Minggu11232014

Last update12:00:00 AM

Back Opini | Tantangan Baru Ledakan Lansia

Tantangan Baru Ledakan Lansia

Haryono Suyono, Ketua Umum DNIKS

Akhir minggu ini, tepatnya 29 Mei 2010, kita akan memperingati Hari Lansia Nasional untuk tahun 2010. Peringatan kali ini, kalau tidak dipersiapkan dengan baik, akan berjalan sepi-sepi saja tanpa ada geregetnya yang menarik. Padahal, dunia dan bangsa ini sedang dilanda meningkatnya lansia akibat perubahan struktur penduduk karena program keluarga berencana (KB) dan kesehatan yang berhasil baik.

Menurut data yang dikeluarkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), melalui lembaga kependudukan dunia UNFPA, jumlah penduduk lansia, yaitu usia 60 tahun atau lebih, pada tahun 2009 telah mencapai jumlah 737 juta jiwa. Dari jumlah tersebut sekitar dua pertiga tinggal di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia. Apabila kondisi kesehatan dan kesertaan KB tetap seperti dewasa ini, diproyeksikan bahwa pada tahun 2050 jumlah penduduk di atas usia 60 tahun akan mencapai sekitar 2 miliar jiwa. Pada saat itu jumlah penduduk lansia akan melampaui jumlah penduduk muda di bawah usia 15 tahun atau usia 0-14 tahun.

Dewasa ini untuk setiap 9 orang penduduk dunia, ada seorang penduduknya yang berusia di atas 60 tahun. Perkembangan penduduk lansia itu, juga di Indonesia, melaju dengan sangat cepat. Pada tahun 2050, untuk setiap 5 orang penduduk dunia, ada satu orang berusia di atas 60 tahun. Pada saat itu pun sebagian besar adalah penduduk dari negara-negara berkembang. Keadaan dunia pada tahun 2050 sudah dialami oleh negara-negara Eropa yang mempunyai penduduk usia tua.

Penduduk lansia di banyak negara berkembang mengalami perubahan yang sangat drastis karena terjadinya dalam waktu yang sangat singkat. Negara maju mengalami perubahan struktur dalam 100 tahun atau lebih. Negara-negara berkembang mengalami perubahan struktur itu dalam waktu satu generasi. Secara global pada tahun 1950 setiap satu lansia di atas usia 65 tahun didukung oleh sekitar 12 orang muda, yaitu usia 15-64 tahun. Pada tahun 2009 dukungan itu menurun menjadi hanya 9 orang. Pada tahun 2050 diproyeksikan bahwa setiap penduduk usia di atas 65 tahun hanya didukung oleh 4 penduduk usia 15-64 tahun saja.

Di negara maju, para pendukung itu bekerja dan bagi lansia yang tidak bekerja diberi jaminan dan berbagai fasilitas yang memadai. Karena itu, jumlah penduduk lansia laki-laki di negara maju yang masih tetap berada dalam angkatan kerja hanya sekitar 24 persen, sedangkan di negara-negara berkembang jumlahnya mencapai sekitar 47 persen atau hampir separonya.

Begitu juga dengan penduduk lansia perempuan. Di negara-negara maju jumlah penduduk perempuan yang masih tetap berada dalam angkatan kerja hanya sekitar 14 persen, sedangkan di negara-negara berkembang jumlah penduduk perempuan yang masih berada dalam angkatan kerja sekitar 24 persen. Pada umumnya penduduk perempuan tidak berada dalam angkatan kerja secara resmi dan tinggal di rumah yang tidak diperhitungkan sebagai angkatan kerja.

Dengan kemajuan zaman yang memungkinkan anak-anak segera bisa dengan mudah berpisah dari orangtuanya, ada sekitar 14% penduduk lansia tinggal sendirian, tidak dengan anak-anak atau istrinya lagi. Pada umumnya jumlah lansia laki-laki yang tinggal sendirian lebih kecil dibandingkan dengan jumlah perempuan yang tinggal sendirian. Di seluruh dunia ada sekitar 9% laki-laki tinggal sendirian dan ada sekitar 19% perempuan tinggal sendirian tanpa anak atau suaminya. Pada umumnya mereka tetap melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan biarpun tidak seaktif masa mudanya.

Di negara-negara berkembang seperti Indonesia keadaannya berbeda. Hampir tidak ada jaminan hari tua dari pemerintah atau lembaga asuransi karena penduduk umumnya tidak mempunyai asuransi hari tua. Karena itu, apabila dukungan anak dan kerabatnya berakhir, hampir pasti kualitas kehidupan lansia itu merosot drastis. Persentase penduduk lansia yang masih tetap bekerja untuk menyambung hidupnya relatif sangat tinggi biarpun kompensasi yang mereka terima jauh dari mencukupi untuk keperluan hidupnya.

Di samping itu, keadaan kesehatan para lansia di negara berkembang sangat berbeda dengan keadaan saudaranya di negara maju. Umumnya mereka dilahirkan dengan usia harapan hidup yang rendah, di bawah 50 tahun atau di bawah 60 tahun. Tetapi, karena perubahan struktur penduduk karena suksesnya program KB dan kesehatan, penduduk dengan usia harapan hidup yang aslinya rendah itu harus didongkrak menjadi bagian dari kumpulan penduduk dengan usia di atas 60 tahun. Kelompok ini menjadi bagian dari ongkos pemeliharaan kesehatan yang mahal.

Beban biaya pengobatan yang tinggi itu memengaruhi kesejahteraan lansia ada umumnya. Karena itu, masih banyak lansia yang terpaksa bekerja keras untuk menutup biaya hidup dan pengobatan yang tidak ringan. Pada Hari Lansia tahun ini kita berharap pemerintah mengambil langkah-langkah yang lebih berani memperpanjang usia pensiun, mempersiapkan silver college yang memberi kesempatan calon lansia mengikuti pelatihan untuk karier baru yang memberi jaminan hidup yang memadai. Di samping itu pemerintah dan swasta diharapkan bisa mempersiapkan lapangan kerja yang memberi kebanggaan agar lansia tidak harus mengubah dirinya menjadi peminta-minta yang perlu dikasihani.

Langkah-langkah ini memerlukan perhatian, sejak para calon lansia menginjak usia 50 tahun, agar cukup waktu untuk mempersiapkan diri menjadi penduduk lansia yang terhormat dan dapat mendukung kehidupan masa tua yang lebih sejahtera. Kegiatan lainnya adalah dalam bidang sosial kemasyarakatan, yaitu ikut mendidik generasi muda menyerap pengalaman masa lalu demi masa depan yang lebih baik. Pengembangan kemitraan itu bisa mengurangi ketegangan dan sekaligus menyerap pengalaman dan keberhasilan di masa lalu.***

Share