Warga Muslim Myanmar Dapat Mawar Putih dari Umat Buddh
UMAT Buddha memberikan mawar putih kepada seorang anak lelaki Muslim.Foto: AFP
YANGON (HK) - Umat Buddha di Myanmar membagikan mawar putih kepada umat Islam yang akan menunaikan shalat Id pada Rabu (5/6/2019).
Momen ini menjadi sebuah aksi solidaritas yang langka di sebuah negara, di mana Islam kerap difitnah.
Diwartakan kantor berita AFP, relawan berbaris di luar masjid Dargah di Yangon timur. Mereka memberikan bunga itu kepada jamaah yang merayakan Idul Fitri.
Aksi tersebut dilakukan beberapa pekan setelah kelompok garis keras mencoba untuk meniadakan shalat selama Ramadhan.
Seorang kurir bernama Tin Myint mengatakan, gerakan pembagian mawar putih telah membangkitkan semangat di antara komunitas Muslim di Myanmar.
“Beberapa umat Buddha benar-benar membantu melindungi kami,” katanya.
Kampanye mawar putih telah dimulai pada tiga pekan lalu ketika gerombolan 200 orang ultra-nasionalis turun ke tiga tempat pelaksanaan shalat selama Ramadhan di Yangon.
Kelompok itu meminta jamaah untuk berhenti melakukan shalat. Pada hari-hari berikutnya, polisi memberikan perlindungan kepada jamaah.
Tentu hal tersebut mengejutkan, terlebih ketika polisi mengeluarkan surat perintah penangkapan kepada pemimpin kelompok garis keras.
“Mawar ini adlah peringatan bagi para ekstremis bahwa banyak orang di Myanmar tidak sependapat dengan pandangan mereka yang tidak adil,” kata Thet Swe Win.
Ada 3-4 persen umat Islam di Myanmar, negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha. Meski demikian, Islam telah berakar di negara itu selema berabad-abad.
Tindakan keras militer pada 2017 yang brutal memaksa sekitar 740.000 Muslim Rohingya melarikan diri ke negara tetangga, Bangladesh.
Para kritikus menilai, umat Islam secara khusus menjadi sasaran perubahan hukum Myanmar pada 2015, yang sangat membatasi pernikahan antaragama.
Sekretaris Gabungan Dewan Urusan Agama Islam Myanmar, Wunna Shwe, mengatakan kampanye mawar putih sungguh membantu warga setelah bertahun-tahun mengalami degradasi hak.
Dia menilai masalah yang timbur diciptakan hanya untuk tujuan politik semata.
“Kami dulu hidup seperti saudara dan saudari satu sama lain (bersama umat Buddha),” katanya.(sumber:kompas)