkap di rumahnya Kawasan Pajetan Jakarta, Rabu (12/6). Buronan KPK ini dari Malaysia melalui Batam, Kepulauan Riau. Bahkan ia sempat bermalam di Batam.


Bersamaan dengan penangkapan Neneng, KPK juga mengamankan dua warga negara Malaysia yang diduga membantu Neneng selama pelarian. Kedua orang itu juga langsung digelandang ke gedung KPK dan diperiksa penyidik sekitar pukul 18.12 WIB.

Sementara Neneng tiba di gedung KPK Jakarta sekitar pukul 16.55 WIB dikawal tim penyidik KPK. Neneng mengenakan terusan panjang lengkap dengan selendang yang menutupi wajahnya. Neneng juga terlihat membawa bantal berwarna merah. Saat diberondong pertanyaan wartawan, Neneng bungkam.

Wakil Ketua KPK, Busyro Muqoddas mengatakan Neneng sudah diikuti tim penyidik KPK sejak di Batam. Dia (Neneng) kata Busyro masuk ke Indonesia lewat Batam kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandara Soekarno-Hatta dan tiba sekitar pukul 11.30 WIB.

"Lalu diikuti oleh tim KPK, ternyata menuju ke rumahnya di kawasan Pejaten," tambah  juru Bicara KPK, Johan Budi, kemarin.

Sebelumnya, lanjut Johan, tim penyidik KPK sempat kehilangan jejak Neneng hingga akhirnya berhasil menangkapnya sekitar pukul 15.30 WIB di rumahnya di Pejaten, Jakarta Selatan.

Neneng sebelumnya tidak terlacak keberadaannya setelah suaminya Nazaruddin tertangkap di Cartagena, Kolombia, 7 Agustus 2011 lalu. Neneng dan Nazaruddin bertolak ke Singapura pada 23 Mei 2011 lalu.

Nazaruddin sendiri divonis empat tahun sepuluh bulan dalam kasus suap wisma atlet SEA Games 2011. Neneng dan Nazaruddin diduga memperoleh keuntungan Rp 2,2 miliar dari proyek PLTS. Proyek PLTS senilai Rp 8,9 miliar tersebut dimenangkan oleh PT Alfindo Nuratama yang dipakai benderanya oleh Nazaruddin dan Neneng. Kemudian dalam pengerjaannya, proyek itu disubkontrak ke beberapa perusahaan lain. KPK menemukan kerugian negara sekitar Rp3,8 miliar terkait proyek tersebut.

Serahkan Diri


Keluarga Neneng membantah kalau Neneng ditangkap KPK. Menurut mereka, tersangka justru pulang sendiri dari Kuala Lumpur, Malaysia, ke Jakarta. Setelah mendarat di Bandar Udara Soekarno Hatta, Neneng pulang ke rumahnya di Jalan Pejaten Barat Raya Nomor 7, Pejaten, Jakarta Selatan. "Dia pulang sendiri ke Tanah Air," kata kerabat dekat Neneng yang enggan menyebutkan namanya, kemarin.

Senada dengan itu Pengacara Nazaruddin, Hotman Paris menegaskan istri kliennya, Neneng Sri Wahyuni tidak ditangkap KPK. Menurut Hotman, Neneng justru menyerahkan diri kepada KPK.

"Saya tegaskan jika Ibu Neneng pukul 11.00 WIB menelpon Tim KPK untuk menjemput di rumahnya di Pejaten. Tim KPK tiba pukul 15.00 WIB," kata Hotman di Jakarta, Rabu (13/6).

Hal senada juga dijelaskan pengacara anggota tim pengacara Nazar lainnya, Rufinus Hutahuruk. Menurut Rufinus, kepulangan Neneg dari luar negeri sebelumnya sudah dikoordinasikan dengan Nazaruddin di Rutan LP Cipinang.

"Sebelumnya di Cipinang ketemu Pak Nazar bahwa dipastikan yang bersangkutan (Neneng) lokasinya di Kuala Lumpur. Jadi dikoordinasikan supaya kembali," kata Rufinus di gedung KPK, Rabu (13/6).

Karenanya Rufinus menegaskan, tidak ada penangkapan terhadap Neneng karena ibu tiga anak yang jadi buruan Interpol itu memilih pulang ke Indonesia dan menyerahkan diri.  "Sebab itu konsekwensi kita ambil. Yang penting kita ingin yang bersangkutan bisa berhadapan dengan hukum sebagaimana yang dituduhkan," jelas Rufinus.

Menurut Rufinus, kalaupun kepulangan Neneng itu tak terpantau KPK sehingga tidak langsung ditangkap, karena memang sudah niat untuk menyerahkan diri secara baik-baik. "Jadi kalau seandainya hari ini (kemarin) tidak ada diawasi, disita, maka kita berencana mengantar yang bersangkutan ke KPK," pungkasnya.

Meski pun pengakuan keluarga bahwa Neneng menyerahkan diri, namun dibantah Ketua KPK Abraham Samad. Abraham menegaskan tersangka Neneng  sesungguhnya ditangkap di rumahnya di Pejaten, Jakarta, bukan menyerahkan diri.

Penegasan Abraham ini dilakukan sebagai bantahan atas klaim kuasa hukum Nazaruddin kepada media, bahwa Neneng menyerahkan diri di rumahnya.

Sementara itu, pimpinan KPK Bambang Widjojanto memaparkan kronologis penangkapan ibu dua anak ini. Menurut Bambang, pada Selasa malam (12/6), pihaknya mendapat informasi dari seseorang, bahwa Neneng dari Kuala Lumpur Malaysia, negara yang menjadi pelariannya terakhir kali. Neneng akan terbang ke Jakarta, lewat Bandara Soekarno Hatta.

