Selasa09232014

Last update12:00:00 AM

Back Opini | Dibalik Pembatalan Konser Lady Gaga

Dibalik Pembatalan Konser Lady Gaga

Umar Natuna, Ketua STAI Natuna, tinggal di Ranai Natuna Kepulauan Riau

Akhirnya, Konser penyanyikan berjulukan “mother monster“ atau yang lebih populer Lady gaga dibatalkan. Manajemen Lady Gaga, sebagaimana dilansir media ini membatalkan konser yang telah menguras berbagai kontraversi dan polemik baik soal perizinan maupun tentang kepatutan selama hampir dua pekan tersebut. Pembatalan konser penyanyi yang bernama lengkap Stefani Joanne Anggina Germanotta yang dijadwal 3 Juni di gelora Bung Karno tersebut lebih  dikarenakan alasan keamanan. Pihak manajemen konser Lady Gaga tidak menginginkan  terjadi cedera baik dari pihak Lady gaga, Kru maupun dari penonton. (Republika, 28 Mei 2012).

Kearifan pihak manajemen konser Lady Gaga mencermati berbagai polemik dan kontraversi yang demikian mengeras dalam realitas yang saling berlawanan antara yang pro dan kontra yang diakhiri dengan pembatalan konser , tentu harus diberi apresiasi. Sebab dengan ada pembatalan tersebut maka berbagai polemik dan kontraversi yang tidak produktif tersebut akan beralih pada yang produktif. Baik yang pro maupun yang kontra akan saling menyadari berbagai kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Momentum

Karenanya, kita tidak perlu lagi saling tuding atau menyalah satu sama  lain, atas kegagalan konser tersebut, sebab hal itu sudah menadi realitas sejarah yang menghendakinya. Yang kita perlu kedepan adalah bagaimana menjadikan pembatalan konser ini untuk menjadi momentum untuk menata kembali panggung dan muzaik budaya dan seni musik kita yang selama ini mengalami keterjajahan. Sebagai bangsa yang berbudaya dan memiliki jatidiri sebagai bangsa yang menganut sistem budaya, moral dan agama sebagai penyangga kohesi sosial, harus menyadari bahwa kita sedang mengalami krisis kebudyaaan.

Serbuan gelombang budaya korea di belantera musik kita dewasa harus diakui telah merubah arah dan kiblat budaya musik kita, terutama bagi kaum muda atau anak gaul. Tren K-Pop telah menyebarkan histeria gennre musik pop ala Korea. Ia menjadi trend center band-band baru yang banyak bermunculan menjelajahi dan menjejali blantika musik tanah air. Beragam gaya dan karaktristik K-Pop secara latah dan bahkan membabi buta diikuti serta diadopsi.

Demikian juga kegandrungan sebagian masyarakat kita akan sosok Lady Gaga, yang secara kasat mata jelas bertentangan dengan jatidiri kita sebagai bangsa yang berpegang teguh dengan adat istiadat, moral dan agama. Hal ini menandakan bahwa memang kita sedang mengalami krisis identitas dan budaya yang demikian akut. Nasionalisme kita akan musik, budaya dan kesenian kita kian luntur. Berbagai pertujukan wayang, ludruk, zapin, nasyid dan lainnya tidak mendapat tempat di hati kaum muda. Lady Gaga, yang mengusung berbagai kontraversi, seperti lesbi, seks bebas dan anti tuhan justru digandrungi, dengan dalih kebebasan berekspresi. Demikian juga tradisi valenteny day, setiap tanggal 14 Februari, digandrungi anak muda dan bahkan orangtua, walaupun mereka tidak asal usul dan makna dari hari valentiny days itu sendiri. Inilah, yang disebut oleh Ali Syariati, seorang pemikir berkebangsaan Iran sebagai keterjajahan kultural. Kita memiliki budaya, seni musik dan kesenian, tapi kita tidak menyenangi. Tetapi apa yang datang dari luar, walaupun tidak diketahui latarbelakang dan filosofinya, justru dianut  bahkan dipuja dan dibela sampai mati.
Pelajaran

