Sabtu10252014

Last update12:00:00 AM

Back Tanjungpinang Satu Lagi Korban Asun Lapor Polisi

Satu Lagi Korban Asun Lapor Polisi

Penipuan Cek Kosong

TANJUNGPINANG (HK) - Satu korban penipuan cek kosong dengan tersangka Asun kembali melapor ke Polres Tanjungpinang. Hingga saat ini, korban berjumlah empat orang dan mengalami kerugian hingga miliaran rupiah.  

Kapolres Tanjungpinang AKBP Patar Gunawan melalui Kasatreskrim Polres Tanjungpinang, AKP Memo Ardian mengatakan hingga kini pihaknya telah menerima empat laporan warga yang menjadi korban penipuan bos properti, Asun.

Memo mengatakan, pihaknya langsung melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap Asun dan akan meminta keterangan dari ahli. Ia menghimbau agar masyarakat yang menjadi korban segera membuat laporan polisi.
"Masyarakat yang merasa pernah tertipu cek kosong juga, silahkan untuk melapor ke Satreskrim Polres Tanjungpinang," kata Memo, Senin (19/8).

Di tempat lain, Ahiang, salah satu korban, mengaku dirinya rugi sekitar Rp4 miliar. Kerugian tersebut dari pembelian 9 unit rumah dan 2 unit ruko di perumahan Metro Kepri I, KM 5, Tanjungpinang. Bahkan Ahiang sudah membayar lunas harga rumah tersebut. Namun karena kejadian ini, rumah dan ruko tersebut tak kunjung tuntas.  

"Selain itu sertifikat induk tanah tersebut yang digadaikan Asun di Bank, saya yang menebusnya. Setelah itu Asun masih membujuk saya agar menyerahkan sertifikat induk tersebut untuk dipecahkan dengan membuat pernyataan bahwa sertifikat yang dipecahkan akan diserahkan kepada saya," jelas Ahiang.

Namun kenyataannya, setelah sertifikat selesai dipecahkan oleh BPN Kota Tanjung Pinang, Asun mengingkari dan berusaha merebut kembali sertifikat di kantor BPN. Begitu pula dalam penanam modal, Ah Hiang diberi jaminan dengan pengikatan jual beli Gudang di KM 6, kenyataannya tidak ada. Ada juga pembelian ruko di KM 8 atas dengan pengikatan jual beli, kenyataannya ruko telah dijual kepada pihak lain.

Ditambahkanya, dirinya pernah melaporkan penipuan Asun di Polsek Tanjung Pinang Timur pada 5 November 2012 lalu di SPK Polsek Tanjungpinang Timur. Laporan tersebut dengan No. LP-B/151/XI/2012/Kepri/Res/SPK-Polsek Tpi Timur. Ia akan menanyakan kembali perkembangan penyelidikan perkaranya itu.

Penahanan Asun berdasarkan atas laporan penipuan cek kosong yang dilaporkan oleh Untung. Didampingi kuasa hukumnya Hendie Davitra, Untung meminta polisi agar penahanan Asun tidak ditangguhkan. Laporan yang dibuat Untung dengan nomor polisi LP No. STPL/426/K/VII/2013/Kepri/SPK-Res.TPI, tanggal 19 Juli 2013 lalu.

"Dalam hal ini saya telah dirugikan sekira Rp650 juta atas perbuatan tipu muslihat yang dilakukan Asun dengan cara menyerahkan 4 lembar cek kosong. Ternyata cek tersebut tidak bisa diuangkan, karena tidak ada dananya dan rekeningnya pun sudah ditutup," bebernya.

Hendie Davitra yang juga merupakan kuasa hukum Humaidi menambahkan bahwa kliennya yang melaporkan Asun di Polsek Bukit Bestari berdasarkan LP. No. STPL/419/VII/2013 tanggal 11 Juli 2013 dengan persangkaan yang sama yakni penipuan dengan menerbitkan dan menyerahkan cek kosong.

Hendie mengatakan, perbuatan Asun dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang berkelanjutan dengan niat dan modus perbuatan yang sama serta dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama terhadap beberapa korbannya atau gabungan beberapa perbuatan.

"Dalam kasus ini saya berharap penyidik tidak menunggu keseluruhan laporan itu masuk atau menggabungkannya dan melanjutkan masing-masing laporan secara terpisah (splitzing)”," ujarnya.

Dikatakannya, ia selaku kuasa hukum tiga korban yakni Ahiang, Untung dan Humaidi meminta polisi untuk tidak memberikan penangguhan penahanan kepada tersangka Asun. Hendie menilai Asun tidak memenuhi syarat untuk penangguhan, karena dikhawatirkan akan melarikan diri.

“Tindakan Penahanan dan penangguhan itu kewenangan penyidik berdasarkan undang-undang untuk kepentingan penyidikan berdasarkan bukti yang cukup. Kekhawatiran melarikan diri dan menghilangkan bukti atau mengulangi tindak pidana patut menjadi pertimbangan,” jelas Hendie.

Informasi yang di lapangan, banyak perumahan dengan nama Metro Kepri 1 sampai Metro Kepri 9 terancam bermasalah. Pasalnya, tidak ada di antara lokasi tersebut yang jelas sertifikat tanah dan izin mendirikan bangunan (IMB)nya. Lokasi paling parah adalah di belakang RSUP Provinsi Kepri, yakni Metro Kepri 4 yang dibangun oleh CV. Metal Indah yang beralamat di Jalan Batu Kucing Tanjungpinang. (cw72)

Share