Dijelaskan, dari Kuala Lumpur, Neneng singgah dulu di Batam dan bermalam di sana. Kemudian, Rabu pagi bertolak menuju Jakarta.

"KPK melakukan operasi tangkap tangan di Bandara Soekarno Hatta. Tim disediakan di beberapa tempat, yang dicurigai akan menjadi tempat singgah. Salah satunya, rumah di Pejaten (kediaman Neneng dan Nazaruddin)," ujar Bambang.

Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas menambahkan, karena info mengenai pesawat yang akan ditumpangi Neneng tidak sesuai dengan faktanya, tim KPK tak langsung bisa menangkap Neneng di Bandara, melainkan dengan menguntit taksi Silver Bird yang ditumpangi Neneng dan seorang perempuan yang belum diketahui identitasnya.

Taksi itu sempat mampir di Kemang, lalu menuju rumahnya di Pejaten, Jakarta Selatan.

"Saat taksi itu keluar dari halaman rumah, tim KPK mencegat taksi itu, dan sopir taksi itu menjawab kalau yang baru dibawanya dua orang wanita," kata Busyro.

Setelah dipastikan yang dibawa taksi itu Neneng, KPK melakukan penangkapan, setelah menunggu Neneng selesai melaksanakan shalat.

Dalam kesempatan itu, Bambang Widjojanto menegaskan pada pemeriksaan awal terhadap Neneng, dia belum membuat satu surat kuasa pun bagi pengacara. Artinya, Neneng secara resmi belum memiliki pengacara.

"Ikutilah aturan dan pakai etika, karena kalau hanya mengaku-ngaku, bisa menjadi masalah kalau tidak ada surat kuasa. Jangan-jangan, menjadi bagian dari proses pelariannya," tegas Bambang.  (dtc/viv/kom)

 

 

Kronoligi Pelarian Hingga Penangkapan Neneng


23 Mei 2011
M Nazaruddin pergi ke Singapura bersama istrinya, Neneng Sri Wahyuni. Selama 336 hari Neneng menemani Nazaruddin di pelarian yang menyinggahi enam negara.

25 Juli 2011
Kepolisian Kolumbia mendeteksi Neneng bersama Nazaruddin dan dua orang lainnya meninggalkan Kolumbia.

6 Agustus 2011
Nazaruddin ditangkap di Cartagena, Kolumbia. Sedangkan Neneng diduga terbang ke Kuala Lumpur menemui anak-anaknya.

14 Agustus 2011
Pengacara Nazaruddin, OC Kaligis, mengungkapkan baru melakukan kontak dengan Neneng. Tentang keberadaan Neneng, OC mengaku tidak tahu.

18 Agustus 2011
Selesai mendampingi pemeriksaan Nazar, OC Kaligis mengungkapkan Nazar mengirim surat kepada Presiden SBY. Dalam suratnya, Nazar berjanji tidak membuka aib Demokrat dengan syarat Presiden mau menjamin keselamatan istrinya dan ketiga anaknya.

19 Agustus 2011
Neneng resmi menjadi buron Interpol. Red notice untuk Neneng bernomor A-4947/8-2011 Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maryoto juga menyatakan Neneng diindikasikan berada di Malaysia.

18 Januari 2012
Nazaruddin  mengaku pernah menelpon Neneng dari Rutan Mako Brimob. “Saya menanyakan soal kasus itu setelah dia (Neneng) jadi tersangka, via telepon. Waktu itu pas posisinya di Mako Brimob,” kata Nazar.

Maret 2012
Menurut KPK, Interpol mengendus keberadaan Neneng di Malaysia.

28 Maret 2012
Nazar menyebut istrinya berada di Singapura. Informasi diberikan Nazar ketika menjawab pertanyaan hakim pada persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

29 Maret 2012
Kabareskrim, Komisaris Jenderal Sutarman, mengaku jajarannya sudah mengetahui keberadaan Neneng. Menurut Sutarman, Neneng berada di negara yang mirip seperti Indonesia. Namun ketika wartawan menanyakan apakah di Thailand, Sutarman menjawab "IYA".

20 April 2012
Seusai divonis, Nazar menyatakan bersedia berunding untuk memulangkan istrinya. "Setelah lawyer saya menemui KPK, saya akan berunding dengan keluarga. Dari hasil perundingan itu, istri saya akan pulang langsung menyerahkan diri ke Mabes Polri, terus ke KPK untuk melanjutkan proses hukumnya," kata Nazar.

24 April 2012
Pejabat senior Kedutaan Besar RI di Malaysia, Amiruddin Panjaitan, menyebutkan Neneng belum keluar dari Malaysia.

13 Juni 2012
Neneng ditangkap KPK. Lokasi penangkapan belum dipastikan. Disebutkan Neneng ditangkap setelah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta dari Kuala Lumpur. Namun ada yang menyebut ia ditangkap di Pejaten.

Share

Fokus

Bulan Agustus Panen Narkoba

Sabtu, 30 August 2014
Bulan Agustus Panen Narkoba

WILAYAH Kepri menjadi tempat transit bagi para tersangka narkoba. Terbukti selam...

Jejak

Jalan Tanah Bekas Jepang

Senin, 15 April 2013
Jalan Tanah Bekas Jepang

Di sembulang ada sejumlah jejak bekas markas Jepang yang hingga kini masih bis...