Minggu10262014

Last update12:00:00 AM

Back Tajuk BBM Subsidi untuk Industri

BBM Subsidi untuk Industri

Aksi borong bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan selanjutnya dijual ke perusahaan industri masih terjadi di Kota Batam. Bisnis yang diharamkan pemerintah dan warga negeri ini makin marak saja. Jumlah pelaku bukan cenderung berkurang, tapi sebaliknya bertambah banyak.

Faktanya, dalam minggu ini saja polisi mulai rutin menggelar razia. Hasilnya, ada beberapa mobil yang terjaring.

Dalam praktiknya, modus yang dipakai oknum pengusaha saat memborong BBM subsidi masih sama dengan tempo dulu. Yaitu memodifikasi tangki mobil. Jika sebelumnya hanya mobil pribadi, kini tangki angkutan kota (angkot) pun mulai dimodifikasi. Angkot sepertinya menjadi media baru bagi si pengusaha hitam dalam meloloskan aksinya.

Angkot jurusan Jodoh-Nongsa, Batam, BP 7035 UK adalah salah satu contoh bahwa kasus ini benar terjadi. Aksi penyelewengan BBM bersubsidi tersebut, berhasil diungkap oleh jajaran Polsek Lubuk Baja pada Selasa (11/9), sekitar pukul 11.30 WIB, di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Sei Ladi, Baloi. Dalam razia itu diketahui bahwa angkot tersebut telah menyimpan BBM subsidi jenis solar sebanyak 941 liter.

Petugas dibuat geleng-geleng kepala. Pasalnya, solar sebanyak itu disimpan di dalam tangki yang dimodifikasi dan diletakkan persis di bawah jok angkot. Sebuah aksi tipu yang cukup lumayan hebat. Tentu saja. Siapa yang menduga jika jok yang biasa penumpang duduki ternyata di bawahnya terdapat BBM.

Bisnis membeli BBM subsidi lalu menjualnya ke perusahaan industri memang lagi booming. Betapa tidak. Keuntungannya sangat menjanjikan, bisa berlipat-lipat ganda.

Catatan BPH Migas, wilayah Kalimantan, Sumatera, Riau dan Batam adalah tertinggi terjadi penyelewengan BBM subsidi. Sedikitnya baru-baru ini ditemukan penyelewengan BBM bersubsidi sebanyak 350 ribu kiloliter di Palembang dan 170 ribu kiloliter di Kalimantan. Dalam aksi ini negara ditaksir merugi mencapai Rp119 miliar.

Pengamat menyatakan, kasus penyelewengan BBM bersubsidi dipicu tingginya perbedaan harga atau disparitas antara BBM bersubsidi dan BBM non-subsidi. Perbedaan harga itulah yang mendorong sejumlah oknum masyarakat melakukan penyelewengan, baik itu penimbunan, pengoplosan, maupun penjualan kembali kepada industri.

Ironinya, aksi penyelewengan BBM subsidi yang sudah jelas-jelas merugikan negara ini seolah sulit dibasmi. Indonesia yang memiliki personil keamanan lumayan besar di Asia, faktanya belum mampu menghentikan aksi penyelewengan.

Menilik kasus ini, barangkali pemerintah Indonesia perlu memikirkan menambah personil baru. Petugas atau aparat keamanan yang direkrut itu, nantinya khusus menjaga, mengawasi dan menindak oknum masyarakat yang menjual BBM subsidi tersebut kepada perusahaan industri. (Aldi)

Share