Rabu08272014

Last update12:00:00 AM

Back Olahraga Sport Tragis! Indonesia Tersingkir

Tragis! Indonesia Tersingkir

WUHAN (HK) — Tragis! Indonesia harus menelan pil pahit. Pasukan "Merah-putih" gagal total, karena Tim Thomas dan Uber disingkirkan Jepang di perempat final turnamen beregu tersebut yang berlangsung di Wuhan Sport Complex Gymnasium, Cina, Rabu (23/5).

Tim Uber melengkapi penderitaan Timnas, setelah menderita kekalahan dari Jepang. Sempat mengejar ketertinggalan 0-2 menjadi 2-2, akhirnya harus gigit jari. Tunggal ketiga, Lindaweni Fanetri, yang tampil pada partai penentu, harus mengakui keunggulan Minatsu Mitani dalam pertarungan rubber
game berdurasi 1 jam 8 menit.

Sempat menang 21-19 di game pembuka, Lindaweni menyerah di dua game selanjutnya dengan 13-21, 17-21. Dengan demikian, Jepang yang berhak maju ke semifinal, untuk bertemu dengan pemenang Korea Selatan yang menang 3-2 atas Taiwan.

Kegagalan tim Uber ini melengkapi hasil buruk Indonesia di iven dua tahunan tersebut. Pasalnya, Tim Thomas yang lebih dulu tersingkir, juga setelah dikalahkan Jepang dengan skor 2-3.

Ini menunjukkan prestasi bulutangkis Tanah Air sudah sangat terpuruk dan mencapai titik nadir. Oleh karena itu, perlu kerja keras dan penanganan serius dari PBSI untuk membangkitkan kembali prestasi bulutangkis Indonesia yang dulu sangat disegani di muka bumi ini.

Sebelumnya, pasukan "Merah Putih" secara tragis juga dilibas Jepang dengan skor 2-3, pada partai penentuan perempat-final, Rabu siang. Tunggal ketiga Indonesia, Dionysius Hayom Rumbaka, gagal memenuhi ekspektasi pencinta bulutangkis Tanah Air, karena kalah dua game langsung 14-21, 19-21 dari
Takuma Ueda. Tanda-tanda kehancuran Tim Thomas ini sudah terlihat ketika ganda utama Markis Kido/Hendra Setiawan menyerah 16-21, 18-21 dari Noriyasu Hirata/Hirokatsu Hashimoto. Setelah itu giliran tunggal kedua Taufik Hidayat yang kalah 12-21, 17-21 dari Kenichi Tago. Padahal, Indonesia membuka laga ini dengan keunggulan 1-0 ketika tunggal
pertama, Simon Santoso, menang dua game 22-20, 21-14 atas Sho Sasaki.

Meskipun ganda kedua, Mohammad Ahsan/Alvent Yulianto Chandra, bisa menyamakan kedudukan menjadi 2-2 berkat kemenangan 21-17, 21-13 atas Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa, tetapi Indonesia akhirnya harus angkat koper jua.
Pada partai penentu, Hayom bermain dalam tekanan yang tinggi sehingga tak bisa memberikan perlawanan maksimal. Pemain berusia 23 tahun ini tampak serba salah sehingga kerap melakukan kesalahan sendiri ataupun memudahkan lawan untuk melepaskan pukulan mematikan.

Hayom Minta Maaf
============
Hayom seperti tidak mampu memilih kata-kata untuk  mengekspresikan perasaanya ketika pemain berperingkat 23 dunia itu menyerah dua  game langsung.  Akibat kekalahan itu, Indonesia yang sebelumnya berhasil menyamakan kedudukan 2-2 atas Jepang harus tersingkir lebih awal.

"Saya meminta maaf kepada seluruh masyarakat di Tanah Air atas kekalahan ini, sehingga Indonesia gagal melangkah ke babak berikutnya," kata Hayom

kepada wartawan usai  pertandingan yang berlangsung di stadion megah berkapasitas 13.000 penonton itu.
Sebagai pemain junior yang diharapkan menjadi pelapis pemain senior Taufik Hidayat dan Simon Santoso, pemain kelahiran 22 Oktober 1988 itu mengaku bahwa ia memang tampil penuh beban karena menjadi penentu nasib Tim Thomas Indonesia.

"Jika ada rasa tegang dan mendapat beban, itu pasti. Tapi saya sudah berusaha untuk tidak memikirkan hal tersebut dan mencoba untuk fokus pada pertandingan," kata Hayom.

Menurutnya, Ueda kali ini tampil lebih baik karena sejak awal mampu mengontrol jalannya pertandingan, serta tampil lebih percaya diri. "Dia membuat saya sulit untuk keluar dari tekanan dan saya sudah mencari segala upaya  untuk keluar tekanan tersebut, tapi ternyata ia sangat sulit ditaklukkan," katanya.

Dengan demikian, Jepang berhak melangkah ke semifinal. Di babak empat besar turnamen beregu putra ini, Jepang akan menghadapi pemenang antara tuan rumah Cina melawan Malaysia, yang saat berita diturunkan sedang berlangsung. Kini, Indonesia berharap kepada Tim Piala Uber yang juga sedang berlaga. Lagi-lagi Jepang yang menjadi lawan dihadapi.

