Kamis10192017

Last update05:00:00 AM

Back Pendidikan Program 5S Dijadikan Pendidikan Karakter

Program 5S Dijadikan Pendidikan Karakter

SDN 003 Batam Kota Ajarkan Siswa Lebih Mandiri

BATAM (HK) - SDN 003 Batam Kota menerapkan semboyan 5S berupa Senyum, Salam, Sapa, Santun, dan Sopon yang dijadikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) baik kepada guru maupun peserta didik. Hal ini dinilainya cukup bagus untuk menanamkan nilai-nilai karakter, serta mengajarkan anak didik lebih mandiri dan memiliki tanggungjawab pada diri sendiri.
"Program 5S ini telah saya terapkan sejak Oktober 2016 lalu, dan hasilnya cukup bagus, karena setiap anak didik masuk sekolah dan ketemu guru atau siapa saja selalu memberi senyum dan salam. Maka dari itu penguatan pendidikan karakter ini dengan membudayakan program 5S disamping program lainnya," ujar  Kepala Sekolah SDN 003 Batam Kota, Surmaningsih SPd, kepada Tim Pendidikan Haluan Kepri, Selasa (26/9).

Selain program 5S tadi, ada pula kegiatan pendidikan karakter ini berupa pendidikan budi pekerti setiap hari Jumat, serta mengharuskan anak didik mengumandangkan salawat Nabi, dan bacaan ayat-ayat pendek. Disamping itu juga kata Surmaningsih, setiap anak secara bergilir oleh guru kelas diminta membaca kultum dan memimpin doa.  Disamping itu juga setiap mata pelajaran PPKn untuk lebih ditingkatkan dalam nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air.  

"Tak hanya anak didik saja, bahkan guru juga kita minta memberikan contoh cara menyampaikan kultum singkat serta  memimpin doa yang baik dan setiap mengajar ditekankan untuk menerapkan pendidikan karakter. Karena dengan cara ini, sebandel apapun anak didik bila pendekatan melalui pendidikan karakter, serta diberi perhatian khusus pasti akan mengalami perubahan prilaku lebih baik lagi," jelasnya.

Meski demikian, Surmaningsih tak menapik bila di sekolahnya ada beberapa anak didik yang bermasalah, namun semua telah teratasi dengan cara melakukan pendekatan baik kepada anak didik itu sendiri maupun keluarganya melalui home visit dilakukan oleh guru kelas. "Pernah ada siswa kelas VI bermasalah pas mau US lagi, setelah kita melakukan pendekatan dan berkunjung ke rumahnya, ternyata masalah keluarga. Setelah kita carikan solusinya, akhirnya siswa tersebut bisa lulus sekolah dan mendapat nilai cukup bagus," katanya.

Maka dari itu dipandang Surmaningsih,  bahwa guru sangat perlu memiliki ilmu psikologi anak agar permasalahan pada siswa dapat teratasi dengan baik. "Kita tidak memiliki guru Bimbingan Konseling (BK), namun guru kelas kita jadikan sebagai BK juga. Untuk itu kita sarankan agar mudah mengatasi permasalahan anak ini, guru kelas perlu ada komunikasi dan pendekatan yang baik dengan orang tua murid," ucapnya. (men)

Share