Jumat12262014

Last update12:00:00 AM

Back Tanjungpinang Krisis Air di Tanjungpinang, Debit Air Waduk Sei Pulai Menipis

Krisis Air di Tanjungpinang, Debit Air Waduk Sei Pulai Menipis

TANJUNGPINANG (HK) - Ketersediaan air di Waduk Sei Pulai di KM 16 arah Kijang, Tanjungpinang mengalami penyusutan. Saat ini debit air di waduk tersebut tinggal 1,9 meter. Bila penuh, biasanya mencapai 4 meter.
Direktur PDAM Tirta Kepri, Abdul Kholik, saat dikonfirmasi, Minggu (6/10), menjelaskan, pihaknya menerapkan pengurangan penjadwalan pendistribusian serta pengoperasian sistem air baku. Hal itu terjadi karena hujan yang turun dalam beberapa hari ini hanya sebentar dan tidak merata. Sedangkan Waduk Sei Pulai merupakan waduk tadah hujan.

"Ketinggaian air di Waduk Sei Pulai hanya tinggal 1,9 meter dari kondisi penuh yang biasanya mencapai 4 meter lebih. Kita terpaksa menerapkan sistem pengelolaan air baku dan melakukan pengurangan penjadwalan pengoperasian," kata Abdul Kholik.

Ditambahkannya, untuk mengurangi beban Waduk Sei Pulai, pada awal 2014 mendatang Waduk Sei Gesek di Bintan diharapkan dapat dioperasikan. Sebab Waduk Sei Gesek akan menghasilkan sekitar 100 liter per detik.

"Sehingga produksi Waduk Sei Pulai bisa diistirahatkan 50 liter perdetik. Dan sekitar 4000 pelanggaan di wilayah Bintan Centre bisa dialihkan ke Waduk Sei Gesek. Sehingga bisa menjaga keseimbangan air dan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat," jelasnya lagi.

Sementara itu, anggota DPRD Kepri Rudy Chua mengatakan, kondisi ini mendapat keluhan dari masyarakat. Perdinstribusian air ke rumah-rumah warga juga menjadi terhambat. Air yang diterima juga keruh.

"Karena yang merasakan kekeringan ini di daerah jalur akhir, seperti Mawar, Batu Hitam, Sei Jang, dan Tanjungunggat. Hal ini terjadi karena kondisi cuaca, karena kita tahu Waduk Sei Pulai merupakan waduk tadah hujan. Kesulitan air sudah mulai dirasakan sejak seminggu kebelakangan," ujar Rudy.

Rudy juga menambahkan, walau akan ada pengoperasian Waduk Sei Gesek dan RO Batu Hitam yang akan beroperasi 2014, namun hanya mampu bertahan selama dua tahun. Persedian juga belum mampu mencukupi kebutuhan air masyarakat di Tanjungpinang yang jumlahnya 55 ribu kepala keluarga.

"Untuk mengatasinya saat ini tidak ada solusi. Karena yang diharapkan untuk mengurangi beban tersebut adalah beroperasinya Sei Gesek dan RO Batu Hitam. Sedangkan untuk jangka panjang adalah pembangunan galangan estuaridam (bendungan air laut menjadi air tawar) di Dompak," terang Rudy.

Ia mengharapkan pembangunan Waduk Galang Batang yang saat ini terkendala masalah pembebesan lahan bisa segera terlaksana. Sebab pembangunnan ini sudah dianggarkan sekitar Rp30 miliar melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU). "Karena terkendala masalah pembebasan lahan, anggaran dikembalikan lagi ke negara," jelasnya lagi.

Rudy mengatakan, saat ini Kementerian PU bersedia menganggarkan kembali sebesar Rp30 miliar pada tahun 2014 mendatang. Sekarang tergantung kesiapan dari semua stakeholder untuk masalah pembebasan lahan tersebut.

"Sesuai kajian, apabila pembangunan waduk Galang Batang dapat beroperasi, maka akan menghasilkan 400 liter per detik, Hal ini akan dapat mengatasi krisis air di Tanjungpinang," tutup Rudy. (sut)

Share