Karenanya, pembatalan pemetasan konser Lady Gaga hendaknya menjadi pelajaran peting baik yang kontra maupun yang pro. Bagi yang kontra, pembatalan ini mesti disikapi dengan upaya untuk lebih intens menginternalisasikan nilai-nilai budaya, moral dan agama sebagai kekuatan evaluatif dalam proses kreatif. Artinya, adat istiadat, moral dan agama harus dapat dijadikan sumber inpirasi untuk melahirkan karya-karya kreatif. Demikian juga, adat istiadat, moral dan agama harus menjadi filter dalam menyaring dan memandu kreativitas budaya yang dilakukan.

Dalam konteks ini, sikap reaktif, intoleran, fanatisme dan berpikir normatif ( hitam putih) hendaknya dijauhkan. Karena jika sikap ini diteruskan, maka kita akan kehilangan kreativitas untuk melahirkan kreasi baru untuk mentransformasikan nilai-nilai moral dan agama dalam kreasi seni dan budaya. Sebab sikap reaktif dan fananisme yang berlebihan akan membuat seseorang akan menjadi kerdil dan buta akan kemajuan diluar dirinya. Yang kemudian justru melahirkan kegamangan atau split spersonality (kepribadian ganda). Lady gaga, telah memberikan pelajaran penting buat kita semua, agar kita tetap arif dan kreatif dalam berbudaya dan beragama. Sehingga, kreativitas kita tidak liar, kering dan keras terhadap sesama manusia.

Akankah bagi yang kontra terhadap Lady Gaga akan mengambil pelajaran terhadap pembatalan konsernya itu, untuk meningkatkan kreativitas dan sekaligus istiqomah dalam beragama. Ataukah, telah berpuas diri, dan lupa akan bekerjaan besar selanjutnya, yakni melahirkan kreativitas seni yang beradab. Inilah, pertanyaan dan jawaban yang masih ditunggu oleh kita semua, terutama bagi yang pro akan Lady gaga.

Sedangkan bagi pendukung Lady Gaga, kegagalan konser ini harus diartikan sebagai pelajaran yang berharga. Pertama, bahwa kreativitas seni tidaklah berdiri bebas dan terlepas dari ikatan tradisi, budaya dan moral suatu masyarakat.  Karenya, ia mestinya memandang kecaman atau penolakan terhadap lady gaga, dapat memacunya untuk melakukan introspeksi diri terhadap cara fikir dan pandangnya terjadap moral dan agama itu sendiri.

Kedua, bahwa masyarakat mempunyai hak untuk menyuarakan penolakan terhadap produk dan budaya kreasi yang bertentangan dengan budaya dan moral yang mereka yakini dan mereka pegang. Karena itu, sikap tidak memaksa kehendak mestinya dijadikan pilihan untuk menghadapi penolakan. Bukan malah memaksa diri dengan mengedepan berbagai argumentasi yang sebenar tidak rasional. Ketiga, aparat keamanan  dan instansi terkait kedepan hendaknya berhati-hatidalam memberikan izin terhadap berbagai kreativitas budaya yang tidak bermuara pada budaya dan moralitas bangsa. Intinya, harus ada satu persepsi dan satu kata, bukan seperti kasus Lady Gaga, yang satu begini yang lain begitu, akhirnya menimbulkan polemik yang merusak citra bangsa itu sendiri.

Itulah untuk menyebut beberapa hikmah dan  pelajaran yang dpat kita petik dari kegagalan manggungnya lady Gaga di Indonesia. Yakni bagaimana kita terus menerus melakukan proses kreatif dan berkesenian/ bermusik yang berbasis pada budaya dan moral yang ada diri sebagai bangsa. Dan melakukan proses penyadaran kritis akan bahaya budaya asing yang diterima mentah-mentah.  Tanpa ini, maka pembatalan konser Lady Gaga justru semakin mempoulerkan Lady gaga itu sendiri.***

Share