Rabu10012014

Last update12:00:00 AM

Back News Nasional Giliran Tari Tor-to Diklaim Malaysia

Giliran Tari Tor-to Diklaim Malaysia

JAKARTA (HK)--Malaysia kembali mengklaim hasil kebudayaan asli Indonesia menjadi miliknya. Kali ini, negeri jiran itu akan memasukkan tari Tor-tor dan Gordang Sambilan sebagai warisan negara tersebut.

Di Indonesia, dua kesenian itu dikenal sebagai kebudayaan masyarakat Batak dan Mandailing, Sumatera Utara. Bahkan, tari Tor-tor sebagai salah satu bagian dalam upacara-upacara adat.

Namun kini, Malaysia dengan berani akan meregistrasi kebudayaan itu berdasarkan Bab 67 Undang-Undang Peninggalan Nasional 2005.

"Pertunjukan periodik harus diadakan. Artinya, tarian harus disajikan sementara irama gendang harus dimainkan di depan publik," kata Menteri Informasi, Komunikasi, dan Kebudayaan Malaysia, Datuk Seri Rais Yatim sebagaimana dikutip laman Bernama.

Menurut Rais, mempromosikan kebudayaan dan seni Mandailing sangat penting, sebab bisa mengungkap asal-usulnya. Selain itu bisa mempererat persatuan dan kesatuan dengan masyarakat lainnya, kata Rais usai meresmikan Perhimpunan anak-anak Mandailing, Kamis (14/6) lalu.

Sejalan dengan konsep Malaysia, upaya masyarakat Mandailing untuk mengangkat seni dan budaya mereka telah didukung oleh kementerian untuk diakui dan dikenalkan ke publik Malaysia.

Sebelumnya, Malaysia pernah mengklaim sejumlah kesenian asal Indonesia sebagai milik mereka. Malaysia pernah menampilkan tari Pendet asal Bali dalam video iklan 'Enigmatic Malaysia' di Discovery Channel.

Aksi ini memancing reaksi keras dari masyarakat Indonesia. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat itu sempat marah atas klaim itu. Budayawan Malaysia juga menyesalkan klaim ini. Namun, Malaysia berkilah iklan pariwisata itu yang membuat bukan negaranya, melainkan pihak Discovery Channel.

Selain tari Pendet, Malaysia juga pernah mengklaim tari Reog asal Ponorogo, Jawa Timur dan sejumlah kebudayaan Indonesia lainnya.

Upaya Malaysia mengklaim tarian Tor-tor mendapat perlawanan dari lembaga adat suku Mandailing, Sumatera Utara.

Ketua Lembaga Adat Sidimpuan, Haji Saleh Salam Harahap, menyatakan alat musik Gordang 9 dan tarian Tor-tor adalah budaya yang telah lama lahir dan dikenal luas sebagai milik suku Batak dan Mandailing. "Budaya itu sudah ada sejak 500 tahun lalu di Mandailing,” kata Saleh Salam bergelar Baginda Tambangan Harahap, Minggu (17/6).

Saleh yakin komunitas Mandailing yang tersebar di Malaysia juga bakal menghalangi upaya Malaysia mengklaim budaya itu sebagai milik negara jiran.

"Ada dua lembaga adat Mandailing di Malaysia, dan saya kenal pada pemangku adatnya. Tidak mungkin para pemangku adat Mandailing di Negara Bagian Perak, Malaysia, dan di Kuala Lumpur menggadaikan kebudayaan sukunya,” kata Saleh.

Kantor berita Bernama Malaysia melansir pernyataan Menteri Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia, Datuk Seri Dr Rais Yatim, meresmikan tarian Tor-tor sebagai cabang warisan Malaysia. ”Saya akan komunikasi dengan ketua adat Mandailing di Malaysia soal ini,” ujar Saleh.

Sementara itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, angkat bicara ihwal rencana pemerintah Malaysia mengakui tarian Tor-tor dan alat musik Gondang Sambilan (Sembilan Gendang) dari Mandailing, Sumatera Utara, sebagai salah satu warisan budaya negara tersebut.

"Saya belum jelas apakah itu dipakai, diperagakan, atau diklaim kepemilikannya. Itu sesuatu yang berbeda," kata Nuh saat dihubungi, kemarin. "Tapi kalau itu diklaim kepemilikannya (oleh Malaysia), itu yang harus diurus."

Jika tarian itu hanya dipakai atau diperagakan Malaysia di negerinya, Nuh menilai hal itu tidak masalah. "Kalau diperagakan oleh bangsa lain, itu sesuatu yang positif," ucap dia. Tapi kalau diklaim, itu tidak boleh, harus diurus. Itu jadi persoalan sendiri.

Jika nantinya, kata Nuh, Malaysia mengklaim dua budaya itu, pemerintah tidak akan tinggal diam. Pemerintah akan melakukan dialog kebudayaan dengan Malaysia untuk membahas masalah klaim budaya tersebut.

"Dialog kebudayaan ini yang nanti bisa menjembatani adanya cleaning pengakuan itu," katanya.

Dialog kebudayaan ini dilatarbelakangi oleh asal-usul Indonesia dan Malaysia yang memiliki kesamaan etnis. Selain itu, kemungkinan terjadinya migrasi penduduk beserta budaya kedua negara di masa lalu juga menjadi latar belakang perlunya dialog kebudayaan ini. "Berbeda (penyelesaiannya) antara klaim produk budaya dan klaim wilayah fisik."

Untuk menghindari kejadian serupa ke depan, Nuh menilai penting dilakukannya registrasi produk-produk budaya Indonesia. "Harus diregister. Tidak hanya namanya, tapi juga kandungan falsafahnya," ujarnya. "Ini yang sekarang sedang kami lakukan."

Menurut Nuh, registrasi ini berguna untuk memastikan tercatatnya produk budaya Indonesia sebagai warisan budaya dunia dan nasional. "Sehingga semuanya tertulis. Tidak hanya berita oral," ucap dia. (viv/dtc/tmp)

Share

Fokus

Bunguran Barat Kecamatan Terkaya di Natuna

Sabtu, 27 September 2014
Bunguran Barat Kecamatan Terkaya di Natuna

Bunguran Barat Kecamatan Terkaya di Natuna

RANAI (HK) - Bunguran Barat merupakan ...

Jejak

Jalan Tanah Bekas Jepang

Senin, 15 April 2013
Jalan Tanah Bekas Jepang

Di sembulang ada sejumlah jejak bekas markas Jepang yang hingga kini masih bis...