Sabtu09232017

Last update05:00:00 AM

Back Tanjungpinang BC masih Bungkam

BC masih Bungkam

Soal Pemilik 20 Ribu Mikol, Hasil Tangkapan di Pelabuhan Sribayintan, Kijang

TANJUNGPINANG (HK)- Pihak Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tanjungpinang masih bungkam untuk menyebut pemilik 20 ribu botol minuman beralkohol (mikol) golongan A dalam dua kontainer yang diamankan di Pelabuhan Seikolak, Sribayintan, Kijang, Bintan, Jumat (25/8) lalu.
Kepala KPPBC Tanjungpinang Duki Rusnadi ketika dikonfirmasi terkait pemilik mikol itu, ia enggan menyebutkan pemilik barang ilegal tersebut. Ia beralasan, pengungkapan kasus tersebut sudah diserahkan sepenuhnya ke pihak Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Pusat di Jakarta.

"Hasil pencegahan (penindakan) pengiriman dua kontainer berisi sekitar 20 ribu botol Mikol import yang dilakukan petugas KPBC Tanjungpinang itu sudah kita serahkan ke Dirjen Bea dan Cukai di Jakarta," kata Rusnadi, Selasa (12/9).

Duki beralasan, penyerahan atas penegahan dua kontainer Mikol tersebut ke Dirjen Bea dan Cukai, karena ada kaitannya status penindakan yang dilakukan Dirjen Bea dan Cukai pusat di Jakarta, baru-baru ini.

"Berdasarkan penyilidikan sementara, bahwa penindakan terhadap dua kontainer berisi ribuan Mikol import yang dilakukan KPPBC Tanjungpinang tersebut ada kaitannya dengan penindakan DJBC Jakarta baru-baru ini. Kita hanya menjalani perintah pimpinan," ucap Duki.

Ditanya tentang hasil pemeriksaan yang dilakukan pihaknya terhadap pemilik dua kontainer merek Miratus baru-baru ini, termasuk adanya informasi kalau kontainer tersebut pemiliknya warga Tanjungpinang, Duki kembali beralasan masih dalam tahap penyelidikan.

"Masih dalam tahap penyelidikan lebih lanjut," ucapnya.

Sebelumnya Humas KPPBC Tanjungpinang, Marlon menjelaskan, penindakan terhadap pengiriman ribuan Mikol import ilegal berbagai merek dalam dua kontainer dengan nomor MRTU 2021240 dan MRTU 2202910 ukuran 20 fit tersebut, berawal dari informasi yang diperoleh petugas intelijen KPPBC Kota Tanjungpinang, tanggal 25 dan 26 Agustus 2017.

"Dari pencacahan yang kita lakukan, jumlah minuman mengandung Etil Alkohol (MMA) ini sebanyak 20 ribu botol Mikol Import berbagai merek. Hal ini atas pelanggaran UU Nomor 39 tahun 2007 sebagai perubahan UU Nomor 11 tahun 1995 tentang cukai. Jadi Mikol tersebut tidak dilengkapi cukai," kata Marlon.

Sebagaimana diberitakan, Branch Manager Meratus Line Shipowners dan Operators Tanjungpinang, Purjiyanto Sumantri telah diperiksa penyidik Bea dan Cukai setempat. Ia diperiksa lantaran dua kontainer yang berisi mikol itu milik perusahaannya.

Namun Sumantri bungkam saat ditanya siapa produsen dan pemesan minuman keras tersebut, karena khawatir melanggar standar operasional prosedur pengiriman barang.

Ia menegaskan keterangan tersebut hanya dapat diberikan kepada penyidik Bea dan Cukai, karena menyangkut data perusahaan. "Barang itu akan dikirim ke Jakarta. Kontainer tersebut dipesan di Tanjungpinang melalui jasa ekspedisi pengiriman barang, Meratus Line," kata Sumantri seperti dikutip antaranewskepri.com, Selasa (5/9).

Sumantri menegaskan pihak perusahaan tidak mengetahui kontainer tersebut dipergunakan untuk menyelundupkan ribuan botol Miras golongan A yang dicecah Bea Cukai, Jumat 25 Agustus 2017 lalu di Pelabuhan Peti Kemas, Sungai Kelok, Kijang, Kabupaten Bintan.

"Kami hanya mengetahui kontainer Meratus dipergunakan untuk pengiriman ekspedisi," ucapnya.

"Saya sudah diminta keterangan, di-BAP sama Bea Cukai, mulai penyidik BC, kepala sampai satgasnya lah," katanya.

Dua kontainer dengan berat muatan kurang lebih 20 ton, dipindahkan dari lokasi pencegahan ke Gudang Penyimpanan barang sitaan Bea Cukai, Komplek Prumahan Bea Cukai, Kilometer 5, Jalan Jendral Gatot Subroto, Tanjungpinang, Kepri, Kamis (31/8) lalu.

Di lokasi pencacahan terdapat dua kontainer ekspedisi Meratus bernomor MRTU 2121240 dan MRTU 222910. Tidak satu pun pejabat KPPBC yang berani memberikan keterangan terkait pencegahan itu.

Beberapa elemen masyarakat Tanjungpinang dan Kepri minta KPPBC Tanjungpinang transparan dan menutup-nutupi dalam menangani kasus penangkapan minuman keras golongan A yang diduga diseludupkan dengan menggunakan dua kontainer baru-baru ini.

Elemen masyarakat juga tidak yakin petugas Bea dan Cukai tidak mampu mengungkap siapa pemilik miniman keras itu. Apalagi minuman keras dengan harga tinggi itu disimpan di kontainer.

Petugas Bea Cukai memiliki pengalaman dalam mengungkap kasus seperti tersebut sehingga publik sulit percaya jika pemilik minuman keras itu sampai sekarang tidak tersentuh hukum. Pengungkapan kasus minuman keras ini, menurutnya harus transparan jika ingin lembaga ini dipercayai masyarakat.

"Kalau yang dua kontainer ditangkap tapi tidak transparan tindakan hukumnya, bagaimana dengan penyelundupan barang ilegal yang lainnya? Kami ingatkan Bea dan Cukai untuk tidak bermain, karena masyarakat mengawasinya" ujar Zefri salah satu elemen masyatakat Tanjungpinang ini. (nel)

Share