Dalam sejarahnya, Tim Uber Indonesia cuma tiga kali menjadi juara, yakni di tahun 1975, 1994, dan 1996. Dari enam edisi terakhir, Indonesia bahkan cuma satu kali masuk final, yakni  saat dikalahkan Cina di Jakarta pada 2008.

Dua tahun lalu di Kuala Lumpur, Malaysia, Tim Uber Indonesia tersingkir di semifinal, dikalahkan Cina.

Rekam Jejak Prestasi
=============
Berangkat ke Wuhan dengan ekspektasi tinggi bisa menembus semifinal, Tim Thomas Indonesia malah tersingkir secara dramatis di fase perempatfinal. Tanpa diduga, Taufik Hidayat dan kawan-kawan harus mengakui keunggulan Jepang dengan skor 3-2. Menilik sejarah, kekalahan ini mencoreng catatan indah Tim Merah Putih yang  selalu berhasil menembus partai semifinal sejak 1958 di turnamen lambang supremasi bulutangkis beregu putra ini.  Sejak pertama kali digulirkan pada 1949, Indonesia menjadi tim yang paling disegani.
Betapa tidak, sejak 1958, Indonesia telah 13 kali membawa pulang trofi Thomas Cup. Sejak turnamen tersebut dimainkan dengan format semifinal pada 1984, Indonesia tidak pernah absen dari fase semifinal.  Indonesia pernah merebut tempat ketiga pada 1988 saat menggilas Denmark 5-0.
Memasuki dekade 1990, Cina mulai menunjukkan dominasinya sebagai salah satu raksasa bulutangkis Asia. Piala Thomas di Tokyo 1990, Tim Negeri Tirai Bambu berhasil keluar sebagai pemenang. Bersama Cina, negara tetangga Malaysia menjadi penantang terkuat Indonesia.

Indonesia yang tidak ingin dominasinya dipatahkan Cina, merespon dengan cepat tantangan tersebut. Pada Piala Thomas 1992 di Kuala Lumpur, Indonesia tampil sebagai runner-up. Dua tahun setelahnya, masa keemasan Indonesia di arena tepok bulu kian terlihat.

Dalam lima gelaran Piala Thomas sejak 1994, Indonesia selalu berhasil menjaga tradisi dan kultur juara. Kemenangan terakhir di ajang Thomas Cup terjadi pada 2002 silam.  Menghadapi Malaysia di laga pamungkas, Indonesia berhasil merebut kemenangan 3-2.

Setelah itu, prestasi Indonesia di turnamen ini mulai meredup. Cina seakan menjadi kekuatan yang tidak terbendung. Terhitung sejak 2004, Piala Thomas tidak pernah lepas dari genggaman Cina. Pada 2010 silam, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembalikan kejayaan di Kuala Lumpur.

Sayang, mereka gagal merebutnya dari tangan Cina. Indonesia kalah dengan skor telak 3-0 di partai final. Di 2012, Indonesia yang masih bertekad membalas kekalahan dari tangan Cina dua tahun silam justru mengalami kegagalan total. Indonesia jarus puas tersingkir di babak delapan besar yang berlangsung di Wuhan. Kekalahan ini sekaligus menodai rekor Indonesia
yang selalu berhasil menembus semifinal selama 54 tahun.(kcm/vvn/dtc/oke)



Indonesia di Piala Thomas

1949 Tidak berpartisipasi
1952 Tidak berpartisipasi
1955 Tidak berpartisipasi
1958 Juara (menang atas Malaya)
1961 Juara (menang atas Thailand)*
1964 Juara (menang atas Denmark)
1967 Runner up (kalah atas Malaysia)*
1970 Juara (menang atas Malaysia)
1973 Juara (menang atas Denmark)*
1976 Juara (menang atas Malaysia)
1979 Juara (menang atas Denmark)*
1982 Runner up (kalah atas Cina)
1984 Juara (menang atas Cina)
1986 Runner up (kalah atas Cina)*
1988 Posisi tiga
1990 Semifinalis
1994 Juara (menang atas Malaysia)*
1996 Juara (menang atas Denmark)
1998 Juara (menang atas Malaysia)
2000 Juara (menang atas Cina)
2002 Juara (menang atas Malaysia)
2004 Semifinalis
2006 Semifinalis
2008 Semifinalis
2010 Runner up (kalah atas Cina)
2012 Perempatfinalis
* Indonesia Tuan Rumah

Pengumpul Piala Thomas Terbanyak
Indonesia - 13
Cina - 8
Malaysia/Malaya - 5

Share

Fokus

Enam Tahun Menjual Bendera

Minggu, 10 August 2014
 Enam Tahun Menjual Bendera

TANJUNGPINANG (HK) -  Ibarat jamur di musim hujan. Setiap mendekati momen hari k...

Jejak

Jalan Tanah Bekas Jepang

Senin, 15 April 2013
Jalan Tanah Bekas Jepang

Di sembulang ada sejumlah jejak bekas markas Jepang yang hingga kini masih bis...