Kamis10022014

Last update12:00:00 AM

Back Opini | Puasa dan Kebangkitan Ekonomi Umat

Puasa dan Kebangkitan Ekonomi Umat

Puri Suryani, Kabiro Humas PD KAMMI Kepri

Sebenarnya terdapat potensi besar dibalik konsumtifisme yang terjadi saat ramadhan. Ketika permintaan meningkat pesat, demikian pula dengan penawaran yang tak kalah tingginya. Maka saat itu terjadilah situasi di mana pada tingkat harga yang terbentuk, konsumen dapat membeli semua produk yang diinginkannya dan produsen pun dapat menjual semua produk yang diinginkannya (Vincent Gaspersz, Ekonomi Manajerial, 2011). Tingginya permintaan, mampu menjadi peluang untuk meningkatkan jumlah penawaran. Itulah yang kemudian mampu mendongkrak perekonomian umat, ditengah tingginya konsumtifisme masyarakat tersebut.

Mobilitas masyarakat saat ramadhan tak kalah tinggi dibanding bulan-bulan lainnya, konon hal ini cukup menjadi pemicu pergerakan ekonomi yang pesat, terutama ekonomi umat yang identik dengan semangat berwirausaha. Masyarakat yang bukan pedagang pun, saat ramadhan tiba-tiba saja menjadi pedagang. Hingga muncul pasar-pasar rakyat atau bazar saat sore hari, mereka berlomba-lomba menjual aneka menu berbuka dan harus diakui ini menjadi pertanda bahwa ramadhan juga turut andil dalam kebangkitan ekonomi umat karena tanpa disadari, mereka telah menjadi pelaku langsung dalam berwirausaha, meskipun pasca ramadhan semuanya akan kembali seperti semula.

Berbagai fasilitas yang disediakan pemerintah guna mendukung pasar rakyat ini pun ternyata memiliki tujuan guna menggerakkan roda perekonomian semua kalangan (Haluan Kepri, 16/07/2012). Karena buka hanya kalangan kurang mampu saja yang berpartisipasi dalam pasar rakyat ini, akan tetapi kalangan menengah ke atas pun tidak ketinggalan hadir pada kesempatan ini. Ada diantara mereka yang berjualan di depan rumah masing-masing, ada juga di pinggir-pinggir jalan, ada juga yang hanya menitipkan saja, bahkan ada juga yang didapati berjualan dengan menggunakan mobil kemudian mangkal di suatu tempat yang tidak ada pesaing.

Berbicara mengenai lokasi strategis untuk berwirausaha, sebenarnya kurang tepat ketika kita memilih lokasi yang sepi pesaing, hal ini dapat menyebabkan konsumen merasa dibatasi dan terlihat eksklusif.  Maka dari itu, efektifnya memang lebih baik ikut dalam pasar rakyat atau bazar tersebut.

Fenomena Serba Baru

Peluang yang terdapat dalam bulan ramadhan tak hanya behenti sampai pada menu berbuka di setiap harinya, ternyata ada yang lebih dahsyat dari itu. Saat awal ramadhan banyak yang disibukkan dengan persiapan memasuki puasa, seperti menentukan menu berbuka dan sahur. Namun ketika ramadhan menjelang puncaknya, masyarakat tak lagi disibukkan dengan hal-hal seperti itu, melainkan seluruh masyarakat berlomba-lomba mempersiapkan diri menyambut hari nan fitri dengan tren "serba baru", sehingga tak heran jika jumlah penjual pada saat itu semakin bertambah, dengan diimbangi harga yang cukup bersaing pula. Inilah yang kemudian menjadi peluang besar dalam upaya mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat.

Masyarakat yang mampu membaca peluang ini, tidak akan kehabisan ide untuk meraup keuntungan dari konsumtifisme masyarakat dalam menyambut Idul Fitri. Banyak yang membuka outlet-outlet kecil di rumah untuk menjual kebutuhan sandang atau ramainya job para penjahit dalam pemenuhan kebutuhan tersebut. Dan ternyata pula, puncak ramadhan tidak hanya identik dengan serba baru, tapi permintaan terhadap bahan-bahan makanan pun juga meningkat.

Sehingga tidak heran jika saat ramadhan harga sembako melonjak naik, dikarenakan banyaknya permintaan di bulan ramadhan itu sendiri. Namun meskipun demikian, minat dan daya belanja masyarakat juga tidak berkurang, justru bertambah seiring mendekatnya Idul Fitri.

Spirit Berwirausaha

Alangkah lebih baiknya semangat berwirausaha ini tidak hanya di bulan ramadhan saja, tapi mampu berkembang lagi di bulan-bulan lainnya, mengingat ekonomi umat saat ini masih tergolong lemah. Diharapkan seluruh masyarakat dapat terlibat dalam berwirausaha, yang perlahan mampu mewujudkan kesejahteraan ekonomi umat.

Untuk mewujudkan kesejahteraan ekonomi umat tersebut, perlu dukungan khusus dari pemerintah terhadap pengelolaan pasar terkait produk-produk dalam negeri, sehingga mampu meminimalisir aktifitas impor yang masih membudaya di Indonesia. Saatnya kebangkitan umat turut mewarnai negeri ini.

Harapannya, kita tidak hanya mengandalkan pemerintah saja dalam mengatasi permasalahan ekonomi umat yang sedang terpuruk. Namun perlu adanya usaha dari masyarakat sendiri dalam mengangkat derajat ekonominya, karena hidup butuh pengorbanan dan kreatifitas, jadi tak hanya menunggu saja. Semoga dengan seiring berkembangnya entrepreneurship, maka dapat membangkitkan kembali ekonomi umat. Aamiin.

Share